Perempuan di seluruh dunia merayakan Hari Hijab Sedunia (WHD) pada tanggal 1 Februari. Peringatan tersebut bertujuan untuk meningkatkan kesadaran akan diskriminasi terhadap perempuan muslim dan menegaskan kembali penutup kepala sebagai hak fundamental. WHD pertama dirayakan pada tahun 2013, ketika orang Bangladesh-Amerika Nazma Khan mengemukakan gagasan “sebagai sarana untuk mendorong kebebasan pribadi dalam ekspresi keagamaan dan pemahaman budaya dengan mengundang perempuan dari semua lapisan masyarakat untuk mengenakan hijab selama satu hari,” menurut website worldhijabday.com.
Diluncurkan dengan tagar #UnapologeticHijabi, kampanye WHD tahunan ke-11 ini mengajak perempuan dari semua latar belakang, etnis, dan agama untuk mengenakan hijab selama satu hari dan memposting foto diri mereka di Twitter. Hal ini dilakukan untuk menunjukkan solidaritas dengan perempuan muslim yang mengalami diskriminasi dan marginalisasi. “Hijab tidak menindas kami. Sebaliknya, itu memberi kami kekuatan untuk memperkuat iman kami. Kami memiliki hak untuk percaya pada agama kami, dan kami memiliki hak untuk memakai hijab kami,” cuit Marziya Fatemah dari Burma dengan tagar #UnapologeticHijabi.
Dalam sebuah wawancara baru-baru ini dengan The Washington Post, Nazma Khan, pendiri WHD, mengatakan “hijabophobia semakin memburuk” seiring berjalannya waktu. Perempuan kelahiran New York itu merenungkan 1 Februari sebagai Hari Hijab Sedunia selama sekitar tiga tahun. Khan telah menghadapi diskriminasi di sekolah dan sebagian besar masa remajanya karena mengenakan hijab. Sekarang, Hari Hijab Sedunia lebih dari sekadar perayaan, dan telah berubah menjadi kampanye dengan lebih dari 150 negara berpartisipasi setiap tahunnya. Banyak sukarelawan dan duta besar di seluruh dunia serta individu-individu terkenal mendukung acara ini.

Pengakuan hari tersebut oleh New York State pada 2017 merupakan salah satu tonggak penting dalam kampanye tersebut. Pada tahun yang sama, UK House of Commons menyelenggarakan acara untuk Hari Hijab Sedunia. Dewan Perwakilan Rakyat Filipina mengesahkan undang-undang di Parlemen untuk memperingati 1 Februari sebagai Hari Hijab Nasional. Tahun lalu, perusahaan Meta, pemilik Facebook dan Instagram, membantu merayakan Hari Hijab Sedunia ke-10 dengan memposting video yang mempromosikan kampanye tersebut.
Beberapa negara memperdebatkan pelarangan hijab atau burqa di ruang publik, departemen pemerintah, dan sekolah. Prancis, Denmark, Belgia, India, China, dan Austria adalah beberapa negara dengan diskriminasi sistemik kepada perempuan berhijab. Saat ini di dunia pekerjaan, perempuan berhijab masih belum sepenuhnya diterima dengan pakaian pilihan mereka.
Dalam sebuah eksperimen, pembuatan dengan CV (curriculum vitae) dari orang yang sama dengan menggunakan konten dan informasi yang sama, serta dengan foto bercadar dan terbuka. Hasilnya “perempuan muslim bercadar” menghadapi lebih banyak diskriminasi daripada yang lain saat melamar pekerjaan di Jerman, Belanda, dan Spanyol.
Hijab berarti lebih dari sekadar sepotong pakaian bagi umat Islam. Ini merupakan salah satu pilar penting ibadah dalam Islam. Bagi setiap perempuan muslim, memilih untuk mengenakan hijab sama dengan menyatakan ketundukan sepenuhnya kepada Tuhan.
Terlepas dari religiositas hijab, pilihan untuk mengenakannya telah melengkapi gerakan hak-hak perempuan. Acara seperti Hari Hijab Sedunia mengirimkan pesan bahwa perempuan dapat “berdiri” dan menegaskan “hak mereka untuk memilih apa yang ingin mereka kenakan kapan saja, di mana pun, dan bagaimana pun,” tulis Tasmina Ahmed-Sheikh, muslimah anggota parlemen pertama Skotlandia. “Hari Hijab Sedunia adalah acara yang harus kita banggakan, tidak hanya untuk toleransi beragama tetapi juga untuk hak-hak perempuan di seluruh dunia,” katanya.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








