Pada 18 Oktober 2022, pasukan Israel dengan pakaian sipil menyerbu sebuah rumah di lingkungan Beit Hanina di Al-Quds (Yerusalem), menangkap remaja Palestina Shadi Khoury (16). Pada saat yang sama, sebuah pusat budaya lokal di Ramallah sedang membagikan poster tentang pertunjukan seniman dan komposer budaya Palestina terkemuka, Suheil Khoury yang akan diselenggarakan pada 17 November mendatang. Suheil Khoury adalah ayah Shadi dan Direktur Umum Konservatorium Musik Nasional Edward Said. Sekarang, alih-alih mempersiapkan acara besarnya, Suheil disibukkan dengan menentang sistem hukum yang curang untuk membebaskan putranya.
Shadi ditangkap dan diseret secara brutal keluar dari rumahnya oleh empat petugas Israel dan dimasukkan paksa ke dalam mobil polisi Israel. Ia bahkan tidak diperbolehkan untuk mengganti piyamanya. Jejak darah dari pemukulan menodai lantai ubin rumahnya. Ketika orang tua Shadi berusaha untuk campur tangan untuk melindungi anak laki-laki mereka, mereka didorong agar menjauh. Shadi kemudian ditolak aksesnya ke pengacara atau wali dewasa, melanggar hak dasarnya sebagai tawanan anak. Dua minggu setelah penangkapan, Shadi masih ditahan di Pusat Penahanan Maskubiya atau “kompleks Rusia” di Al-Quds. Tempat tersebut dikenal sebagai “rumah jagal” di antara para tawanan Palestina, karena kondisi yang keras di sana — terutama di sel terkenal bernomor 4.
Baca juga Al Maskobiya, ‘Rumah Jagal’ Bagi Rakyat Palestina
Teman-teman sekelas Shadi membuat kaos untuk menunjukkan solidaritas kepada Shadi. Mereka mengenakan kaos hitam polos dengan foto Shadi dan tagar dalam bahasa Arab yang bertuliskan, “Shadi adalah kebanggaan kami.” “Semua orang mencintainya,” kata Ilena (16), salah satu teman Shadi. “Biasanya kami tidak menyukai orang yang baru kami temui, tetapi semakin kami mengenalnya, semakin kami mencintainya.” Dalam rasa yang sama, banyak teman sekelas Shadi berbicara tentang cara Shadi menarik perhatian teman-temannya. “Saya merasa situasi Shadi membuka mata saya, siapa yang tahu siapa yang akan menjadi sasaran berikutnya? Bisa jadi saya, bisa jadi saudara perempuan saya, saudara laki-laki saya,” katanya.
Secara global, Israel adalah satu-satunya negara yang secara otomatis menuntut anak-anak di pengadilan militer. Sejak awal tahun, lebih dari 5.300 warga Palestina telah ditahan oleh militer Israel, termasuk 630 anak-anak, yang sebagian besar berasal dari Al-Quds. Hingga September, Israel telah menahan 132 anak Palestina berusia antara 12 dan 17 tahun dalam tahanan militer.
Tahun lalu, setidaknya 86 anak Palestina terbunuh, menjadikannya tahun paling mematikan bagi anak-anak Palestina sejak 2014. Lebih dari setengah dari mereka yang terbunuh adalah anak di bawah usia 12 tahun. Sejak awal tahun ini, hanya dalam sepuluh bulan, 41 anak-anak Palestina tewas; 28 tewas di Tepi Barat dan Yerusalem, sementara 13 lainnya tewas di Gaza selama serangan Agustus yang dijuluki Operasi Breaking Dawn.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








