Berdasarkan citra satelit dan analisis pemetaan khusus, laporan tersebut menemukan bahwa perang kelaparan Israel tidak berhenti, tetapi bergeser ke fase baru yaitu penguasaan langsung atas lahan pertanian paling subur di Gaza.
Perbandingan antara “garis kuning”, garis penarikan pasukan Israel sesuai fase pertama kesepakatan gencatan senjata dengan peta kesuburan tanah menunjukkan bahwa Israel kini mengendalikan lebih dari 53 persen wilayah Gaza, mencakup zona pertanian dengan hasil tertinggi, termasuk lahan sayur dan biji-bijian di Gaza utara, kawasan timur, dan Khan Yunis. Produksi sayur sendiri menyumbang 53 persen dari total hasil pertanian Gaza.
Laporan tersebut menyatakan bahwa IOF bukan hanya merebut wilayah pertanian subur ini, tetapi juga membatasi keras akses warga Palestina ke lahan tersebut, sembari menghancurkan sebagian besar lahan yang masih berada di area yang dikontrol Palestina.
Data PBB yang diperbarui hingga Juli 2025 menunjukkan bahwa 86 persen lahan pertanian Gaza telah rusak atau hancur dalam 21 bulan terakhir. Hanya 6,6 kilometer persegi lahan subur yang tersisa, sebagian besar berada di wilayah dengan tingkat kesuburan rendah.
Analisis indeks vegetasi mencatat penurunan tajam tutupan hijau antara 2023 dan 2025, menandakan runtuhnya sistem produksi pangan Gaza. Israel juga telah menghancurkan sekitar 80 persen pertanian rumah kaca, dan lebih dari separuh rumah kaca yang masih utuh kini berada di zona yang dilarang diakses oleh warga Palestina.
Investigasi menyimpulkan bahwa kampanye kelaparan Israel tidak berakhir dengan gencatan senjata. Taktiknya berubah, dari blokade bantuan menjadi perampasan sumber pangan utama melalui penguasaan lahan subur dan penghancuran yang tersisa, kebijakan yang telah mendorong situasi kelaparan massal di seluruh Gaza.
Sumber: Palinfo








