Khaled (7) terus berdiri saat prosesi pemakaman sambil menangis. Anak laki-laki kecil itu sebenarnya telah terbiasa dengan prosesi pemakaman seperti itu, tetapi kali ini ia tak menyangka akan menimpa saudara laki-lakinya. “Saya ingin kakak saya… saya ingin kakak saya,” isaknya saat bibinya berusaha menghiburnya (15/6). Saudaranya, Khalil Yahya Anis (20), dibunuh oleh pasukan Israel dalam serangan di Kota Nablus Tepi Barat, menurut pejabat kesehatan Palestina.
Anis ditembak pads Kamis (15/6) ketika pasukan Israel menyerbu sebuah rumah di kamp pengungsi Ein Beit al-Ma’ milik keluarga Osama al-Taweel, seorang pria yang dituduh terlibat dalam pembunuhan seorang tentara Israel tahun lalu. Al-Taweel telah berada di penjara, tetapi Israel terus menghancurkan rumah orang-orang yang dituduh menyerang orang Israel, sebuah praktik yang menurut para kritikus adalah hukuman kolektif.
Selama penggerebekan, konfrontasi bersenjata pecah antara pasukan Israel dan penduduk, sementara Anis terbunuh, kata Nida Ibrahim dari Al Jazeera. Dua lainnya terluka dan rumah al-Taweel dihancurkan selama penggerebekan, menurut kantor berita Palestina, Wafa. Kejahatan kolektif itu juga turut menggusur orang tua dan saudara perempuannya yang tinggal di rumah tersebut. Sementara itu, Bulan Sabit Merah mengatakan 170 orang dirawat karena menderita lemas akibat semprotan gas air mata yang ditembakkan oleh tentara Israel selama penggerebekan.
Anis dimakamkan di kamp pada hari yang sama. Para pelayat yang terkejut membawa tubuhnya yang telah dikafankan di pundak mereka, sedangkan ibunya hampir tidak bisa berdiri karena menanggung kesedihan. Seperti banyak pemuda Palestina lainnya, Anis sibuk mencari pekerjaan sepanjang hidupnya sejak mendapati dirinya menganggur tanpa prospek masa depan yang nyata. Terlepas dari situasi itu, dia sangat dicintai oleh teman dan keluarganya, kata jurnalis foto Ayman Nobani kepada Al Jazeera.
Nenek Anis yang sudah menerima kematian cucunya berbicara kepada wartawan di prosesi pemakaman, “Dia sangat baik, ambisius, dan sopan… semua hal baik yang dapat Anda pikirkan ada padanya. Saya sangat mencintainya dan kami akan selalu tertawa ketika dia datang mengunjungi saya,” katanya. “Yang saya harapkan saat ini adalah kami akan bertemu lagi suatu hari nanti di taman Firdaus.”
Israel telah melakukan serangan di Tepi Barat sejak mendudukinya setelah perang 1967, yang menyebabkan kematian, cedera, atau penawanan ratusan warga Palestina dalam kondisi yang tidak jelas. Kejahatan itu terus berulang setiap tahun. Hingga paruh 2023 ini, setidaknya 158 warga Palestina telah dibunuh oleh pasukan Israel, dan 26 dari mereka adalah anak-anak.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








