Hari Gizi Nasional (HGN) diperingati setiap tahun pada tanggal 25 Januari. Tujuan peringatan HGN adalah untuk meningkatkan kepedulian masyarakat akan pentingnya pemenuhan gizi seimbang bagi masyarakat Indonesia. Hari Gizi Nasional berfokus terhadap tiga beban utama yakni stunting, kekurangan gizi, dan kelebihan gizi. Hasil lansiran berita detikSumut dari Studi Status Gizi Indonesia 2021 bahwa ketiga beban utama tersebut memiliki persentase yang besar meski mengalami penurunan tiap tahunnya. Adapun penjabarannya adalah stunting, dari angka 30,8% menjadi 24,4%, kekurangan gizi, dari 10,2% menjadi 7,1%, dan kelebihan Gizi, turun dari 8% menjadi 3,8%.
Dilansir situs Kemenkes RI, tema Hari Gizi Nasional 2023 adalah Protein Hewani Cegah Stunting. Tema HGN 2023 ini merupakan ajakan kepada masyarakat untuk mencegah stunting pada pertumbuhan anak-anak. Adapun tema tersebut diambil berdasarkan pertimbangan dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) dan Food and Agriculture Organization of United States yang menunjukkan bahwa konsumsi protein hewani di Indonesia masih terbilang rendah di taraf global.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), stunting adalah gangguan tumbuh kembang anak yang disebabkan kekurangan gizi kronis terutama dalam 1000 hari pertama kehidupan. Stunting dapat menyebabkan penderitanya terserang infeksi maupun stimulasi yang tak memadai.

Dalam memperingati HGN, Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr. Piprim B Yanuarso melarang orang tua memasukan banyak sayur dalam MPASI (makanan pendamping ASI), karena dapat menyebabkan stunting. Dr. Piprim menjelaskan bahwa sayur dan buah dalam MPASI hanya akan membuat anak cepat kenyang, sehingga berisiko membuat asupan protein hewani anak tidak tercukupi. Padahal, alih-alih serat, anak usia 6 bulan hingga 1 tahun membutuhkan protein hewani yang bisa membantu pertumbuhan anak, yang dapat dicapai jika kadar asam amino esensial pada tubuh anak, tergolong tinggi.
Adapun protein hewan ini bisa berupa telur, ikan, hati ayam, daging ayam, daging sapi, atau ikan laut yang mudah di temukan di Indonesia. Larangan memberi banyak sayur, kata Dr. Piprim juga sudah disampaikan Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO, dan mirisnya di Indonesia banyak orangtua salah kaprah memberikan banyak sayur dalam MPASI anak-anaknya.
Kekurangan asupan protein hewani pada anak dapat menyebabkan stunting karena kebutuhan nutrisi anak tidak tercukupi dan bisa mengganggu perkembangannya. Dengan demikian, memberikan protein hewani menjadi salah satu cara mencegah stunting yang paling tepat. Adapun jika ingin mengenalkan buah dan sayur dalam makanan dan merangsang motorik anak, dapat dijadikan camilan.
Hari Gizi Nasional bermula dari upaya perbaikan gizi. HGN dicetuskan pada 1950-an oleh Prof. Poorwo Soedarmo, bersamaan saat ia dilantik oleh Menteri Kesehatan, Dokter J Leimena, menjadi Kepala Lembaga Makanan Rakyat (LMR). Namun, penyebutan Lembaga Makanan Rakyat (LMR) pada waktu itu masih disebut Instituut Voor Volksvoeding (IVV).
Meskipun penyebutan LMR masih tidak spesifik, seiring perjalanannya, LMR melakukan pengkaderan untuk memenuhi tenaga gizi Indonesia dan membentuk Sekolah Juru Penerang Makanan. Waktu pengkaderan tersebut disahkan pada 25 Januari. Bermula dari sanalah peringatan tersebut diresmikan menjadi Hari Gizi Nasional. Berkat program tersebut, Prof. Poorwo Soedarmo kemudian diangkat menjadi Bapak Gizi Indonesia. Sejak 1970 pula, hari penting ini berpindah tangan dari LRM ke Direktorat Gizi Masyarakat Kementerian Kesehatan.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








