Sejak 2006, Israel memblokade wilayah Gaza, dari sisi laut, udara, hingga darat. Akibatnya Gaza menjadi penjara terbuka terbesar di dunia bagi 2,3 juta penduduknya. Dengan kepadatan sekitar 6.300 orang per km², Gaza termasuk salah satu daerah terpadat di dunia. Beberapa bagian di utara Gaza bahkan memiliki kepadatan penduduk lebih dari 30.000 per km². Sebagai gambaran, Hongkong yang merupakan wilayah terpadat keempat di dunia memiliki kepadatan hingga 7.135 orang per kilometer persegi[1].
Blokade yang diberlakukan itu diperburuk dengan agresi militer di Gaza yang diluncurkan berulang kali oleh Israel. Namun, situasi sulit tersebut tidak dapat dibandingkan dengan apa yang terjadi sejak 7 Oktober, ketika Israel meluncurkan operasi Pedang Besi yang merenggut lebih banyak nyawa warga sipil.
Menurut kementerian kesehatan, hingga saat ini, jumlah korban terbunuh akibat pengeboman Israel dan operasi militer di Gaza telah melampaui angka 20.000 Jiwa. Per 29 Desember terdapat 21.825 korban terbunuh, termasuk 8.880 anak-anak dan 6.300 perempuan, sementara 559.727 orang tercatat sebagai korban luka. Angka tersebut jauh melampaui akumulasi jumlah korban jiwa dari seluruh eskalasi kekerasan pada masa lalu, yakni sejak 2007 hingga sebelum operasi Pedang Besi berlangsung.
Sementara itu, jumlah anak-anak yang dibunuh Israel di Gaza dalam kurun waktu lebih dari dua bulan ini telah melampaui jumlah total seluruh anak yang terbunuh setiap tahunnya sejak 2020 dalam konflik bersenjata di lebih dari 22 negara.

Tidak hanya menimbulkan korban jiwa dan luka, agresi genosida Israel juga telah menyebabkan penduduk Gaza terpaksa mengungsi. Hingga kini, jumlah pengungsi internal Gaza dua kali lipat lebih banyak daripada jumlah pengungsi internal pada 2014 akibat agresi.
Terdapat sekitar 85% atau 1,9 juta pengungsi internal di Gaza sejak dimulainya agresi Israel pada 7 Oktober, dan jumlah ini masih terus bertambah. Pengungsian berskala besar ini juga diiringi dengan krisis kemanusiaan yang semakin parah, seperti kekurangan listrik, makanan, air, dan obat-obatan, yang disebabkan oleh blokade total oleh Israel sejak 7 Oktober 2023. Hal ini memperburuk krisis kemanusiaan yang telah berlangsung lama akibat blokade selama 16 tahun.
Penduduk Gaza terpaksa mengungsi akibat desakan Israel untuk meninggalkan wilayah utara Gaza, dengan dalih “keamanan”. Demikian juga dengan penduduk di kawasan Bureij dan Nuseirat di Gaza tengah. Mereka dipaksa untuk berpindah ke area Deir el-Balah di selatan Gaza. Namun, alih-alih mendapat keamanan, pasukan Israel justru membombardir wilayah tersebut. “Kemana kami harus pergi? Tidak ada tempat yang aman,” kata Ziad, seorang petugas medis dan ayah enam anak, kepada kantor berita Reuters melalui telepon.
Pemandangan pengungsian massal kembali memenuhi Jalan Salah al-Din yang terhubung dengan pintu masuk Kamp Pengungsi Bureij. Salah al-Din, sebuah jalan yang membentang sepanjang Gaza, dijuluki sebagai “koridor kematian” oleh banyak orang di Jalur Gaza. Dalam evakuasi sebelumnya, warga Palestina yang melarikan diri dari wilayah utara Gaza telah ditangkap, ditembak dan bahkan dibunuh – meskipun jalur tersebut dinyatakan sebagai rute aman oleh tentara Israel.

Tiada hari tanpa dihujani bom. Israel telah meluluhlantakkan bangunan dan infrastruktur di Jalur Gaza melalui serangan udara. Pemerintah Gaza mengatakan lebih dari 50% unit perumahan di Gaza telah hancur, tidak dapat dihuni atau rusak sejak awal agresi. Per 29 Desember 2023, tercatat setidaknya 355.000 kerusakan bangunan. Sebanyak 25 rumah sakit rusak fatal, 23 rumah sakit kehabisan layanan, sekaligus 59 mobil ambulans hancur. Selain itu, lebih dari 51% institusi pendidikan terkena dampaknya, mengakibatkan lebih dari 625.000 anak tidak dapat bersekolah karena 75 sekolah hancur dan 285 sekolah lainnya hancur sebagian.
Bukan Sekadar Angka, Ini Nyawa!
Hanya dalam waktu tiga bulan, serangan Israel telah menimbulkan lebih banyak kerusakan daripada apa yang terjadi di Aleppo, Suriah, antara tahun 2012 hingga 2016. Juga lebih buruk daripada apa yang terjadi di Mariupol, Ukraina, atau bahkan jika dibandingkan dengan pengeboman Sekutu terhadap Jerman pada Perang Dunia II.
Selama intervensi di Libya, yang berlangsung dari Maret hingga Oktober 2011, Organisasi Perjanjian Atlantik Utara (NATO) dilaporkan menjatuhkan sekitar 7.700 bom. Serangan ini juga membunuh lebih banyak warga sipil daripada yang dilakukan koalisi pimpinan AS dalam tiga tahun melawan kelompok ISIS. Menurut Airwars, sebuah kelompok independen pemantau konflik yang berbasis di London, selama kampanye pada 2014–2017 untuk mengalahkan ISIS di Irak, koalisi tersebut melakukan hampir 15.000 serangan di seluruh negeri. Sebagai perbandingan, pada pertengahan bulan Desember militer Israel mengatakan bahwa mereka telah melakukan 22.000 serangan di Gaza.
Antara tahun 1942 dan 1945, sekutu menyerang 51 kota besar dan kecil di Jerman, menghancurkan sekitar 40–50% wilayah perkotaannya, kata Robert Pape, sejarawan militer AS. Pape mengatakan angka ini setara dengan 10% bangunan di seluruh Jerman, dibandingkan dengan lebih dari 33% di Gaza, wilayah padat penduduk yang luasnya hanya 140 mil persegi (360 kilometer persegi). “Gaza adalah salah satu hukuman kolektif bagi warga sipil paling intens dalam sejarah,” kata Pape. “Sekarang mereka berada di kuartil teratas dalam kampanye pengeboman paling dahsyat yang pernah ada.”
Di samping itu, menurut penilaian intelijen AS, sebagaimana dikutip oleh CNN, Israel telah menjatuhkan lebih dari 29.000 bom di Gaza sejak 7 Oktober 2023 hingga pertengahan Desember, dengan 40–45% di antaranya dijatuhkan secara sporadis atau tidak terarah. Sebagai perbandingan, bom nuklir Little Boy yang dijatuhkan Amerika Serikat di Hiroshima selama Perang Dunia II menghasilkan 15.000 ton bahan peledak berkekuatan tinggi dan menghancurkan segala sesuatu dalam radius satu mil (1,6 km).
Grafik di bawah ini membandingkan daya ledak kumulatif bom Israel yang dijatuhkan di Gaza dengan ledakan dahsyat lainnya. Dari sini sangat terlihat bagaimana kekejaman Israel yang bersenang-senang dengan bom sebagai mainannya.

Sementara itu, sampai saat ini jenis bom yang digunakan Israel belum diketahui secara lengkap. Militer Israel mengatakan bahwa mereka belum merinci bom apa saja yang digunakan. Meskipun demikian, para ahli senjata menarik kesimpulan dengan menganalisis pecahan ledakan yang ditemukan di lokasi, gambar satelit, dan video yang beredar di media sosial. Mereka mengatakan temuan ini hanya memberikan gambaran keseluruhan dari perang udara tersebut.
Sejauh ini, pecahan bom Joint Direct Attack Munitions (JDAM) buatan Amerika dan bom berdiameter lebih kecil telah ditemukan di Gaza, menurut Brian Castner, penyelidik senjata di Amnesty International. Bom JDAM mencakup “penghancur bunker” berbobot 1.000 dan 2.000 pon (450 kilogram dan 900 kilogram) yang dipandu secara presisi. “Ini mengubah bumi menjadi cair,” kata Marc Garlasco, mantan pejabat pertahanan Pentagon dan penyelidik kejahatan perang di PBB. Dia mengatakan ledakan bom seberat 2.000 pon di tempat terbuka berarti “kematian instan” bagi siapa pun yang berada dalam jarak sekitar 30 meter (100 kaki). Fragmentasi yang mematikan dapat meluas hingga 365 meter (1.200 kaki).
Para ahli juga telah mengidentifikasi pecahan bom seberat 2.000 pon SPICE (Smart, Precise Impact, Cost-Effective), yang dilengkapi dengan sistem panduan GPS untuk membuat penargetan lebih tepat. Castner mengatakan bom-bom tersebut diproduksi oleh raksasa pertahanan Israel, Rafael, namun rilis Departemen Luar Negeri baru-baru ini yang pertama kali diperoleh The New York Times menunjukkan beberapa teknologi tersebut telah diproduksi di Amerika Serikat. Militer Israel juga menjatuhkan bom “dumb” yang tidak terarah. Pada awal perang, angkatan udara Israel meluncurkan jet tempur dilengkapi dengan bom terarah.
Hingga hari ini, pengeboman dan serangan darat oleh militer Israel ke Gaza semakin intensif. Meskipun ada seruan berulang kali dari masyarakat internasional untuk gencatan senjata, Zionis Israel seolah tidak peduli. Pengeboman di Gaza hampir dua kali lebih besar dibandingkan pengeboman nuklir terbesar sepanjang sejarah dunia saat Perang Dunia II. Total bom yang ‘dimainkan’ dan jumlah korban jiwa yang dibunuh Israel, hanyalah angka bagi mereka.
Di Gaza, keamanan adalah kemustahilan, sebab di sana tidak ada tempat yang aman. Seruan evakuasi dari utara Gaza ke selatan oleh Israel hanyalah dalih titik kumpul untuk target pengeboman selanjutnya yang mendorong penduduk Gaza ke batas terakhir wilayah mereka. Ini adalah eksodus terbesar, ini adalah genosida yang tidak akan terlupakan sepanjang sejarah.
Vannisa Najchati Silma, S. Hum, S.Pd.
Penulis merupakan Relawan Adara Relief International yang mengkaji tentang realita ekonomi, sosial, politik, dan hukum yang terjadi di Palestina, khususnya tentang anak dan perempuan. Ia merupakan lulusan sarjana jurusan Sastra Arab, FIB UI.
Sumber:
https://www.bbc.com/news/world-middle-east-67764664
https://www.bbc.com/news/world-middle-east-20415675
UNDP. (2023). Gaza war: expected socioeconomic impacts on the State of Palestine https://www.undp.org/sites/g/files/zskgke326/files/2023-11/2301926E-Policybrief-GazaWAR-ESCWA-UNDP-English-4pm.pdf
https://www.pcbs.gov.ps/site/lang__en/1408/Default.aspx
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini
#Palestine_is_my_compass
#Palestina_arah_perjuanganku
#Together_in_solidarity
#فلسطين_بوصلتي
#معا_ننصرها








