Geng pemukim Israel pada Minggu pagi (25/6) membakar perkebunan di kota Palestina Turmusaya, utara Ramallah, hanya beberapa hari setelah desa itu menjadi sasaran amukan pemukim yang menyebabkan setidaknya 30 rumah dan 70 kendaraan terbakar. Lebih dari 400 pemukim menyerbu desa itu sejak Rabu (21/6) di bawah perlindungan tentara Israel, menewaskan seorang warga Palestina, Omar Jabara Abu Al-Qattin (25).
Serangan pemukim Israel di desa-desa Palestina semakin sering terjadi terutama pada penduduk Tepi Barat. Pada Sabtu (24/6), puluhan pemukim menyerbu beberapa desa Tepi Barat. Mereka menyerang rumah-rumah warga Palestina dalam aksi yang mereka sebut sebagai “pogrom”. Sekelompok pemukim mengamuk di Desa Umm Safa, Tepi Barat, meneror warga Palestina di sana. Rekaman video dari serangan itu telah beredar secara online yang menunjukkan gerombolan pemukim berkeliling menembakkan peluru ke arah rumah-rumah Palestina.
Serangan terbaru ini telah memasuki hari kelima berturut-turut terhadap desa-desa Palestina di Tepi Barat. Outlet media Palestina Arab48 mengatakan bahwa setidaknya 10 rumah di Umm Safa dan tujuh kendaraan telah hancur. Menurut jurnalis TV Palestina Mohammed Radhi, para pemukim melakukan serangan dengan perlindungan tentara Israel seperti yang selalu terjadi.
Menyusul serangan terakhir, Panglima Militer Israel Herzi Halevi, Kepala Intelijen Israel di Shin Bet, Ronen Bar, dan Komisaris Polisi Israel Kobi Shabtai mengeluarkan pernyataan bersama yang mengecam keras rangkaian serangan pemukim baru-baru ini terhadap warga Palestina di Tepi Barat. Mereka mengecap para pelaku sebagai “terorisme nasionalis yang sesungguhnya”.
Militer Israel mengakui telah “gagal” menghentikan kerusuhan pemukim dalam beberapa hari terakhir. Pemukim Israel juga menyerang jaringan listrik, menyebabkan pemadaman listrik di beberapa desa Palestina termasuk Umm Safa, Deir Sudan, Ajjoul, dan Attarah.
Pada tahun lalu, dihadapkan dengan peningkatan perlawanan bersenjata di Tepi Barat, Israel secara terbuka memprakarsai kampanye Break the Wave, melancarkan serangan militer hampir setiap hari di Tepi Barat dan meningkatkan penembakan dan penangkapan massal. Itulah sebabnya tahun lalu menjadi tahun yang paling mematikan bagi warga Palestina di wilayah pendudukan sejak Intifada Kedua dua dekade lalu.
Namun, tahun yang mematikan itu berlanjut hingga kini. Sejak awal 2023, pasukan dan pemukim Israel telah membunuh setidaknya 171 warga Palestina, termasuk 26 anak-anak. Sebanyak 135 kematian telah dicatat di Tepi Barat dan Al-Quds Timur dan 36 lainnya dibunuh di Jalur Gaza.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








