Gaza Humanitarian Foundation (GHF), lembaga yang dibentuk oleh AS dan Israel sebagai pengganti UNRWA, pada Senin (24/11) mengumumkan bahwa misi daruratnya di Jalur Gaza telah berakhir setelah sembilan bulan beroperasi. Dalam pernyataannya, GHF mengklaim telah menyalurkan lebih dari 187 juta makanan gratis kepada warga sipil Gaza. Direktur Eksekutif GHF, John Acree, menyebut operasi mereka “telah berhasil menunjukkan cara yang lebih baik dalam menyalurkan bantuan.”
Acree juga mengatakan bahwa model distribusi bantuan GHF akan diadopsi oleh Civil Military Coordination Center (CMCC) dan beberapa organisasi internasional lain. Sementara itu, PBB menegaskan bahwa pihaknya tidak pernah bekerja sama dengan GHF.
Namun sejak awal pembentukannya, GHF menuai kritik tajam. Lembaga ini dinilai gagal memenuhi target pasokan bantuan dan justru terlibat dalam sejumlah insiden mematikan di pusat-pusat distribusi, yang menjadikan warga yang kelaparan sebagai sasaran serangan. Di bawah kesepakatan gencatan senjata 10 Oktober, seharusnya 600 truk bantuan masuk ke Gaza setiap hari, namun Israel tidak mematuhinya dan tetap melancarkan serangan harian yang membunuh ratusan warga.
Dalam momentum pengumuman penutupan GHF, kelompok pejuang merilis pernyataan keras yang menegaskan bahwa lembaga tersebut terlibat dalam proyek genosida dan rekayasa kelaparan terhadap warga Palestina. Kelompok pejuang menilai metode distribusi bantuan GHF tidak mencerminkan kerja kemanusiaan, melainkan menjadi bagian dari sistem keamanan Israel yang memperparah situasi berbahaya dan merendahkan martabat warga. Ribuan orang menjadi korban akibat tembakan sniper dan serangan langsung ketika mencoba mengakses makanan.
Menurut Kantor Media Pemerintah Gaza, sejak implementasi mekanisme distribusi GHF pada 27 Mei, sebanyak 995 warga Palestina terbunuh, lebih dari 6.000 terluka, dan 45 hilang saat mencari bantuan pangan. Hamas menegaskan bahwa GHF merupakan simbol kegagalan proyek Israel dan sekutunya untuk memaksakan agenda mereka di Gaza.
Kelompok pejuang juga menyeru lembaga-lembaga hukum internasional untuk menuntut pihak yang bertanggung jawab atas GHF, agar tragedi serupa tidak terulang dan demi melindungi umat manusia dari praktik yang mereka sebut sebagai “terorisme internasional terstruktur.” Banyak organisasi internasional dan lembaga HAM sejak awal menolak terlibat dalam mekanisme GHF, menyebutnya sebagai sistem distribusi yang bias, membahayakan, dan merendahkan martabat manusia.
Sejak Oktober 2023, serangan brutal Israel di Gaza telah membunuh hampir 70.000 warga, mayoritas perempuan dan anak-anak, serta melukai lebih dari 170.900 orang, sementara sebagian besar wilayah Gaza berubah menjadi puing-puing.
Sumber: MEMO, Palinfo







![Mustafa Barghouti, pemimpin Partai Inisiatif Nasional Palestina, berbicara dalam konferensi pers mengenai krisis kemanusiaan dan situasi politik di Jalur Gaza, di kota Ramallah, Tepi Barat, pada 15 Oktober 2023 [JAAFAR ASHTIYEH/AFP via Getty Images]](https://adararelief.com/wp-content/uploads/2025/11/GettyImages-1726039320-scaled-e1699528235872-75x75.webp)
