Pemerintah Inggris menolak memberikan izin kepada Ahmed, seorang bocah berusia empat tahun dari Gaza, untuk memasuki Inggris guna mendapatkan perawatan medis. Ahmed kehilangan kedua kakinya dan sebagian besar keluarganya akibat serangan udara Israel, dan kini dirawat di Italia. Kasusnya menyoroti ketimpangan tanggapan internasional terhadap anak-anak Palestina yang terluka.
Beberapa negara seperti Italia dan Norwegia telah memulai program evakuasi dan perawatan medis untuk anak-anak Palestina yang menjadi korban serangan Israel, namun Inggris belum melakukan tindakan serupa. Hal ini menuai kritik dari pembela hak asasi manusia dan politisi.
Koalisi lintas partai dan politisi di Inggris mengirim surat kepada Perdana Menteri Keir Starmer, mendesak tindakan segera. Surat itu menyoroti kondisi buruk di Gaza, termasuk kekurangan pasokan medis, tenaga medis, serta infrastruktur yang hancur, yang membuat banyak anak tidak mendapatkan perawatan yang mereka butuhkan.
Surat tersebut membandingkan evakuasi cepat anak-anak Ukraina oleh Inggris selama perang dengan Rusia, dan mempertanyakan ketiadaan inisiatif serupa untuk Gaza. Kasus Ahmed digunakan untuk menekankan urgensi isu ini, karena ia mendapatkan perawatan dan bantuan prostetik di Italia setelah ditolak Inggris.
Penandatangan surat itu termasuk politisi seperti Jeremy Corbyn dan Apsana Begum, serta anggota House of Lords. Mereka mendesak Inggris untuk memenuhi kewajiban kemanusiaan dengan memulai program evakuasi medis untuk anak-anak Gaza dengan bekerja sama dengan Otoritas Palestina, LSM, dan otoritas Israel.
Surat tersebut juga mencatat kesiapan tenaga medis Inggris untuk menyediakan perawatan khusus bagi anak-anak Palestina yang mengalami cedera berat. Mereka menegaskan bahwa tenaga medis di Inggris memiliki keahlian untuk menyelamatkan nyawa anak-anak Gaza.
Keputusan Inggris menolak Ahmed menuai kritik luas karena dianggap melanggar hukum internasional dan prinsip kemanusiaan. Sementara Ahmed melanjutkan perawatannya di Italia, para advokat meminta Inggris menunjukkan solidaritas terhadap warga Gaza yang rentan.
Surat kepada Perdana Menteri Inggris diakhiri dengan permintaan pertemuan untuk membahas skema yang diusulkan dan mencari solusi atas krisis ini. Hingga kini, pemerintah Inggris belum memberikan tanggapan atas permohonan tersebut.
WHO menyuarakan keprihatinan atas lambatnya evakuasi medis untuk pasien kritis di Gaza. Dari 12.000 pasien yang membutuhkan pemindahan segera, hanya 78 yang dievakuasi, termasuk anak-anak. UNICEF melaporkan bahwa 2.500 anak-anak masih menunggu, dan beberapa dari mereka meninggal karena penundaan yang berlarut-larut.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di sini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








