Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan pakar internasional resmi menyatakan bahwa Gaza kini berada dalam kondisi famine (kelaparan massal). Situasi ini menjadi kasus pertama yang diumumkan di Timur Tengah. Laporan Integrated Food Security Phase Classification (IPC) menyebut lebih dari 500.000 warga Gaza telah terjebak dalam kelaparan ekstrem (fase 5), sementara lebih dari 1 juta lainnya berada pada fase darurat (fase 4).
Kementerian Kesehatan Palestina pada Senin melaporkan 11 kematian baru, termasuk dua anak, akibat kelaparan dan malnutrisi dalam 24 jam terakhir. Dengan demikian, total korban terbunuh akibat kelaparan sejak dimulainya agresi Israel telah mencapai 300 orang, termasuk 117 anak.
IPC memperingatkan bahwa dalam enam minggu, jumlah korban kelaparan bisa meningkat menjadi 650.000 jiwa atau sepertiga dari populasi Gaza. “Setiap keterlambatan, bahkan hanya beberapa hari, akan menyebabkan lonjakan yang tidak dapat diterima pada angka kematian terkait kelaparan,” tegas laporan itu.
Kondisi ini terjadi akibat blokade Israel yang menghalangi masuknya pangan, air bersih, obat-obatan, dan bantuan kemanusiaan. Rumah sakit dan sistem produksi pangan di Gaza juga hancur, membuat masyarakat bergantung pada sedikit bantuan yang masuk. Anak-anak, ibu menyusui, dan perempuan hamil menjadi kelompok paling rentan, dengan ribuan diperkirakan membutuhkan perawatan darurat akibat malnutrisi.
Komisioner Jenderal UNRWA Philippe Lazzarini menyebut situasi Gaza sebagai “neraka yang terwujud dalam semua bentuk”. Ia menegaskan bahwa kelaparan ini merupakan bencana buatan manusia dan pengkhianatan terhadap janji global “never again”. Lazzarini mendesak Israel untuk menghentikan penyebaran narasi palsu, membuka akses penuh bagi bantuan kemanusiaan, dan mengizinkan jurnalis internasional melaporkan kondisi lapangan secara independen.
Menurut hukum humaniter internasional, penggunaan kelaparan sebagai senjata perang merupakan kejahatan perang. Meski demikian, Israel terus membantah telah dengan sengaja membuat warga Gaza kelaparan, meski bukti dan jumlah korban terus meningkat.
Sumber:
MEE, Palinfo








