Otoritas pendudukan Israel membatalkan, pada menit terakhir, koordinasi evakuasi gelombang ketiga pasien dan warga Palestina yang terluka dari Jalur Gaza melalui perlintasan darat Rafah. Kejadian tersebut telah mendapat konfirmasi dari Palang Merah Palestina pada Rabu (04/02).
Israel Cegah Evakuasi Pasien Gaza Melalui Perbatasan Rafah
Raed Al-Nems, juru bicara Masyarakat Bulan Sabit Merah Palestina di Gaza, mengatakan bahwa pihaknya secara resmi mendapatkan pemberitahuan tentang pembatalan tersebut oleh Organisasi Kesehatan Dunia tanpa penjelasan apa pun.
Al-Nems mengatakan bahwa tim medis telah sepenuhnya siap untuk mengevakuasi pasien dari Rumah Sakit Al-Amal di Khan Yunis. Akan tetapi, keputusan mendadak tersebut mencegah mereka untuk melakukan evakuasi. Ia menekankan bahwa puluhan pasien yang sakit kritis telah menyelesaikan persiapan untuk meninggalkan Gaza guna mendapatkan perawatan darurat di luar negeri. Ia juga mencatat bahwa sistem kesehatan di Jalur Gaza hampir runtuh total dan membahayakan nyawa pasien.
Bulan Sabit Merah mengatakan pihaknya menunggu koordinasi ulang dengan harapan evakuasi dapat berlanjut pada Kamis. Mereka berharap segera mendapat izin evakuasi, mengingat kondisi kemanusiaan dan medis yang sangat buruk bagi para pasien di Gaza.
Sebaliknya, Koordinator Kegiatan Pemerintah Israel di Tepi Barat dan Gaza mengklaim bahwa penyeberangan Rafah tetap terbuka pada Rabu. Mereka membuat alasan bahwa Organisasi Kesehatan Dunia gagal memberikan “rincian koordinasi prosedural.”
Otoritas pendudukan Israel mengklaim bahwa warga Palestina akan mendapat izin pergi setelah rincian tersebut diserahkan. Di sisi lain, Bulan Sabit Merah Palestina mengonfirmasi bahwa mereka telah menyelesaikan persiapan.
Menurut Anadolu, 40 warga Palestina, termasuk perempuan dan anak-anak, kembali ke Gaza melalui Rafah pada Rabu pagi, serta terdapat 40 lainnya yang keluar Gaza.
Pada hari Senin, hanya 12 warga Palestina yang mendapat izin kembali ke Gaza dan 20 yang mendapat izin untuk pergi. Pada hari Selasa, 40 orang tiba dan 40 orang berangkat. Angka-angka ini jauh di bawah kuota kesepakatan yaitu 50 orang yang kembali dan 50 pasien per hari.
Selain itu, warga Palestina yang kembali melalui Rafah melaporkan pelecehan yang meluas oleh pasukan Israel. Tindakan tersebut termasuk penggeledahan, interogasi, dan pembatasan pergerakan yang ketat.
Sumber: The Palestine Chronicle








