Otoritas Israel telah kembali mengeluarkan larangan bepergian terhadap perempuan aktivis Al-Quds (Yerusalem), Khadija Khweis. Israel mencegahnya meninggalkan Palestina hingga bulan Agustus. Perintah tersebut menyusul pemanggilannya untuk interogasi di pusat polisi Al-Maskobiya di Al-Quds pada Rabu.
Khweis, seorang mantan tawanan, sebelumnya telah menghadapi beberapa penangkapan dan tindakan pembatasan. Pembatasan tersebut termasuk larangan memasuki Tepi Barat, Masjid Al-Aqsa, dan Kota Tua Al-Quds. Selain itu, Israel juga memberlakukan larangan bepergian berulang kali terhadapnya.
Keputusan terbaru ini merupakan bagian dari kampanye Israel dalam menargetkan perempuan aktivis Palestina, khususnya yang terkait dengan kegiatan keagamaan di Al-Aqsa. Israel menargetkan para aktivis tersebut dengan melakukan penangkapan dan perintah pengusiran.
Baca juga : “Polisi Israel Larang Dua Aktivis Palestina Masuki Masjid Al-Aqsa“
Menurut laporan bulanan dari Pemerintah Al-Quds, otoritas Israel mengeluarkan sekitar 400 perintah pengusiran dari Masjid Al-Aqsa hanya pada bulan Februari. Hal tersebut menyoroti pola pembatasan berkelanjutan terhadap kehadiran warga Palestina di tempat suci tersebut.
Dalam upaya untuk mengecam tindakan Israel, para aktivis Al-Quds telah mendesak rekan senegaranya untuk berkumpul dalam jumlah besar di titik akses terdekat di luar Masjid Al-Aqsa. Mereka menyeru para jemaah untuk melaksanakan salat Jumat di sana.
Mereka juga menyerukan kepada para jemaah untuk meningkatkan kehadiran mereka di luar Masjid Al-Aqsa pada Jumat. Tindakan tersebut merupakan langkah untuk menyatakan penolakan mereka terhadap penutupan tempat suci tersebut. Mereka juga menentang upaya Israel untuk memaksakan realitas baru di kota suci itu.
Kehadiran intensif jemaah salat di Kota Al-Quds merupakan garis pertahanan pertama untuk melindungi Masjid Al-Aqsa. Aksi tersebut merupakan pesan yang jelas menentang rencana yahudisasi dan pembagian Al-Aqsa, baik secara temporal maupun spasial..
Seruan warga Al-Quds (Yerusalem) yang diperbarui untuk membela Masjid Al-Aqsa ini muncul pada salah satu momen paling sensitif di kota itu, yakni ketika otoritas pendudukan Israel terus menutup Masjid Al-Aqsa di tengah keheningan internasional dan diamnya negara-negara Arab dan Islam.
Sumber: Palinfo








