Dalam sebuah video, seorang mantan marinir Amerika, yang datang ke Gaza bersama lembaga Gaza Humanitarian Foundation, mengaku bahwa ia melihat seorang bocah laki-laki tanpa alas kaki—disebutnya bernama “Amir”—ditembak mati oleh tentara Israel setelah menerima segenggam makanan. Bocah itu, katanya, mencium tangannya sebagai tanda terima kasih, beberapa detik sebelum tembakan dilepaskan ke arah kerumunan.
Anak itu, menurut pengakuannya, terbunuh di tempat. Namun bagi Sana’, ibu bocah itu, yang dimaksud bukanlah “Amir”, melainkan Abdul Rahim, putranya. Dan sampai hari ini, ia belum tahu di mana jasad anaknya berada.
“Saat pertama kali lihat fotonya, aku benar-benar terkejut,” kata Sana kepada Quds News Network. “Aku tidak ingin mengingatnya lagi. Aku lelah. Hatiku hancur. Aku sakit. Ini luka yang tidak akan sembuh seumur hidup.”
Beberapa pekan sebelumnya, ia juga kehilangan suaminya. Dan kini, ia takut anaknya pun ikut pergi.
“Ini lebih berat daripada kehilangan suami. Aku tidak tahu harus bilang apa. Aku mengenali wajah di foto itu… Semoga Allah beri aku kekuatan. Dia anakku.”
Abdul Rahim, kata ibunya, adalah anak yang penuh semangat. Suka makan, bermain, dan berlari. Karakternya kuat. Bahkan ia akan marah kalau ada pria asing yang mencoba berbicara pada ibunya. Ia berbeda dari saudara laki-lakinya—Wael, Ahmad, dan Raed. Dia istimewa. Dan dia selalu ingin membuat ibunya bahagia.
Hari itu, Abdul Rahim pergi sendiri ke pusat distribusi makanan di daerah Shakoush. Ia ingin memberi kejutan kecil: membawa pulang tepung dan sedikit makanan. “Dia ingin membuatku senang. Katanya, dia mau pulang bawa dua kilo tepung dan makanan,” cerita Sana. “Biasanya aku bagi tugas ke anak-anak: siapa yang mengambil air dan siapa yang mengumpulkan kayu bakar. Tapi hari itu, Ahmad sedang demam. Aku tanya, ‘Siapa yang akan mengambil air menggantikan Ahmad?’ Mereka jawab, ‘Abdul Rahim.’”
Ternyata hari itu adalah momen terakhir ia melihat putranya. “Kalau Abdul Rahim hilang, aku selalu tahu ada yang salah; dan dia menghilang. Sejak itu, aku terus berkeliling mencarinya.” Suaranya mulai bergetar saat bicara tentang cerita tentara Amerika itu. “Aku hanya ingin dia berterus terang, di mana jasad Abdul Rahim? Hari ini dia bilang melihat anakku ditembak, keesokan harinya mengatakan mungkin tidak ditembak. Aku butuh kepastian. Apakah anakku ditahan? terbunuh? Atau… anjing liar yang menemukannya lebih dulu?”
Ia sudah menyisir rumah sakit, klinik, ke mana pun ia bisa. Tapi hasilnya nihil. Bahkan jasadnya pun tak ditemukan.
“Tidak seharusnya seorang ibu mengalami mimpi buruk seperti ini,” ucapnya. “Kami bahkan hanya memiliki sepotong roti untuk setiap orang. Potongan roti milik Abdul Rahim masih kusimpan. Anakku bilang, ‘Mama, rotinya nanti mengeras.’ Namun kujawab, biarkan saja, roti itu harus tetap ada.”
Mimpi Abdul Rahim sederhana. Ia ingin tumbuh besar, hidup baik, dan merawat ibunya. “Dia sering bilang, ‘Mama, nanti kalau aku besar, aku akan menjaga Mama.’”
Ayah Abdul Rahim terbunuh ditembak tentara Israel pada 29 Desember 2024. Sekarang, ibunya hanya menggenggam kenangan—dan harapan yang mulai pudar bahwa mungkin Abdul Rahim masih hidup.
“Pada malam hari, aku membayangkan dia minta air minum,” katanya. “Bahkan saat aku bicara sekarang, aku membayangkan dia tiba-tiba muncul, lari ke arahku.”
Anthony Aguilar, kontraktor dari AS yang sebelumnya disebut, menceritakan bahwa ia melihat Abdul Rahim—walau ia salah menyebut namanya “Amir”—berjalan 12 kilometer tanpa alas kaki di bawah terik matahari untuk mencari makanan.
Yang ia dapatkan hanyalah sisa nasi dan lentil yang tercecer di tanah. Tetap saja, ia mengucap terima kasih, mencium tangan Aguilar. Lalu, tembakan menghentikan segalanya. “Anak itu jalan 12 kilometer untuk mencari makanan, tetapi yang ia dapatkan hanyalah sisa-sisa. Lalu ia terbunuh,” kata Aguilar.
Akan tetapi bagi Sana’, cerita itu belum selesai.
“Aku hanya ingin tahu, apakah anakku masih hidup? Aku ingin melihat dia lagi. Atau kalau dia sudah meninggal, beritahu aku. Mungkin tentara Amerika itu melihat anak yang lain; mungkin Abdul Rahim-ku masih ada di luar sana.”
Sana’ punya delapan anak—empat laki-laki dan empat perempuan. Yang paling kecil baru delapan bulan. Bahkan untuk beli popok pun ia tak sanggup. Namun yang ia pinta bukan bantuan. Bukan dari pemerintah. Bukan dari tentara. Hanya dari satu orang—pria yang terakhir kali memegang tangan anaknya sebelum dunia gelap. “Tolong beri tahu aku, apa yang sebenarnya terjadi pada Abdul Rahim.”
Sumber:








