Israel memperluas operasi militernya di Tepi Barat, mencakup Tulkarem dan Lembah Yordan utara. Warga Palestina mengatakan kehidupan mereka lumpuh akibat pengerahan pasukan darat, penerapan jam malam, penghancuran rumah, dan pengusiran ribuan orang.
Pada Selasa (05/2), pasukan Israel mengerahkan ratusan tentara ke Tulkarem, memberlakukan jam malam total, dan menyerang kamp pengungsi setempat. Sejumlah rumah dihancurkan, sementara drone Israel melancarkan serangan udara ke Tammoun, kota dekat Tubas yang menghadap ke Lembah Yordan.
Eskalasi ini menyusul serangan seorang warga Palestina ke pangkalan militer Israel di dekat pos pemeriksaan Tayaseer. Penyerang membunuh dua tentara Israel dan melukai delapan lainnya sebelum ditembak mati.
Setelah serangan itu, Israel memperketat penutupan pos pemeriksaan di seluruh Tepi Barat, membatasi pergerakan di kota-kota seperti Nablus dan Ramallah, serta menyebabkan keterlambatan perjalanan.
Operasi militer yang telah dilakukan Israel di kota-kota Palestina di Tepi Barat dan Al-Quds sejak pertengahan Januari ini disebut Operation Iron Wall. Hingga saat ini, operasi tersebut telah membunuh 29 warga Palestina serta mengusir ribuan orang. Pemerintah setempat melaporkan bahwa 90% warga kamp pengungsi Jenin dan 75% di Tulkarem telah dipaksa mengungsi akibat serangan Israel.
Pada Senin (03/2), tentara Israel meledakkan satu blok perumahan berisi 21 gedung apartemen di Jenin, menggunakan strategi “sabuk api” yang mirip dengan serangan mereka di Gaza sejak 7 Oktober.
Di Tulkarem, kehidupan lumpuh total. Mu’men Hamed, anggota asosiasi budaya lokal yang kini berfokus pada bantuan kemanusiaan, menggambarkan kota sebagai daerah tanpa aktivitas, dengan toko dan sekolah tutup serta jalanan kosong kecuali oleh tentara Israel.
Banyak keluarga yang terpaksa mengungsi dari Kamp Pengungsi Tulkarem. Sepuluh organisasi lokal berusaha menyediakan tempat tinggal dan kebutuhan dasar, namun kesulitan menemukan cukup apartemen dan memenuhi kebutuhan mereka, terutama anak-anak, lansia, dan orang sakit.
Tammoun, kota yang biasanya ramai sebagai pusat perdagangan Lembah Yordan utara, kini menjadi kota mati akibat serangan Israel. Wali Kota Sameer Bisharat melaporkan bahwa jam malam diterapkan dengan ketat, bahkan ditambah serangan udara peringatan untuk mencegah warga keluar rumah.
Petani tidak bisa mengakses ladang mereka, dan pasar utama yang melayani kota-kota sekitar terhenti. Ambulans pun memerlukan izin dari tentara Israel untuk bergerak, yang bisa memakan waktu berjam-jam. Bantuan makanan dan kebutuhan dasar sulit disalurkan karena pembatasan pergerakan.
Israel juga menghancurkan tembok sekolah dan mengusir 20 keluarga dari rumah mereka di Tammoun. Mereka kini ditampung di rumah lain, namun dikhawatirkan lebih banyak keluarga akan terpaksa mengungsi dalam waktu dekat.
Serangan di Tepi Barat terjadi saat Israel dan Hamas memulai putaran kedua pembicaraan gencatan senjata di Gaza, sementara Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bertemu dengan Presiden AS Donald Trump di Washington. Analis berspekulasi bahwa AS mungkin memberikan lampu hijau bagi Israel untuk meningkatkan serangan di Tepi Barat, sebagai bagian dari rencana aneksasi penuh, dengan imbalan Israel menyetujui gencatan senjata di Gaza.
Dalam konferensi pers, Trump menghindari komentar langsung mengenai potensi aneksasi Tepi Barat oleh Israel, tetapi menyebut Israel “sangat kecil dibandingkan dengan wilayah Timur Tengah lainnya,” mengisyaratkan bahwa langkah tersebut bisa dipertimbangkan.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di sini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








