Pendudukan Israel menggunakan kelaparan sebagai senjata perang setelah merebut kaleng susu formula bayi dari dokter AS dalam perjalanan ke Gaza, menurut sebuah laporan yang diterbitkan pada Rabu (02/07), Anadolu melaporkan. Laporan itu muncul ketika kelompok-kelompok bantuan dan profesional medis menemukan peningkatan kematian anak akibat kekurangan gizi di daerah kantong Palestina yang terkepung.
Pada akhir Juni, seorang dokter Amerika yang bersiap untuk memasuki Gaza dalam misi kemanusiaan telah mengemas susu formula, kain kasa, dan pasokan medis. Akan tetapi, setelah tiba di Jembatan Allenby untuk menyeberang dari Yordania ke Tepi Barat, pasukan Israel menyita susu formula, media Le Monde melaporkan.
“Susu formula bayi disita,” kata ahli bedah Palestina-Jerman Diana Nazzal, yang mengoordinasikan konvoi, kepada harian itu. “Apa penjelasan lain yang ada jika bukan karena kelaparan digunakan sebagai senjata perang dalam genosida yang sedang berlangsung di Gaza?” Nazzal mengatakan dalam sebuah wawancara eksklusif dengan Le Monde.
Petugas kesehatan setempat mengatakan susu formula bayi, terutama jenis khusus untuk bayi prematur atau tidak toleran laktosa, tetap sangat langka di Gaza, sementara malnutrisi yang meluas membuat banyak ibu tidak bisa memberi ASI.
Koordinator Kegiatan Pemerintah Angkatan Darat Israel di Wilayah (COGAT) mengatakan telah memfasilitasi pengiriman lebih dari 1.000 metrik ton makanan bayi sejak 19 Mei, ketika blokade yang mencekik sedikit meregang. Namun, dokter di lapangan memperingatkan bahwa persediaan masih belum mencukupi. Ahmad al-Farra, kepala pediatri di Rumah Sakit Nasser di Khan Yunis, mengatakan pada bulan Juni bahwa stok formula khusus hampir habis.
Sementara pengiriman terbatas telah tiba dari LSM Rahma yang berbasis di AS, dua bayi meninggal di rumah sakit pada akhir Juni karena kelaparan dan kurangnya perawatan, menurut kantor berita Palestina WAFA. Sementara itu, Kementerian Kesehatan Gaza memperingatkan bahwa antara Maret hingga pertengahan Mei, sebanyak 57 anak meninggal karena kekurangan gizi. Peringatan tersebut turut digaungkan oleh WHO.
Akses untuk dokter asing juga telah diperketat. Ahli bedah ortopedi Inggris Graeme Groom mengatakan bahwa pada bulan Mei, dia tidak diizinkan untuk membawa apa pun ke Gaza untuk pertama kalinya dalam dua tahun, termasuk alat bedah kritis. “Saya melihat bayi yang hanya kulit dan tulang,” katanya.
Dokter Amerika Thaer Ahmad, yang telah menghadapi penolakan berulang kali dari COGAT meskipun aplikasinya telah disetujui WHO, mengatakan bahwa pembatasan Israel telah menyebabkan “runtuhnya peringkat lembaga kesehatan dan pendidikan Palestina.”
“Buka suara berarti mengambil risiko tidak bisa kembali ke Gaza,” kata dokter umum Prancis Catherine Le Scolan-Quere. “Tetapi sikap diam berarti membiarkan warga Gaza terbunuh dalam senyap.”
Sumber: https://www.#/20250702-israel-restricts-baby-formula-medical-access-into-gaza-amid-child-hunger-crisis-report/








