Aktivis iklim asal Swedia, Greta Thunberg, berbicara untuk pertama kalinya pada Senin (6/10) setelah dibebaskan dari penjara Israel. Ia mengaku dipukuli dan dipaksa mencium bendera Israel selama penyanderaannya. Thunberg termasuk di antara 171 aktivis yang dideportasi setelah berpartisipasi dalam Global Sumud Flotilla, misi kemanusiaan menuju Gaza yang berupaya menembus blokade ilegal Israel.
Konvoi besar tersebut terdiri dari lebih dari 50 kapal dari 44 negara, membawa sekitar 500 aktivis internasional. Namun, di tengah perjalanan menuju Gaza, kapal-kapal itu diserbu pasukan angkatan laut Israel yang memutus komunikasi, menahan para aktivis, dan menculik ke Israel untuk kemudian dideportasi ke Yunani dan Slovakia. Menurut penyelenggara, sekitar 400 aktivis lainnya masih disandera.
Kementerian Luar Negeri Swedia mengonfirmasi bahwa Thunberg mengalami perlakuan buruk di penjara: kekurangan makanan dan air, ditempatkan di sel penuh kutu busuk, serta duduk berjam-jam di permukaan keras. Beberapa saksi, termasuk aktivis asal Turki Ersin Çelik, mengatakan bahwa Thunberg diseret, dipukul, dan dipaksa mencium bendera Israel. Sementara seorang jurnalis Italia, Lorenzo D’Agostino, menuturkan bahwa ia melihat Thunberg “dibungkus dengan bendera Israel dan dipertontonkan seperti trofi”.
Dalam konferensi pers di Bandara Internasional Eleftherios Venizelos, Athena, Thunberg menegaskan bahwa kisah utamanya bukan tentang dirinya.
“Saya bisa berbicara panjang lebar tentang penyiksaan yang kami alami, tapi itu bukan inti cerita kami. Ada genosida yang sedang berlangsung di depan mata kita. Genosida yang disiarkan langsung. Tidak ada yang bisa mengatakan tidak tahu,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa Israel “terus memperburuk genosida dan kehancuran massal dengan niat menghapus seluruh bangsa”. Thunberg juga menyoroti penderitaan di wilayah lain seperti Kongo, Sudan, dan Afghanistan yang menjadi korban dari sistem global yang tidak adil.
“Saya tidak akan pernah bisa memahami bagaimana manusia bisa sebegitu kejam dengan sengaja membuat jutaan orang kelaparan di bawah pengepungan ilegal, melanjutkan dekade-dekade penindasan, dan (memberlakukan) politik apartheid,” tambahnya.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump menanggapi penangkapan Thunberg dengan menyebutnya sebagai “troublemaker” dan menuduhnya memiliki “masalah pengendalian amarah”. Thunberg membalas lewat Instagram dengan nada sarkastik:
“Kepada Trump, saya akan dengan senang hati menerima saran apa pun darimu soal cara mengatasi ‘masalah amarah’, karena berdasarkan rekam jejakmu, sepertinya kamu juga menderita hal yang sama.”
Sumber:
Qudsnen, MEMO








