Ammar Mefleh saat itu tengah menghabiskan Jumat sore dengan menikmati kebersamaan dengan bibi dan pamannya, yang datang berkunjung ke rumah keluarganya di Osarin, sebuah desa di tenggara Nablus, Tepi Barat. Sekitar pukul 15.30, ayah dari pria berusia 22 tahun itu memintanya untuk pergi ke apotek di kota terdekat Huwara untuk membeli obat. Saat dia berjalan keluar pintu, ibunya, Jeenan, memanggilnya, menyampaikan bahwa sudara laki-laki Ammar, Samir, seorang tawanan politik di Israel, sedang menelepon dan ingin berbicara dengannya.
“Dia mengatakan kepada saya bahwa dia sedang terburu-buru untuk membelikan obat untuk ayahnya. Ia mengatakan akan berbicara dengan Samir ketika dia kembali,” kata Jeenan (44) kepada Middle East Eye dari sudut kamar tidur di rumah tersebut. Enam wanita lainnya diam-diam memperhatikannya berbicara. Saat Ammar melangkah keluar pintu, dia bertanya apakah ibunya menginginkan sesuatu dari luar. “Aku bilang, ‘tidak, jangan pergi lama-lama’.” Jeenan tidak tahu itu adalah kata-kata terakhir yang akan dia ucapkan kepada putranya.
Sekitar dua jam setelah putranya pergi, Jeenan mendapat telepon yang mengatakan bahwa pasukan Israel telah melukainya. “Saya khawatir mendengar dia terluka, tetapi saya tidak berpikir mereka membunuhnya.” Jeenan mengatakan Mefleh memiliki sejarah panjang “dihukum” karena menentang pendudukan Israel. Sejak usia 13 tahun, dia telah ditangkap oleh tentara dan dikirim ke penjara selama dua setengah tahun. Dia telah ditembak empat kali oleh pasukan Israel selama berbagai protes.
“Ini adalah panggilan telepon kelima yang saya terima dan mengatakan tentara Israel menembaknya. Tidak terlintas dalam pikiran saya bahwa dia telah syahid sampai saudara laki-laki saya datang memberitahu saya bahwa tentara telah membunuhnya,” katanya. “Setelah saya mendapat berita itu, saya merasa semuanya berputar. Saya tidak ingat apa yang terjadi setelah itu. Saya tidak bisa mendengar apa pun yang dikatakan orang,” katanya kepada MEE.
Rekaman seorang polisi perbatasan Israel menembaknya empat kali dari jarak dekat selama perkelahian telah menjadi viral di media sosial. Dua tembakan pertama menjatuhkan pemuda berusia 22 tahun itu ke tanah, lalu dua tembakan lainnya ditembakkan setelah dia terlihat tergeletak di tanah. Video tersebut telah memicu protes di kalangan warga Palestina yang menggambarkan kematiannya sebagai “eksekusi”.
Israel mengklaim bahwa mereka menembak Mefleh karena melihatnya membawa pisau untuk melukai pemukim yang sedang berada di dalam mobil. Akan tetapi, saksi mata bernama Nader Hashim Fidah (49), seorang petani dari Desa Ainabus yang menyaksikan pembunuhan itu saat pulang dari pesta pernikahan, mengatakan, “Orang Israel mengatakan dia punya pisau. Saya tidak melihat pisau apa pun. Tidak ada apa-apa di tangannya. Tidak ketika dia berbicara dengan pemukim di dalam mobil, atau bahkan saat melawan tentara,” kata Fidah. Israel juga mencegah ambulans untuk menolong Mefleh selama 30 menit, kemudian menahan jasadnya dan belum kunjung memberikannya kepada keluarganya.
Itamar Ben-Gvir, menteri keamanan publik Israel, memuji penembak itu sebagai “pahlawan”. “Anda melindungi diri sendiri dan orang-orang di sana. Setiap teroris akan tahu bahwa jika dia ingin mencuri senjata dan membunuh seorang pejuang (Israel)–beginilah cara para pejuang bekerja,” kata politisi sayap kanan itu. Komisaris polisi Israel, Kobi Shabtai, juga memuji prajurit tersebut, ia mengatakan: “Dia bertindak secara profesional seperti yang diharapkan dari prajurit atau perwira mana pun.”
Jeenan tidak terkejut dengan reaksi para pejabat Israel tersebut. Ia mengatakan: “Saya tidak berharap lebih. Kami tidak memiliki hak asasi manusia di sini. Kegembiraan mereka atas eksekusi anak saya adalah satu serangan kecil terhadap kami sebagai orang Palestina dalam skema besar pendudukan mereka. Yang membuat saya sedih adalah dunia tidak melakukan apa-apa.”
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








