Israel kembali menyebarkan selebaran di Jalur Gaza yang berisi ancaman pemindahan paksa dan pesan intimidasi terhadap warga Palestina. Dalam selebaran tersebut, Israel meminta warga Gaza untuk bekerja sama atau menghadapi konsekuensi berupa pengusiran, bahkan pemusnahan.
Selebaran ini memuat gambar Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden AS Donald Trump, serta kutipan ayat-ayat Al-Qur’an yang dimanipulasi untuk memengaruhi psikologis penduduk Gaza. Salah satu pernyataan yang paling mengkhawatirkan dalam selebaran itu berbunyi, “Peta dunia tidak akan berubah jika seluruh penduduk Gaza lenyap.”
Lebih lanjut, selebaran itu mengklaim bahwa Palestina telah ditinggalkan sendirian dan tidak akan mendapat simpati dari siapa pun, “Tidak ada yang peduli dengan Gaza. Amerika maupun Eropa tidak memedulikan kalian. Bahkan negara-negara Arab yang sekarang menjadi sekutu kami hanya memberikan kalian kain kafan, sementara mereka memberi kami uang dan senjata.
Para aktivis dan warga Palestina melihat selebaran ini sebagai bagian dari perang psikologis Israel untuk menanamkan ketakutan dan memecah belah penduduk Gaza. Pemimpin Euro-Med Human Rights Monitor, Ramy Abdu, mengecam tindakan ini dengan menyebutnya sebagai “pesan teror yang jelas dari militer Israel kepada warga Gaza.”
Menurut Jehad Abusalim, Direktur Eksekutif Institute for Palestine Studies, teks dalam selebaran ini adalah pengakuan terbuka atas kejahatan perang, termasuk ancaman genosida, pembersihan etnis, dan pemindahan paksa.
Israel telah berulang kali menggunakan taktik ini, terutama setelah mereka memutus jaringan telekomunikasi di Gaza. Bahkan, beberapa jam sebelum gencatan senjata mulai berlaku, Israel kembali menyebarkan selebaran dengan gambar sebuah keluarga Palestina yang duduk di atas puing-puing rumah mereka, disertai tulisan, “Apakah kemenangan sudah di tangan ataukah belum?
Ancaman dalam selebaran ini semakin menguatkan spekulasi tentang rencana pemindahan paksa yang disebut sebagai “Rencana Wajib Trump”*. Dalam selebaran itu tertulis: “Setelah peristiwa yang terjadi, gencatan senjata sementara, dan sebelum implementasi rencana wajib Trump—yang akan memaksakan pemindahan paksa kepada kalian, terlepas dari apakah kalian menerimanya atau tidak—kami membuat satu permintaan terakhir bagi mereka yang ingin menerima bantuan dengan bekerja sama dengan kami.”
Trump sendiri pernah berulang kali menyatakan bahwa AS akan “mengambil alih” Gaza dan membersihkannya secara etnis untuk mengubahnya menjadi *”Riviera Timur Tengah”*. Namun, rencana tersebut mendapat penolakan keras dari dunia Arab dan komunitas internasional, terutama karena berupaya menghapus hak warga Palestina untuk kembali ke tanah mereka sendiri.
Di tengah kecaman global, utusan Timur Tengah AS, Steven Witkoff, berusaha meredakan kekhawatiran terkait rencana ini. Dalam sebuah konferensi di Miami, ia mengatakan bahwa ide tersebut bukanlah tentang “pengusiran”, melainkan menawarkan warga Palestina kesempatan untuk menetap di tempat yang lebih baik dengan prospek ekonomi yang lebih menjanjikan.
Sejak Oktober 2023, Israel telah membunuh lebih dari 62.000 warga Palestina, mayoritas perempuan dan anak-anak, serta melukai lebih dari 115.000 orang. Jutaan lainnya telah mengungsi akibat agresi yang disebut banyak pihak sebagai genosida.
Penyebaran selebaran ini semakin menegaskan strategi Israel untuk menanamkan ketakutan, mendorong pengusiran, dan mengisolasi Gaza dari dukungan dunia. Namun, warga Gaza tetap bertahan, meski harus menghadapi tekanan militer, ekonomi, dan psikologis yang semakin berat setiap harinya.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di sini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








