Israel mengakui telah menculik Dr. Marwan al-Hams, Direktur Rumah Sakit Abu Youssef al-Najjar sekaligus pejabat yang mengawasi rumah sakit lapangan di Gaza, dalam sebuah operasi rahasia yang dilakukan lima bulan lalu.
Menurut laporan media Israel, pasukan Israel juga menahan putri beliau untuk menekan al-Hams selama interogasi.
Militer Israel menuduh al-Hams yang juga menjadi juru bicara Kementerian Kesehatan Gaza sebagai bagian dari kelompok pejuang Hamas, dengan klaim bahwa ia membantu mengidentifikasi jenazah tentara Israel Hadar Goldin dan mengetahui lokasi pemakamannya di jaringan terowongan “Mahkota Putih” di Rafah. Operasi penculikannya digambarkan sebagai salah satu dari banyak misi rahasia yang dilakukan Israel untuk mencari sisa-sisa jasad Goldin.
Dr. Al-Hams, seorang dokter terkemuka asal Rafah, telah bekerja selama puluhan tahun di berbagai rumah sakit di Gaza dan menempati posisi kepemimpinan tinggi selama perang. Kementerian Kesehatan Gaza menyebutnya sebagai “suara bagi yang sakit dan kelaparan” karena suara lantangnya dalam memperingatkan dampak blokade Israel dan runtuhnya sistem kesehatan Gaza.
Pasukan khusus Israel menculik al-Hams pada 21 Juli 2025 ketika ia sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit Komite Internasional Palang Merah (ICRC) di daerah Mawasi, Khan Younis.
Saluran Israel i24 melaporkan bahwa Shin Bet menginterogasinya secara intensif mengenai lokasi terowongan, sementara putrinya, Tasneem (22 tahun), seorang perawat, ditahan untuk memaksa al-Hams memberikan informasi. Ia dilaporkan menolak memberikan keterangan sesuai tuntutan penyidik.
Jenazah Goldin kemudian ditemukan setelah Hamas mengizinkan akses ke sebuah terowongan selama masa gencatan senjata.
Tasneem tetap ditahan meski sudah ada keputusan resmi untuk membebaskannya. Kakaknya, Obada, mengatakan bahwa ia tertahan di perlintasan Kerem Shalom karena otoritas Israel menolak melaksanakan perintah pembebasan dengan alasan adanya “pembekuan” proses pelepasan tawanan.
Dr. al-Hams menempuh pendidikan kedokteran di Rusia dan meraih gelar doktor pada 1998. Ia kemudian menyelesaikan diploma anestesi dan perawatan intensif di Gaza, setelah sebelumnya bersekolah di sekolah-sekolah UNRWA dan pemerintah di Rafah sebelum memulai karier medisnya.
Sumber: The New Arab








