Otoritas Palestina mendesak Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) untuk menyerukan dan mencegah proyek permukiman Israel di Sebastia, yang berbasis di barat laut Nablus.
“Kami meminta badan UNESCO untuk mencegah otoritas pendudukan Israel membangun proyek permukiman di dekat Desa Sebastia,” kata Perdana Menteri Mohammad Shtayyeh dalam rapat kabinet. Dia memperingatkan bahwa proyek permukiman Israel akan menyebabkan kerusakan parah pada situs bersejarah di dekat desa tersebut. Walikota Sebastia, Mohammad Azem, menambahkan bahwa proyek tersebut bertujuan untuk mengubah situs arkeologi menjadi taman.
Menurut The Times of Israel, pemerintah Israel menyetujui anggaran sebesar NIS 32 juta ($ 8,8 juta) pada hari Minggu lalu untuk pemulihan dan pengembangan situs arkeologi Sebastia yang memungkinkan lebih banyak pemukim memperluas permukiman ilegal Shavei Shomron. Semua permukiman dan pemukim adalah ilegal menurut hukum internasional. Namun demikian, menurut data resmi, sekitar 650.000 pemukim Yahudi Israel ekstremis tinggal di lebih dari 130 pemukiman yang telah dibangun di atas tanah Palestina sejak Pendudukan Tepi Barat dimulai pada 1967.
Sebastia adalah kota kecil bersejarah yang terletak di atas bukit, 11 kilometer di barat laut Nablus; 3.000 warga Palestina mendiami daerah tersebut. Daerah tersebut diidentifikasi sebagai ibu kota kerajaan utara selama Zaman Besi II di Palestina, dan pusat kota besar selama periode Helenistik dan Romawi, menurut UNESCO.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








