Global Sumud Flotilla mengumumkan pada Kamis (05/02) mengenai “mobilisasi kemanusiaan terbesar dalam sejarah”. Perjalanan tersebut bertujuan untuk mematahkan blokade Israel di Gaza, baik melalui darat maupun laut, pada Maret ini. Ribuan aktivis dari lebih dari 100 negara rencananya akan berpartisipasi.
Pengumuman ini muncul di tengah kegagalan Israel untuk mematuhi protokol kemanusiaan terkait perjanjian gencatan senjata sejak 10 Oktober. Pelanggaran tersebut terutama mengenai kesepakatan yang mewajibkan masuknya bahan bakar, bantuan kemanusiaan, dan peralatan untuk membersihkan puing-puing ke Jalur Gaza.
Global Sumud Flotilla Kembali Berupaya Menembus Blokade Gaza
Dalam sebuah pernyataan yang mereka posting di X, Global Sumud Flotilla mengumumkan peluncuran “operasi bantuan kemanusiaan terkoordinasi terbesar untuk Palestina dalam sejarah.” Operasi ini akan mencakup armada maritim dan konvoi darat yang disinkronkan. Mereka menjadwalkan keberangkatan pada 29 Maret 2026, dengan tujuan untuk mematahkan pengepungan di Gaza.
“Keberangkatan ini akan menjadi keberangkatan bersejarah pertama dari Barcelona. Tunisia, Italia, dan pelabuhan-pelabuhan Mediterania lainnya akan mengikuti. Kami akan berlayar kali ini pada 29 Maret,” kata aktivis Global Sumud, Sumeyra Akdeniz Ordu. Ia menyampaikan pernyataan tersebut dalam konferensi pers yang disiarkan langsung dari Johannesburg, Afrika Selatan.
Inisiatif ini akan melibatkan ribuan sukarelawan dari lebih dari 100 negara dalam respons damai dan terkoordinasi. Gerakan ini merupakan respon terhadap kondisi yang armada tersebut gambarkan sebagai kejahatan genosida, blokade, kelaparan, dan penghancuran kehidupan sipil di Gaza.
“Kali ini, kami akan berlayar dengan ribuan peserta, termasuk lebih dari seribu dokter, perawat, dan tenaga kesehatan profesional. Kami akan memiliki tenaga medis profesional bersama kami. Kami juga akan memiliki para pembangun ramah lingkungan bersama kami. Selain itu, kami akan memiliki penyelidik kejahatan perang bersama kami. Ini merupakan perbedaan dari misi sebelumnya,” tambah Sumeyra.
Merujuk pada upaya presiden AS untuk menyelesaikan genosida di Timur Tengah, aktivis tersebut menekankan bahwa inisiatif ini adalah “alternatif untuk rencana Trump”. Sebab, inisiatif ini akan melibatkan Palestina dan membiarkan mereka memutuskan sendiri “bagaimana mereka ingin membangun kembali tanah air mereka.”
Misi laut Global Sumud pertama terjadi pada pertengahan tahun 2025. Pada Oktober, pasukan angkatan laut Israel menyerang dan menyita lebih dari 40 kapal yang merupakan bagian dari armada bantuan kemanusiaan. Tel Aviv menahan lebih dari 450 aktivis yang berada di dalam kapal. Banyak di antara mereka menceritakan kisah-kisah mengerikan tentang penyiksaan yang mereka alami di tangan para penculik Israel.
Sumber: Middle East Monitor, Palinfo








