Pemerintah Israel mengatakan pada Ahad bahwa mereka mengharapkan pembebasan seluruh sandera yang masih hidup di Gaza pada Senin pagi, sebagai bagian dari implementasi kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hamas yang kini mulai berlaku.
Juru bicara pemerintah, Shosh Bedrosian, menyampaikan bahwa Israel bersiap menerima 20 sandera hidup yang akan diserahkan kepada Palang Merah Internasional untuk pemeriksaan medis awal di pangkalan militer Israel di Gaza sebelum dipulangkan kepada keluarga mereka. Israel juga akan menerima 28 jenazah tahanan yang dipastikan telah meninggal di Gaza.
Setelah seluruh sandera dikonfirmasi tiba di wilayah Palestina Terjajah (Israel), Otoritas Israel akan membebaskan 2.000 tawanan Palestina, termasuk 250 terpidana seumur hidup dan 1.700 tawanan lainnya yang ditahan sejak Oktober 2023. Namun, pemimpin Palestina yang dipenjara, Marwan Barghouti, tidak termasuk dalam daftar pembebasan. Di Tepi Barat, keluarga para tawanan diimbau agar tidak menggelar perayaan atau berbicara kepada media.
Kesepakatan gencatan senjata ini merupakan tahap pertama dari rencana 20 poin Presiden AS Donald Trump yang diumumkan pada 29 September, mencakup penghentian dua tahun agresi di Gaza, pertukaran tawanan, serta penarikan bertahap pasukan Israel dari seluruh wilayah Jalur Gaza. Tahap pertama mulai berlaku pada Jumat lalu.
Tahap kedua dari rencana ini akan mencakup pembentukan mekanisme pemerintahan baru di Gaza tanpa partisipasi Hamas, penempatan pasukan multinasional, dan pelucutan senjata Hamas.
Dalam pidato televisi Minggu malam, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyebut pembebasan tahanan sebagai “momen emosional dan awal dari jalan baru menuju pemulihan dan persatuan nasional.” Namun, sebagian keluarga tahanan menilai Netanyahu lebih mengutamakan kemenangan militer ketimbang keselamatan warga yang ditahan.
Sementara itu, Presiden Donald Trump berangkat ke Israel pada Ahad untuk menghadiri KTT Gaza di Sharm el-Sheikh, Mesir, bersama para pemimpin dari lebih 20 negara, termasuk Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres, Raja Abdullah II dari Yordania, dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. KTT tersebut disebut akan menjadi momen “bersejarah” yang diharapkan menandai penandatanganan dokumen resmi penghentian perang di Jalur Gaza.
Sebagai bagian dari kesepakatan, pasukan Israel telah menarik diri dari sebagian wilayah Gaza, termasuk Kota Gaza dan daerah utara, meskipun masih menguasai lebih dari separuh wilayah. Warga Palestina yang kembali ke daerah mereka menemukan pemandangan yang hancur total, “tanah kosong” tempat rumah-rumah mereka dulu berdiri.
Bantuan kemanusiaan mulai mengalir masuk, meski sangat terbatas. Truk-truk yang membawa makanan, tenda, dan peralatan medis tiba pada Ahad, namun distribusinya berjalan lambat di tengah kondisi masyarakat yang telah kehilangan tabungan, akses bank, dan sepenuhnya bergantung pada bantuan untuk bertahan hidup.
Sejak Oktober 2023, serangan Israel telah membunuh lebih dari 67.600 warga Palestina, sebagian besar perempuan dan anak-anak, serta menjadikan Jalur Gaza nyaris tidak layak huni.
Sumber:
MEMO, Al Jazeera








