Israel membuka kembali sebagian jalur penyeberangan Rafah antara Gaza dan Mesir pada Ahad (01/02). “Hari ini, uji coba sedang berlangsung untuk menguji dan menilai pengoperasian penyeberangan tersebut,” kata COGAT, badan militer Israel yang mengontrol bantuan ke Gaza. “Pergerakan penduduk untuk masuk dan keluar dari Gaza, kemungkinan akan dimulai besok.”
Militer Israel menyampaikan pengumuman itu setelah menyelesaikan pembuatan sebuah kompleks yang berfungsi sebagai fasilitas pemeriksaan bagi warga Palestina yang masuk dan keluar Gaza melalui perbatasan Rafah. COGAT menggambarkan pembukaan kembali tersebut sebagai “fase uji coba awal” yang berkoordinasi dengan Uni Eropa. Mereka menambahkan bahwa pihak-pihak terkait sedang melakukan “persiapan awal yang bertujuan untuk meningkatkan kesiapan pengoperasian penuh penyeberangan tersebut”. “Pembukaan sebenarnya bagi warga di kedua arah akan mulai setelah persiapan ini selesai,” tambahnya.
Pembukaan yang lebih luas terjadwal pada Senin, kata sumber di perbatasan. Namun, belum ada kesepakatan yang tercapai mengenai jumlah warga Palestina yang mendapatkan izin masuk atau keluar, kata sumber tersebut. Mereka menambahkan bahwa Mesir berencana untuk mengizinkan “semua warga Palestina yang mendapat persetujuan Israel untuk pergi”.
Puluhan Ribu Warga Gaza Ingin Kembali Melalui Penyeberangan Rafah
Hani Mahmoud dari Al Jazeera, melaporkan dari Khan Younis di Gaza selatan, bahwa pembukaan kembali perlintasan tersebut merupakan “dinamika yang tidak nyaman”. “Warga Palestina ingin pergi, tetapi pada saat yang sama, mereka khawatir tidak akan bisa kembali,” katanya. “Orang-orang mengatakan tujuan kepergian mereka semata-mata untuk evakuasi medis atau melanjutkan pendidikan, dan mereka ingin kembali di kemudian hari.”
Ismail al-Thawabta, Direktur Kantor Media Pemerintah Gaza (GMO), mengatakan kepada Al Jazeera bahwa sekitar 80.000 warga Palestina yang meninggalkan Gaza selama genosida berupaya untuk kembali. Sekitar 22.000 orang yang terluka dan sakit juga “sangat butuh” untuk meninggalkan Gaza guna mendapatkan perawatan di luar negeri, tambahnya.
Rafah adalah satu-satunya perbatasan di Gaza yang tidak melewati Israel. Sebelum genosida, otoritas Palestina dan Mesir mengelola perbatasan ini dengan berkoordinasi dengan Israel. Namun, perbatasan itu telah tutup selama hampir dua tahun setelah pasukan Israel merebutnya pada Mei 2024, selama genosida Israel di Gaza.
Sumber: Al Jazeera, Middle East Eye, Middle East Monitor








