Jumlah tawanan Palestina di penjara Israel telah mencapai lebih dari 9.500 tawanan, menurut data terbaru yang diterbitkan oleh lembaga Hak Tawanan Palestina pada hari Selasa (17/4).
Komisi Urusan Tawanan dan Mantan Tawanan PLO, Klub Tawanan, dan Asosiasi Dukungan Tawanan dan Hak Asasi Manusia Addameer, merilis data tersebut dalam pernyataan bersama pada Selasa, menjelang Hari Tawanan Palestina, yang jatuh pada Rabu, 17 April.
Menurut pernyataan itu, terdapat 80 perempuan dan lebih dari 200 anak-anak yang berada di penjara Megiddo, Ofer, dan Damon. Namun, jumlah tersebut belum termasuk tawanan dari Jalur Gaza, yang menjadi sasaran penculikan.
Pernyataan itu mengatakan bahwa jumlah tahanan administratif yang ditahan tanpa dakwaan telah meningkat menjadi lebih dari 3.660 orang pada awal April ini, termasuk 22 perempuan dan lebih dari 40 anak-anak.
Jumlah jurnalis yang ditawan juga mencapai 56 orang, termasuk 45 orang yang ditangkap setelah tanggal 7 Oktober, dengan empat di antaranya adalah perempuan, menurut sumber yang sama.
Pernyataan tersebut mengindikasikan bahwa Israel juga memenjarakan ratusan tahanan yang sakit dan terluka dan jumlah mereka terus meningkat setelah tanggal 7 Oktober sebagai akibat dari kejahatan, kebijakan, dan tindakan pembalasan sistematis yang dilakukan oleh Pemerintah Israel terhadap para tahanan, terutama penyiksaan dan tindakan medis,” menurut pernyataan itu.
Ratusan tawanan Palestina telah dipenjara selama lebih dari 21 tahun; kebanyakan dari mereka menjalani hukuman seumur hidup.
Menurut Klub Tawanan, ada 600 tawanan yang menjalani hukuman seumur hidup (99 tahun menurut hukum militer Israel) satu kali atau beberapa kali, termasuk Abdullah Barghouti, yang telah dijatuhi hukuman 67 hukuman seumur hidup.
Data menunjukkan bahwa 252 tawanan telah meninggal di dalam penjara sejak tahun 1967, termasuk 16 tawanan setelah 7 Oktober, tidak termasuk tawanan dari Jalur Gaza.
Pihak Israel juga menahan 27 jenazah dan menolak menyerahkan mereka kepada keluarga mereka. Jenazah tawanan yang tertua adalah Anis Dawla, yang meninggal di penjara Ashkelon pada tahun 1980, menurut pernyataan itu.
Selain itu, terkait dengan para tawanan yang telah dibebaskan, banyak yang melaporkan perlakuan buruk yang dilakukan oleh Israel selama di penjara.
“Ini termasuk pemukulan sambil disuruh berbaring di atas kasur tipis yang berada di atas puing-puing selama berjam-jam tanpa makanan, air, atau akses ke toilet, dengan kaki dan tangan yang diikat plastik,” demikian temuan laporan tersebut.
“Beberapa tawanan melaporkan dipaksa masuk ke dalam kandang dan diserang oleh anjing. Beberapa tahanan yang dibebaskan, termasuk seorang anak, mengalami luka gigitan anjing di tubuhnya”.
Laporan dari UNRWA menambahkan bahwa beberapa tawanan diancam dengan perpanjangan waktu penahanan, cedera atau kematian anggota keluarga jika mereka tidak memberikan informasi yang mereka inginkan kepada pihak berwenang.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








