Otoritas pendudukan Israel telah membuka kembali beberapa gerbang Masjid Al-Aqsa di Al-Quds (Yerusalem) setelah 12 hari penutupan penuh menyusul eskalasi militer terbaru dengan Iran. Menurut laporan Pemerintah Al-Quds (Yerusalem), status darurat yang diberlakukan hampir dua pekan lalu kini telah dicabut, dan gerbang Hutta, al-Silsilah, serta al-Nazir kembali dibuka bagi jemaah, menandai pelonggaran terbatas atas pembatasan yang sebelumnya diberlakukan.
Gerbang Hutta adalah salah satu pintu masuk utama dari sisi utara yang mengarah ke lingkungan Sa’adiyya. Gerbang al-Silsilah berada di barat dekat Gerbang Maghariba dan sering digunakan oleh jemaah. Adapun Gerbang al-Nazir, juga terletak di barat, menjadi akses penting menuju halaman Masjid.
Namun, meskipun beberapa gerbang telah dibuka, pembatasan ketat masih diberlakukan, terutama pada hari Jumat. Ribuan warga Palestina dari Tepi Barat masih dilarang masuk ke Al-Quds (Yerusalem) tanpa izin khusus, sementara pasukan Israel tetap menjaga pos pemeriksaan militer di berbagai akses menuju Kota Tua, yang menyebabkan lumpuhnya aktivitas perdagangan di wilayah tersebut.
Khatib Masjid Al-Aqsha, Syekh Ikrima Sabri, mengecam keras penutupan berkepanjangan yang dilakukan Israel terhadap situs suci tersebut. Ia menyebut tindakan itu sebagai pelanggaran nyata terhadap kesucian tempat ibadah dan sebagai tindakan “aneh dan tidak normal.” Dalam pernyataannya, Syekh Sabri menyatakan bahwa penutupan ini merampas hak ribuan umat Islam untuk beribadah, sementara pemukim ilegal Israel dibiarkan bebas menyerbu dan menodai masjid.
Menurutnya, pembatasan ketat akses ke Al-Aqsa dimulai sejak agresi militer Israel terhadap Jalur Gaza dan terus berlanjut hingga kini. Ia menegaskan bahwa Israel berupaya memberlakukan “realitas baru” di Masjid Al-Aqsa dengan menegaskan klaim kedaulatan, melemahkan peran administratif Departemen Wakaf Islam, serta memperketat pengawasan terhadap para penjaga masjid.
Penutupan total kembali diberlakukan pada Ahad pagi, hanya tiga hari setelah masjid sempat dibuka sebagian dengan membatasi jumlah jemaah maksimal 500 orang. Ini terjadi setelah penutupan pada Jumat, 13 Juni lalu, yang bertepatan dengan dimulainya serangan Israel terhadap Iran.
Syekh Sabri memperingatkan bahaya besar yang mengancam Masjid Al-Aqsa dan menyerukan umat Islam serta warga Al-Quds (Yerusalem) untuk tetap datang ke masjid meskipun dihadang oleh pembatasan dan kondisi sulit. “Tidak ada negara di dunia yang menutup tempat ibadah, kecuali otoritas pendudukan yang berambisi mengambil alih Al-Aqsa,” ujarnya.
Sumber:
Aqsa Mosque gates reopened for prayer after 12 days of Israeli closure








