Berbagai relawan datang dari berbagai negara dan memberikan bantuan untuk korban gempa Turki, Indonesia salah satunya. Di antara bantuan yang diberikan, Indonesia mendirikan rumah sakit lapangan yang dioperasikan oleh Tim Darurat Medis (EMT) Indonesia. Ina-EMT memperoleh lahan sekitar 100 x 200 meter untuk membangun belasan tenda rumah sakit. Rumah sakit lapangan ini memberikan layanan kesehatan primer hingga sekunder bagi korban maupun masyarakat yang terdampak gempa Turki. Ina-EMT adalah salah satu dari 9 rumah sakit lapangan dari berbagai negara yang beroperasi di Provinsi Hatay, wilayah paling terdampak oleh gempa kuat yang terjadi pada 6 Februari 2023.
Pada tanggal 27 Februari misi medis darurat Ina-EMT di Kota Hassa, Provinsi Hatay, Turki akan berakhir. Namun, pada Minggu (26/2) rumah sakit lapangan tersebut diserbu lebih dari 325 pasien. Meskipun jauh melebihi kapasitas hariannya yang sebanyak 150 pasien, seluruh dokter dan petugas Ina-EMT tetap melayani para pasien hingga pukul 21.00 malam waktu setempat. “Petugas dan dokter Ina-EMT memang akan mengakhiri misi medis kedaruratannya secara resmi pada tanggal 27 Februari 2023. Namun, seluruh rumah sakit lapangan akan dihibahkan kepada Kementerian Kesehatan Turki yang akan melanjutkan operasi dengan petugas dan dokter Turki sendiri hingga tiga bulan ke depan,” kata Duta Besar RI untuk Turki Lalu Muhammad Iqbal dalam keterangan tertulis KBRI Ankara, Senin (27/2).
Pihak Turki juga sudah mendata anak dan menambahkan ambulans serta peralatan medis yang diperlukan di rumah sakit lapangan tersebut. Kompleks rumah sakit lapangan Indonesia yang akan dihibahkan terdiri atas 18 tenda pelayanan milik MDMC Muhammadiyah dan Kementerian Kesehatan serta sekitar 11 tenda pendukung ukuran besar milik BNPB, Kementerian Kesehatan, Polri, dan TNI.
Rumah sakit lapangan ini telah melayani hampir 2.000 pasien warga Turki yang datang dari berbagai lokasi di sekitar Kota Hassa. Meskipun resminya rumah sakit tersebut memiliki jam operasional, dalam praktiknya, Ina-EMT juga menerima seluruh pasien yang datang di luar jam operasional. “70 persen pasien datang ke Ina-EMT dengan keluhan masalah pernafasan. Mungkin karena faktor cuaca, kondisi penampungan dan debu akibat proses pembongkaran puing reruntuhan yang masih terus berlangsung,” ujar Wakil Ketua ina-EMT, dr. Corona Rintawan, dalam keterangan pers pada Jumat (24/2).
Selain memberikan pelayanan medis, Ina-EMT juga memberikan pelayanan kesehatan jiwa pascabencana. Target pelayanan kesehatan jiwa yang dilakukan Ina-EMT meliputi layanan untuk orang dewasa dan anak-anak. Kami banyak bertemu dengan penyintas yang mengalami gejala sebagai akibat dari stress akut setelah gempa, apalagi pascagempa susulan 6,4 SR beberapa hari lalu”, tutur dr. Era Catur Prasetya, dokter pelayanan Kesehatan jiwa Ina-EMT.
Rumah sakit tersebut mulai beroperasi pada 15 Februari 2023, sementara pada 28 Februari 2023 dini hari para petugas dan dokter Indonesia secara resmi akan meninggalkan Kota Hassa menuju ke Ankara, ibu kota Turki. Dari Ankara, tim Ina-EMT akan kembali ke Indonesia menggunakan pesawat komersial.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








