Israel dilaporkan tengah mempersiapkan “konfrontasi laut yang kompleks” menghadapi Global Sumud Flotilla (GSF), misi sipil internasional yang membawa bantuan kemanusiaan ke Gaza yang terkepung. Armada ini beranggotakan ratusan aktivis dari 44 negara dengan 40–50 kapal yang berangkat dari Spanyol, Tunisia, Italia, dan Yunani, jumlah ini jauh lebih besar dibandingkan flotilla sebelumnya yang hanya satu kapal.
Menjelang kedatangan flotilla, serangan berulang menggunakan drone menghantam kapal-kapal di lepas pantai Yunani pada Selasa (23/9) malam hingga Rabu (24/9) dini hari. Tercatat setidaknya 13 ledakan, 15 kali serangan drone rendah, serta jatuhan benda tak dikenal telah merusak komunikasi dan menimbulkan kerusakan serius pada salah satu kapal. Meski demikian, tidak ada korban jiwa dan pelayaran kembali dilanjutkan.
Israel menolak mengizinkan flotilla memasuki Gaza dengan dalih melanggar “zona tempur” dan hukum internasional. Sebaliknya, para aktivis menegaskan misi ini sepenuhnya damai, non-kekerasan, dan bertujuan menyoroti bencana kemanusiaan di Gaza akibat blokade Israel. Penyelenggara juga menolak tawaran Israel untuk menurunkan bantuan di Ashkelon.
Pihak flotilla mengecam serangan udara dan gangguan komunikasi sebagai bentuk intimidasi terhadap misi kemanusiaan. Dalam pernyataannya, Global Sumud Flotilla (GSF) menegaskan serangan ini melanggar hukum internasional serta Konvensi Jenewa, dan mendesak Majelis Umum PBB untuk segera membahas pelanggaran tersebut.
Israel berusaha menggambarkan misi ini sebagai “flotilla Hamas”, tuduhan yang dibantah keras oleh tim hukum GSF. Menurut pengacara Maroko Abdelhak Benkadi, Israel tengah menciptakan dalih untuk melegitimasi agresi dan intervensi barbar.
Flotilla ini didukung berbagai tokoh dunia, termasuk aktivis iklim Greta Thunberg dan aktor Liam Cunningham. Sebelumnya, dua upaya serupa pada Juni dan Juli juga digagalkan Israel. Meski menghadapi ancaman, para aktivis menegaskan akan terus berlayar menuju Gaza sebagai simbol solidaritas dan perlawanan terhadap pengepungan yang menyebabkan kelaparan massal di wilayah tersebut.
Sumber:
The New Arab








