Imam Katolik dan Ortodoks Yunani beserta para biarawati menyatakan akan tetap tinggal di Kota Gaza meski Israel merencanakan pengambilalihan militer atas kota tersebut.
“Pada saat pernyataan ini dibuat, perintah evakuasi sudah diberlakukan di sejumlah lingkungan di Kota Gaza. Laporan mengenai pengeboman hebat terus berdatangan,” demikian pernyataan bersama Patriarkat Latin Yerusalem dan Patriarkat Ortodoks Yunani Al-Quds (Yerusalem), Selasa (26/8).
Komunitas Kristen bersama penduduk Gaza lainnya menegaskan belum mengetahui apa yang akan terjadi. Sejak agresi meletus, ratusan pengungsi, termasuk anak-anak dan penyandang disabilitas, telah berlindung di kompleks Gereja Ortodoks Yunani Saint Porphyrius dan kompleks Katolik Holy Family. Namun, pada Juli lalu, tembakan Israel sempat menargetkan Gereja Holy Family, membunuh tiga orang dan melukai 10 lainnya, termasuk pastor paroki.
“Banyak dari mereka yang berlindung di dalam kompleks kini lemah dan kekurangan gizi akibat penderitaan berbulan-bulan. Meninggalkan Kota Gaza dan mencoba mengungsi ke selatan tak ubahnya seperti vonis mati. Oleh karena itu, para imam dan biarawati memutuskan untuk tetap tinggal dan merawat siapa pun yang ada di dalam kompleks,” lanjut pernyataan tersebut.
Menurut Patriarkat Latin, saat ini hanya tersisa sekitar 645 umat Katolik dan Ortodoks di Jalur Gaza, termasuk lima imam dan lima biarawati.
Sementara itu, kabinet Israel pada awal Agustus telah menyetujui rencana pengambilalihan militer atas Kota Gaza, meski tekanan internasional kian meningkat untuk mengakhiri agresi yang telah memicu krisis kemanusiaan dan menghancurkan sebagian besar wilayah itu. PBB bahkan resmi menyatakan adanya kondisi kelaparan massal di Gaza pada Jumat lalu.
Sumber:
The new arab








