Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu terus merencanakan serangan Israel terhadap Rafah, tempat sekitar 1,5 juta warga Palestina mencari perlindungan di kota paling selatan setelah terpaksa mengungsi.
Netanyahu mengatakan jika Israel dan kelompok perjuangan Palestina mencapai kesepakatan, maka mereka akan menunda operasi militer di Rafah, namun Israel tetap menekankan kepada CBS News bahwa pada titik tertentu, Israel harus melakukan invasi.
“Kalau kesepakatan dicapai, agresi akan tertunda. Namun, hal itu tetap akan terjadi. Jika kami tidak mencapai kesepakatan, kami akan tetap melakukannya,” kata Netanyahu.
Seiring dengan rencana Israel, kekhawatiran global pun meningkat mengenai korban jiwa yang akan jatuh dalam agresi tersebut. UNICEF telah memperingatkan bahwa serangan terhadap Rafah akan menjadi bencana besar, karena lebih dari 600.000 anak-anak berlindung di sana dan bantuan kemanusiaan yang sangat terbatas sudah berada di ambang kehancuran.
“Ribuan orang lainnya mungkin terbunuh akibat kekerasan ini atau karena kurangnya layanan penting dan gangguan lebih lanjut terhadap bantuan kemanusiaan. Kami meminta agar rumah sakit, tempat penampungan, pasar, dan sistem air bersih yang tersisa di Gaza, untuk para penduduk tetap berfungsi. Tanpa hal tersebut, kelaparan dan penyakit akan meroket, sehingga merenggut lebih banyak nyawa anak-anak,” kata Direktur Eksekutif UNICEF Catherine Russell dalam sebuah pernyataan .
sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








