Penyakit gangguan ginjal akut bukanlah penyakit baru. Setiap tahun selalu saja ada orang yang dilaporkan mengalami penyakit ini. Tetapi, kasus melonjak pada Agustus tahun ini. Jika sebelumnya hanya ada satu atau dua kasus, kini melonjak hingga 25 kasus dalam satu bulan. Meningkatnya jumlah pasien ini bukan tanpa sebab, pihak Kemenkes menyimpulkan salah satu penyebabnya yakni toksisitas dari etilen glikol.
Juru Bicara Kementerian Kesehatan, Mohammad Syahril mengatakan penyakit gagal ginjal yang menyerang anak-anak memang merupakan kasus keracunan. Mereka keracunan obat sirup yang mengandung kimia berbahaya etilen glikol. Proses keracunan pun bisa terjadi sangat cepat. Hanya minum satu atau dua kali obat yang mengandung etilen glikol, ginjal anak bisa rusak. “Kandungan etilen glikol itu seharusnya tidak ada di obat. Tetapi ini malah jadi cemaran pelarut di dalam obat. Makanya jadi toksik ke ginjal anak,” kata juru bicara Kemenkes Syahril dalam konferensi pers, Selasa (25/10). Meski demikian, tidak semua anak bisa mengalami masalah ginjal akibat keracunan. Hal ini berkaitan dengan pertahanan tubuh atau imunitas anak saat mengonsumsi obat tersebut.
Sejauh ini Kemenkes sudah mendatangkan obat penawar racun etilen glikol, yaitu fomepizole. Namun, dr. Syahril mengatakan ada kriteria khusus pasien yang bisa mendapat obat tersebut. Misalnya, seperti frekuensi buang air kecil yang menurun. “Jadi, kasus yang diberikan (fomepizole) adalah pasien-pasien yang sudah menunjukkan gejala-gejala gangguan ginjal, yang memang diduga karena intoksikasi. Contoh, terjadi pengurangan frekuensi buang air kecil dan volume (air seni) juga,” jelas Syahril. Obat fomepizole diimpor dari Singapura dengan harga per vial sebesar 16 juta rupiah. Obat fomepizole itu didatangkan dari Singapura sebanyak 16 vial dan Australia 26 vial. Selain itu, Kemenkes juga akan mendatangkan fomepizole dari Amerika Serikat hingga Jepang. Ini dilakukan karena obat tersebut termasuk sulit untuk didapatkan.
Terkait aturan pemakaian, obat fomepizole ini diberikan dengan 5 kali suntikan. Tetapi, jika kondisi sudah membaik pemberian obat ini akan dihentikan. “Aturan pemakaiannya nanti akan diberikan dengan 5 kali suntikan, termasuk yang di RSCM ada yang 3, ada yang sudah 4 kali dan mengalami perbaikan,” terangnya. “Kita akan hentikan (jika sudah menunjukkan perbaikan) dan tidak digunakan terus-menerus,” lanjut dr Syahril. Sebanyak 10 dari 11 pasien yang menerima obat fomepizole kondisinya mulai membaik secara klinis. Mereka mulai bisa mengeluarkan air seni atau buang air kecil. “Tidak ada kematian dan perburukan lebih lanjut. Anak tersebut sudah mulai bisa mengeluarkan air seni (buang air kecil),” beber dr. Syahril.
Di samping itu, Jubir Kemenkes juga menegaskan bahwa biaya pengobatan untuk pasien gagal ginjal akut ditanggung oleh BPJS dan pemerintah, termasuk soal obat-obatan yang diimpor dari luar negeri, seperti fomepizole. Namun, bagi pasien yang dikategorikan tidak mampu secara finansial dan tidak memiliki kepesertaan BPJS Kesehatan, seluruh pembiayaan juga akan ditanggung oleh pemerintah.
Sumber:
***
Tetaplah bersama Adara Relief International untuk anak dan perempuan Palestina.
Kunjungi situs resmi Adara Relief International untuk berita terbaru Palestina, artikel terkini, berita penyaluran, kegiatan Adara, dan pilihan program donasi.
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini seputar program bantuan untuk Palestina.
Donasi dengan mudah dan aman menggunakan QRIS. Scan QR Code di bawah ini dengan menggunakan aplikasi Gojek, OVO, Dana, Shopee, LinkAja atau QRIS.

Klik disini untuk cari tahu lebih lanjut tentang program donasi untuk anak-anak dan perempuan Palestina.







