Serangan yang sedang berlangsung terhadap Rumah Sakit al-Shifa sekali lagi membuat warga Palestina mengungsi dan mencari perlindungan.
Warga Palestina yang mengungsi dari kompleks medis mengatakan kepada Al Jazeera bahwa mereka menjadi sasaran penahanan yang memalukan yang berlangsung beberapa jam sebelum diperintahkan untuk pindah ke selatan.
Saleh Abu Sakran, seorang pria lanjut usia yang mengungsi di Rumah Sakit al-Shifa, mengatakan dia diperintahkan untuk melepas pakaiannya dan berlutut. “Pihak Israel menahan perempuan-perempuan di al-Shifa namun membawa kami ke gedung lain di dekatnya, tempat kami tinggal sampai malam,” katanya.
“Mereka mengambil identitas kami dan menyelidiki kami dan akhirnya mengembalikan kami ke al-Shifa. Mereka menahan beberapa pria. Kami semua disuruh mengikuti tank Israel sampai bundaran – dan kemudian kami dibebaskan.”
Seorang wanita Palestina mengatakan kepada Al Jazeera bahwa tentara Israel menembaki mereka meskipun mereka mengangkat kain putih. “Penjajah berbicara kepada kami dalam bahasa Inggris dan kami tidak memahaminya. Saya penderita diabetes dan saya tidak makan dan minum selama tiga hari.”
Sementara itu, wajah seorang anak bernama Saja Junaid yang berusia empat tahun mengalami luka bakar parah akibat serangan Israel terhadap sebuah rumah tempat tinggal di kamp pengungsi Jabalia di Gaza utara setelah dia mengungsi bersama keluarganya.
Video wajah Junaid yang diunggah Jurnalis Hani Abu Rizk memicu kemarahan di media sosial. Menurut Abu Rizk, Junaid sedang menerima perawatan di Rumah Sakit al-Shifa ketika dia terpaksa pergi setelah tentara Israel menyerbu kompleks tersebut, sehingga membahayakan nyawanya.
Dalam sebuah pernyataan, juru bicara organisasi pertahanan sipil Gaza, Mahmoud Basal mengatakan bahwa Israel menolak untuk berkoordinasi dengan kelompok internasional seperti Palang Merah untuk mengizinkan kru penyelamat mengakses ratusan warga Palestina yang terluka di sekitar Rumah Sakit al-Shifa di utara Gaza, sebagaimana dikutip oleh Al Jazeera.
“Keputusan penjajah untuk mencegah koordinasi merupakan perpanjangan dari strategi eksekusi lambat terhadap warga yang tidak bersalah dan terluka yang menghadapi pengeringan,” kata Basal.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








