• Profil Adara
  • Komunitas Adara
  • FAQ
  • Indonesian
  • English
  • Arabic
Minggu, Januari 18, 2026
No Result
View All Result
Donasi Sekarang
Adara Relief International
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
No Result
View All Result
Adara Relief International
No Result
View All Result
Home Artikel Sorotan

Gencatan Senjata Bukan Alasan untuk Lupa: Palestina Masih Butuh Solidaritas Kita

by Adara Relief International
Desember 1, 2025
in Sorotan
Reading Time: 6 mins read
0 0
0
Anak-anak Palestina melihat matahari terbenam dari reruntuhan di Jabalia, Gaza (Reuters)

Anak-anak Palestina melihat matahari terbenam dari reruntuhan di Jabalia, Gaza (Reuters)

52
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsappShare on Telegram

Pada 29 November 1947, Sidang Majelis Umum PBB mengadopsi Resolusi 181 atau Resolusi Partisi yang membagi wilayah Palestina menjadi dua, yaitu wilayah untuk orang-orang Yahudi dan orang-orang Arab. Pada saat itu, PBB membayangkan dua negara dengan dua penduduk yang sangat berbeda bisa hidup berdampingan dengan aman dan damai. Akan tetapi, kenyataannya, hingga 78 tahun kemudian keamanan dan kedamaian itu belum juga terwujud.

Pada tahun 1977, PBB menetapkan tanggal 29 November sebagai Hari Solidaritas Internasional dengan Rakyat Palestina. Dipilihnya tanggal 29 November bukanlah tanpa alasan, melainkan sebagai pengingat bahwa pada tanggal tersebut, Israel telah memperkuat penjajahan dan sistem apartheidnya melalui pengesahan Resolusi Partisi.

Pada Hari Solidaritas Internasional dengan Rakyat Palestina tahun ini, tidak ada satu tema khusus yang diusung. Namun, PBB menyebutkan di laman resminya bahwa hari ini adalah pengingat bagi seluruh dunia bahwa rakyat Palestina memiliki hak atas martabat, keadilan dan penentuan nasib sendiri, hingga rakyat Palestina mendapatkan hak-hak mereka kembali, solidaritas dengan Palestina tidak boleh berhenti.

Resolusi Partisi, Pemisahan Wilayah Secara Ilegal Berdalih Perdamaian

Tenda-tenda pengungsi Palestina di antara kehancuran Kota Gaza (Reuters)
Tenda-tenda pengungsi Palestina di antara kehancuran Kota Gaza (Reuters)

Pengesahan Resolusi Partisi dilatarbelakangi oleh pengakuan kekalahan Inggris pada tahun 1947, yang telah diberi mandat atas Palestina sejak tahun 1922. Berbagai aksi kekerasan dan tindakan terorisme yang dilakukan oleh para pemukim Zionis dari Eropa pada saat itu membuat Inggris tidak sanggup mempertahankan posisinya. Serangan yang paling terkenal adalah pengeboman Hotel King David pada 1946, tempat kantor pusat administrasi Inggris berada, yang merenggut nyawa 91 orang.

 

Rangkaian serangan tersebut kemudian membuat pemerintah Inggris menyerahkan urusan Palestina kepada PBB dan secara resmi mengakhiri mandatnya. Kemudian pada 29 November 1947, Majelis Umum PBB di New York membagi Palestina menjadi wilayah Yahudi dan wilayah Arab. Meski keputusan tersebut mendapat penentangan keras, namun PBB menolak untuk menyerahkan masalah Palestina kepada Mahkamah Internasional (ICJ).

 

Rakyat Palestina pada masa itu terang-terangan menolak pengesahan resolusi tersebut. Mereka menegaskan bahwa PBB sama sekali tidak memiliki hak untuk membagi-bagi wilayah Palestina seolah itu hanyalah sepotong kue, terutama saat mayoritas penduduk menolak keputusan tersebut. Namun, meski mendapat banyak penentangan, Majelis Umum PBB tetap membagi wilayah Palestina menjadi tiga: wilayah Yahudi, wilayah Arab, dan wilayah yang dikelola secara internasional, termasuk Al-Quds (Yerusalem) yang berada di bawah tanggung jawab PBB.

 

Pada saat itu, populasi Yahudi hanya sepertiga (32 persen) dari total populasi, namun wilayah yang ditawarkan kepada mereka justru lebih besar, sekitar 55,5 persen yang mencakup kota-kota yang dihuni oleh mayoritas Arab seperti sepanjang garis pantai Haifa ke Jaffa. Akibatnya, selain orang-orang Arab Palestina terancam kehilangan tanah, mereka juga akan kehilangan sejumlah properti penting seperti lahan pertanian dan pelabuhan, sehingga masuk akal jika orang-orang Palestina menentang keras resolusi tersebut.

Jika PBB berdalih bahwa dengan mengesahkan Resolusi Partisi, maka akan terbentuk dua wilayah dengan dua penduduk yang bisa hidup berdampingan dengan damai, mereka salah besar. Alih-alih menciptakan perdamaian, pembagian wilayah yang dilakukan secara sepihak tersebut justru menjauhkan prospek perdamaian tersebut, bahkan membuat situasi menjadi semakin memburuk.

Tak lama setelah Resolusi Partisi disahkan, kelompok-kelompok bersenjata Zionis melancarkan kampanye pembersihan etnis di Palestina, yang tentunya memicu gerakan perlawanan dari kelompok-kelompok pejuang Palestina. Para sejarawan mendokumentasikan bahwa dalam waktu kurang dari enam bulan, sejak Desember 1947 hingga pertengahan Mei 1948, kelompok-kelompok bersenjata Zionis telah mengusir 440.000 warga Palestina dari 220 desa, untuk membersihkan wilayah Palestina sepenuhnya dari penduduk asli.

Hingga hari ini, dampak dari Resolusi Partisi masih dirasakan oleh penduduk Palestina. Banyak keluarga Palestina diusir dari rumah mereka sendiri, sekolah-sekolah ditutup secara paksa, dan lahan-lahan pertanian direbut oleh pemukim ilegal. Hingga detik ini, pembersihan etnis masih dilakukan secara terang-terangan oleh Israel, semakin menjauhkan janji perdamaian yang dulu digaungkan oleh PBB ketika mengesahkan Resolusi Partisi tahun 1947.

Baca Juga

Dari Tashrifeh Hingga Pembantaian: Penjara Israel Menjelma Neraka Bagi Tawanan Palestina

“Pandemi Disabilitas” Ciptakan Penderitaan Tak Berujung Bagi Perempuan dan Anak-Anak Gaza

Dampak Resolusi Partisi 1947: Pembersihan Etnis Besar-Besaran di Palestina

Penduduk Gaza berusaha mendapatkan makanan di dapur umum di Khan Younis (Reuters)
Penduduk Gaza berusaha mendapatkan makanan di dapur umum di Khan Younis (Reuters)

Tujuh puluh delapan tahun telah berlalu sejak pengesahan Resolusi Partisi, namun hingga kini, Zionis masih terus merebut paksa wilayah-wilayah Palestina dan mengusir penduduk aslinya. Di Jalur Gaza, Tepi Barat, Al-Quds (Yerusalem), maupun di wilayah jajahan tahun 1948, seluruh penduduk Palestina merasakan dampaknya. Banyak keluarga diusir dari rumah mereka sendiri, sekolah-sekolah dihancurkan, lahan pertanian direbut paksa, juga rangkaian penyerangan dan penangkapan yang seolah tidak pernah berakhir.

Pembersihan etnis besar-besaran oleh Zionis Israel yang dapat disaksikan oleh seluruh dunia kini terjadi di Jalur Gaza. Selama dua tahun terakhir, Zionis melakukan genosida terhadap dua juta penduduk Gaza, bahkan hingga kesepakatan gencatan senjata telah berlaku pun Zionis masih membuat penduduk Gaza menderita dengan melakukan blokade ketat terhadap truk bantuan yang membawa kebutuhan pokok. Gencatan senjata juga tidak memperbaiki apa-apa, sebab ratusan penduduk masih menjadi sasaran penyerangan.

Berdasarkan pernyataan UNRWA, sejak gencatan senjata berlaku pada 10 Oktober, hingga saat ini Israel masih melarang masuknya staf internasional UNRWA ke Jalur Gaza. Juru bicara UNRWA menyebutkan bahwa Israel hanya mengizinkan sekitar 170 truk yang masuk ke Gaza setiap harinya dari total 600 truk per hari sesuai kesepakatan. Jumlah itu bahkan tidak bisa memenuhi kebutuhan minimum penduduk. Sementara itu, sebanyak 6.000 truk bantuan masih tertahan di perbatasan karena tidak memperoleh izin masuk. Dari 10 Oktober hingga 25 November, hanya 5.458 truk yang telah mencapai tujuan mereka di dalam Gaza, menurut Data Pemantauan dan Pelacakan UN2720, yang memantau bantuan kemanusiaan di Gaza.

Data truk bantuan yang diizinkan memasuki Jalur Gaza (Al Jazeera)
Data truk bantuan yang diizinkan memasuki Jalur Gaza (Al Jazeera)

Saat ini, lebih dari 90 persen penduduk Gaza sangat bergantung pada bantuan kemanusiaan, dengan rata-rata keluarga hanya mampu makan satu kali dalam sehari, atau bahkan kurang dari itu. Israel telah melarang masuknya bahan makanan penting dan bergizi, termasuk daging, susu, dan sayuran. Sebaliknya, Israel hanya mengizinkan masuknya makanan tambahan dengan kadar gula tinggi, seperti camilan, cokelat, keripik, dan minuman ringan.

Di akhir tahun ini, sedikitnya 259.000 keluarga Palestina atau lebih dari 1,45 juta orang di Gaza tengah menghadapi musim dingin, termasuk hujan deras dan cuaca ekstrem tanpa perlindungan yang memadai karena Israel terus menghalangi masuknya tenda yang layak untuk melindungi keluarga-keluarga Gaza dari dingin yang menusuk tulang.

Gencatan senjata di Gaza tidak membuat genosida menjadi lebih baik. Sejak 10 Oktober 2025 hingga 22 November 2025, Al Jazeera menyebutkan bahwa Israel telah melanggar perjanjian gencatan senjata sebanyak 497 kali. Menurut Kementerian Kesehatan Palestina, sejak gencatan senjata berlaku, Israel telah membunuh 347 warga Palestina, melukai 889 orang, dan 571 jenazah ditemukan dari bawah reruntuhan. Menurut UNICEF, angka ini termasuk setidaknya 67 anak yang dibunuh sejak 10 Oktober 2025, dengan rata-rata dua anak per hari.

Di Tepi Barat dan Al-Quds (Yerusalem), kondisi juga masih sangat jauh dari kata stabil. Menurut OCHA, antara Oktober 2023 hingga November 2025, Israel telah membunuh setidaknya 1.012 warga Palestina, termasuk 215 anak-anak di Tepi Barat dan Al-Quds (Yerusalem) bagian timur. Di Tepi Barat utara, pasukan Israel telah memperbarui perintah militer sebagai bagian dari operasi “Tembok Besi” di Kamp Tulkarm yang berlangsung hingga 31 Januari 2026. Perintah tersebut membuat pembatasan keluar-masuk kamp semakin ketat sehingga 32.000 pengungsi Palestina terancam tidak bisa kembali.

Data korban jiwa dan korban luka sebelum dan setelah gencatan senjata Gaza (Al Jazeera)
Data korban jiwa dan korban luka sebelum dan setelah gencatan senjata Gaza (Al Jazeera

Solidaritas Adalah Tindakan Nyata, Bukan Kata Tanpa Makna

Layali Filastin pada Hari Solidaritas Internasional dengan Rakyat Palestina 2024 (Adara)
Layali Filastin pada Hari Solidaritas Internasional dengan Rakyat Palestina 2024 (Adara)

Hingga hari ini, berbagai bentuk penderitaan yang dialami oleh penduduk Palestina bisa kita saksikan secara nyata, baik dalam bentuk video live, berita tertulis, bahkan foto-foto yang diambil secara langsung di lokasi kejadian. Di dunia yang telah berkembang ini, tidak ada alasan bagi kita untuk mengatakan “tidak tahu” terhadap apa yang sedang terjadi. Kita tidak bisa menutup mata bahwa Palestina masih bergejolak, dan penduduknya masih membutuhkan solidaritas kita.

Banyak cara untuk menunjukkan rasa solidaritas terhadap Palestina, salah satunya dengan membersamai Adara dalam perjuangan. Tahun lalu, pada kesempatan Hari Solidaritas Internasional dengan Rakyat Palestina, Adara melaksanakan kegiatan “Layali Filastin” yang menampilkan pameran kebudayaan Palestina dan charity dinner. Tahun ini, Adara juga melaksanakan kegiatan yang sama, yang akan berlangsung di Al Jazeera Signature, Jakarta Pusat, pada 30 November 2025. Jika Sahabat Adara ingin berkumpul bersama teman-teman seperjuangan yang menyuarakan solidaritas terhadap Palestina, pendaftaran dapat dilakukan melalui tautan berikut: http://bit.ly/LayaliFilastin2025

Selain kegiatan Layali Filastin, tahun ini Adara juga menyelenggarakan kegiatan bertajuk “Roots of Resilience, A Comprehensive Perspective of Palestinian Steadiness”. Kegiatan ini diselenggarakan pada 29 November 2025, bertepatan dengan Hari Solidaritas Internasional dengan Rakyat Palestina. Diadakan di Perpustakaan Nasional RI, kegiatan ini mengundang Dr. Musthafa Barghoutti, Sekretaris Jenderal Inisiatif Nasional Palestina, selaku pembicara utama, juga mengundang tokoh-tokoh lainnya sebagai panelis seperti: Direktur Adara, Ir. Maryam Rachmayani, S.Th.I., M.M., Profesor Universitas Indonesia, Prof. Yon Machmudi, Ph.D, dan Prof. Hikmahanto Juwana, S.H., LL.M., Ph.D, serta Manajer Riset, Publikasi, dan Layanan Komunitas FISIP UI, Shofwan Al Banna Choiruzzad, Ph.D. Selain itu, juga akan ada sesi focus group discussion bersama aktivis dan jurnalis yang inspiratif.

Namun, jika belum berkesempatan untuk menghadiri “Layali Filastin” dan seminar tahun ini, Sahabat Adara tidak perlu berkecil hati, sebab perjuangan bukan hanya untuk orang-orang yang maju dan mengangkat pedang, tetapi juga bagi pihak-pihak di balik layar dengan kamera, tulisan, serta doa-doa tulusnya. Membaca tulisan ini hingga akhir pun juga merupakan satu bentuk solidaritas, yang semoga membuka tindakan-tindakan solidaritas yang lebih banyak. Teruslah membersamai Palestina bersama kami, sebab tanpa solidaritasmu untuk menonton video-video kami, membaca tulisan-tulisan kami, dan berdonasi melalui kami, maka perjuangan akan terlalu sepi dan berat untuk dijalani. Jangan lelah membersamai, hingga nanti kita akan berjumpa lagi, di Tanah Para Nabi yang diberkahi.

Salsabila Safitri, S.Hum.

Penulis merupakan Relawan Departemen Penelitian dan Pengembangan Adara Relief International yang mengkaji tentang realita ekonomi, sosial, politik, dan hukum yang terjadi di Palestina, khususnya tentang anak dan perempuan. Ia merupakan lulusan sarjana jurusan Sastra Arab, FIB UI dan saat ini sedang menempuh pendidikan magister di program studi linguistik, FIB UI.

Sumber:

Al Jazeera

Anadolu Agency

Anera

Middle East Monitor

Reliefweb

Reuters

TRT World

UNRWA

+972 Magazine

ShareTweetSendShare
Previous Post

Adara Resmi Luncurkan Saladin Mission #2 pada Hari Solidaritas Palestina

Next Post

Ribuan Anak Gaza Alami Malnutrisi Akut di Tengah Krisis Musim Dingin dan Akses Bantuan yang Terhambat

Adara Relief International

Related Posts

Banjir merendam tenda-tenda pengungsian di Gaza (Al Jazeera)
Artikel

Banjir dan Badai di Gaza: Vonis Mati Tanpa Peringatan

by Adara Relief International
Januari 7, 2026
0
59

“Saya masih tidak bisa menerima kenyataan bahwa kami selamat dari bom hanya agar anak-anak saya meninggal akibat badai,” demikian Mohammed...

Read moreDetails
Pemusnahan Umat Kristen: Bentuk Pembersihan Etnis Zionis yang Tak Pandang Bulu

Pemusnahan Umat Kristen: Bentuk Pembersihan Etnis Zionis yang Tak Pandang Bulu

Januari 7, 2026
30
Tawanan Palestina di penjara Sde Teiman (The Guardian)

Dari Tashrifeh Hingga Pembantaian: Penjara Israel Menjelma Neraka Bagi Tawanan Palestina

Desember 15, 2025
57
Seorang ibu di Gaza menunjukkan foto anaknya sebelum kakinya diamputasi karena serangan Israel (The New Arab)

“Pandemi Disabilitas” Ciptakan Penderitaan Tak Berujung Bagi Perempuan dan Anak-Anak Gaza

Desember 5, 2025
59
Potret kaki dua bayi di Gaza yang menderita malnutrisi (Reuters)

Dua Tahun Genosida dan Proyek Penghancuran Generasi Melalui Serangan Fisik dan Mental terhadap Anak-Anak Gaza

November 23, 2025
36
Tank Israel melewati jalan dengan bunga-bunga liar di dekat perbatasan Gaza (The Guardian)

Ecocide: Cara Israel Turunkan Kualitas Hidup Penduduk Gaza Melalui Perusakan Lingkungan

November 23, 2025
21
Next Post
Gadis Palestina berusia 7 tahun, Amire Muhammad al-Hawajiri, dirawat dengan sumber daya terbatas di Rumah Sakit Syuhada Al-Aqsa di Deir al-Balah, Gaza pada 20 November 2025. [Khalil Ramzi Alkahlut – Anadolu Agency]

Ribuan Anak Gaza Alami Malnutrisi Akut di Tengah Krisis Musim Dingin dan Akses Bantuan yang Terhambat

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TRENDING PEKAN INI

  • Perjuangan Anak-Anak Palestina di Tengah Penjajahan: Mulia dengan Al-Qur’an, Terhormat dengan Ilmu Pengetahuan

    Perjuangan Anak-Anak Palestina di Tengah Penjajahan: Mulia dengan Al-Qur’an, Terhormat dengan Ilmu Pengetahuan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sebulan Setelah “Gencatan Senjata yang Rapuh”, Penduduk Gaza Masih Terjebak dalam Krisis Kemanusiaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Adara Resmi Luncurkan Saladin Mission #2 pada Hari Solidaritas Palestina

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bantuan Sembako Jangkau Ratusan Warga Sumbar Terdampak Banjir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 1,5 Juta Warga Palestina Kehilangan Tempat Tinggal, 60 Juta Ton Puing Menutupi Gaza

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Currently Playing

Berkat Sahabat Adara, Adara Raih Penghargaan Kemanusiaan Sektor Kesehatan!

Berkat Sahabat Adara, Adara Raih Penghargaan Kemanusiaan Sektor Kesehatan!

00:02:16

Edcoustic - Mengetuk Cinta Ilahi

00:04:42

Sahabat Palestinaku | Lagu Palestina Anak-Anak

00:02:11

Masjidku | Lagu Palestina Anak-Anak

00:03:32

Palestinaku Sayang | Lagu Palestina Anak-Anak

00:03:59

Perjalanan Delegasi Indonesia—Global March to Gaza 2025

00:03:07

Company Profile Adara Relief International

00:03:31

Qurbanmu telah sampai di Pengungsian Palestina!

00:02:21

Bagi-Bagi Qurban Untuk Pedalaman Indonesia

00:04:17

Pasang Wallpaper untuk Tanamkan Semangat Kepedulian Al-Aqsa | Landing Page Satu Rumah Satu Aqsa

00:01:16

FROM THE SHADOW OF NAKBA: BREAKING THE SILENCE, END THE ONGOING GENOCIDE

00:02:18

Mari Hidupkan Semangat Perjuangan untuk Al-Aqsa di Rumah Kita | Satu Rumah Satu Aqsa

00:02:23

Palestine Festival

00:03:56

Adara Desak Pemerintah Indonesia Kirim Pasukan Perdamaian ke Gaza

00:07:09

Gerai Adara Merchandise Palestina Cantik #lokalpride

00:01:06
  • Profil Adara
  • Komunitas Adara
  • FAQ
  • Indonesian
  • English
  • Arabic

© 2024 Yayasan Adara Relief Internasional Alamat: Jl. Moh. Kahfi 1, RT.6/RW.1, Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Jakarta 12630

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
Donasi Sekarang

© 2024 Yayasan Adara Relief Internasional Alamat: Jl. Moh. Kahfi 1, RT.6/RW.1, Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Jakarta 12630