Dalam penentangan terbuka terhadap perjanjian gencatan senjata yang baru disepakati, Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyatakan bahwa tentara pendudukan Israel akan melanjutkan serangan militernya di Gaza setelah sandera yang tersisa dikembalikan.
Dalam postingannya di X, Katz mengatakan bahwa setelah fase pertama kesepakatan berakhir dengan pembebasan seluruh sandera, Israel akan melanjutkan operasinya untuk menghancurkan Hamas.
“Tantangan terbesar Israel setelah fase pemulangan sandera adalah penghancuran semua terowongan teror Hamas di Gaza, langsung oleh IDF dan melalui mekanisme internasional yang akan dibentuk di bawah kepemimpinan dan pengawasan Amerika Serikat,” kata Katz.
“Inilah makna utama penerapan prinsip yang disepakati untuk demiliterisasi Gaza dan netralisasi senjata Hamas. Saya telah menginstruksikan IDF untuk bersiap melaksanakan misi tersebut,” katanya.
Pernyataan Katz muncul kurang dari sehari setelah Israel dan Hamas menyetujui kerangka gencatan senjata yang ditengahi oleh Qatar, Mesir, dan Amerika Serikat. Kesepakatan tersebut bertujuan untuk mengakhiri genosida Israel yang telah berlangsung selama dua tahun.
Meskipun telah ada kesepakatan, pernyataan Katz memperjelas bahwa Israel memandang gencatan senjata bukan sebagai langkah menuju diakhirinya serangan militer di Jalur Gaza, melainkan sebagai jeda sementara sebelum melancarkan kembali serangan militernya.
Instruksi publik Katz bagi tentara Israel untuk mempersiapkan operasi baru menunjukkan niat untuk melanjutkan serangan skala besar yang melanggar hukum humaniter internasional perjanjian gencatan senjata.
Genosida Israel telah membunuh lebih dari 67.000 warga Palestina, sebagian besar perempuan dan anak-anak, dan menyebabkan hampir dua juta orang mengungsi. Mahkamah Internasional (ICJ) terus menyidangkan kasus genosida Afrika Selatan terhadap Israel, dengan menghadirkan bukti-bukti penargetan warga sipil yang disengaja, perang kelaparan, dan penghancuran sistem kesehatan dan pendidikan di Gaza.
Pada saat yang sama, Presiden AS juga menyatakan penolakannya untuk mengakui kemerdekaan Palestina. Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, pada Senin (13/10) menolak untuk mendukung solusi dua negara, dan mengatakan fokusnya saat ini adalah membangun kembali Jalur Gaza.
“Saya berbicara tentang sesuatu yang sangat berbeda. Kita berbicara tentang membangun kembali Gaza,” ujar Trump kepada wartawan di pesawat Air Force One dalam penerbangan kembali dari Mesir ketika ditanya tanggapannya terkait pernyataan Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi yang menyerukan solusi dua negara dan negara Palestina yang merdeka.
“Saya tidak berbicara tentang negara tunggal, negara ganda, atau dua negara. Kita berbicara tentang pembangunan kembali Gaza,” kata Trump.
Sebelumnya pada Senin, Trump dan Sisi menerima lebih dari 20 pemimpin dunia di kota resor Sharm el-Sheikh, Mesir, untuk menghadiri pertemuan tingkat tinggi guna menandatangani kesepakatan gencatan senjata di Gaza.
“Banyak orang menyukai solusi satu negara. Sebagian lagi menyukai solusi dua negara. Kita lihat saja nanti. Saya belum berkomentar soal itu,” kata Trump, seraya menambahkan bahwa ia akan berkoordinasi dengan negara-negara lain terkait rencana masa depan untuk Gaza.
![Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz. [SEBASTIAN SCHEINER/AFP via Getty Images/MEMO]](https://adararelief.com/wp-content/uploads/2025/10/1-750x375.webp)






![Seorang tawanan Palestina memeluk orang tercintanya setelah bertahun-tahun mendekam di penjara [Sumber: Qudsnen].](https://adararelief.com/wp-content/uploads/2025/10/2-75x75.jpeg)
