Pada Senin, 6 Februari 2023, Turki dilanda gempa dahsyat bermagnitudo 7,8 yang menelan puluhan ribu korban. Gempa bumi pertama terjadi pada pukul 01.17 GMT dan kurang dari 12 jam kemudian, gempa kedua bermagnitudo 7,6 melanda wilayah yang sama. Selama 36 jam terakhir, Turki dilanda lebih dari 100 gempa susulan berkekuatan lebih dari 4 M sejak gempa pertama yang berkekuatan 7,8 M melanda pada 6 Februari. Gempa yang berpusat di Distrik Pazarcik, Provinsi Kahramanmaras, Turki ini terasa hingga Suriah. Korban tewas mencapai lebih dari 41.232, yaitu 35.418 di Turki dan 5.814 di Suriah barat laut, per Rabu, 15 Februari 2023, saat upaya penyelamatan terus berlanjut. PBB mengatakan lebih dari 5,3 juta orang di Suriah diperkirakan kehilangan tempat tinggal setelah gempa bumi. Sementara itu, lebih dari 900.000 orang sangat membutuhkan makanan panas di Turki dan Suriah yang saat ini sedang berada pada musim dingin.
Turki telah mengumumkan keadaan darurat selama tiga bulan di 10 provinsi yang dilanda gempa. Dalam pernyataan yang dikeluarkan oleh Badan Anadolu yang dikelola pemerintah, Otoritas Manajemen Bencana dan Darurat Turki (AFAD) mendaftarkan daerah yang terkena dampak, yakni Kahramanmaras, Gaziantep, Sanliurfa, Diyarbakir, Adana, Adiyaman, Malatya, Osmaniye, Hatay, dan Kilis. Sementara di Suriah, daerah yang terkena dampak yaitu di seberang perbatasan di Provinsi Aleppo, Idlib, Hama, dan Latakia.

Tim penyelamat berpacu dengan waktu, bekerja di tengah salju, hujan, dan suhu dingin, yang turun hingga minus 8 derajat Celcius, untuk menggali sisa-sisa bangunan yang rata dengan gempa bumi. Cuaca buruk kerap menghambat operasi penyelamatan dan bantuan. Bangunan yang runtuh dan jalan yang hancur juga membuat sulit dalam menemukan korban selamat dan mengirimkan bantuan penting ke daerah yang terkena dampak. Namun demikian, di tengah kesulitan tersebut dan jumlah korban tewas yang terus meningkat hingga memudarkan harapan pencarian korban selamat, tim penyelamat tidak putus semangat untuk mengevakuasi korban.
Suara-suara di bawah reruntuhan bangunan yang kerap terdengar meminta pertolongan di telinga tim penyelamat, menghadirkan secercah harapan di tengah upaya penyelamatan korban. Di balik kehancuran dan keputusasaan, kisah ajaib tentang korban yang bertahan hidup terus bermunculan. Pelukan dan sorakan kesyukuran menyelimuti atmosfer lokasi pada setiap penemuan korban yang selamat setelah bertahan di bawah puing-puing bangunan.
Hamza, bayi berusia tujuh bulan itu ditemukan tidak bergerak. Ia diyakini tewas ketika penyelamat mencapai lokasi reruntuhan tempat bayi itu terjebak, di selatan Provinsi Hatay. Namun, setelah diperiksa, bayi itu ternyata masih hidup setelah bertahan selama lebih dari 140 jam. Ada pula Muhammad, pria berusia 27 tahun, yang berhasil ditarik hidup-hidup dari puing-puing bangunan yang rata dengan tanah di Provinsi Kahramanmaras selatan. Tim penyelamat bersorak dan meneriakkan, “Allahu Akbar!” ketika menyelamatkan Muhammad yang sedang melafalkan ayat-ayat Al-Qur’an selama penyelamatannya.[1]
Di Kota Antakya di Provinsi Hatay, selatan Turki, bayi berusia dua bulan ditemukan hidup 128 jam setelah gempa. Seorang gadis berusia dua tahun, seorang perempuan yang hamil enam bulan, seorang anak berusia empat tahun, serta ayahnya, termasuk di antara mereka yang diselamatkan. Huseyin Seferoglu, seorang penyandang disabilitas mental, juga ditarik dari puing-puing di Antakya. Pria berusia 23 tahun itu ditarik keluar dari reruntuhan 152 jam setelah gempa. Ismihan, perempuan berusia 85 tahun, juga diselamatkan di wilayah yang sama setelah terjebak di bawah reruntuhan selama 152 jam. Tolga Fakioglu, seorang pria berusia 34 tahun, diselamatkan pada Minggu (12/2) di Distrik Defne di Provinsi Hatay setelah terjebak di bawah reruntuhan selama 155 jam, sejak gempa pertama melanda negara itu.[2]
Turki berada di salah satu zona gempa paling aktif di dunia. Gempa berkekuatan 7,8 pada Senin (6/2) lalu adalah gempa terkuat yang melanda negara itu sejak 1999. Pada Agustus 1999, gempa berkekuatan 7,6 SR mengguncang Marmara, wilayah padat penduduk di selatan Istanbul, selama 45 detik. Dalam beberapa hari, jumlah kematian resmi mencapai 17.500. Berikut ringkasan gempa terburuk di Turki dalam 25 tahun terakhir:

Namun mereka yang selamat, tidak hanya menderita luka fisik tetapi juga luka ‘batin’ karena ditinggalkan sanak kerabat. Nihat, salah satu korban gempa yang selamat di Gaziantep dan berada di pusat bantuan, merasakan kondisi ini. Dia mengatakan bahwa para penyintas memiliki selimut agar tetap hangat, tetapi tidak ada yang bisa tidur karena kesedihan yang menyelimuti mereka. “Kami kehilangan rumah kami; kehilangan keluarga dan tetangga. Situasi ini sangat sulit. Kami punya selimut, minuman, tapi kami tidak [bisa] tidur di sini karena semua orang kehilangan teman, tetangga, dan lebih banyak orang yang ditemukan meninggal. Ketika gempa terjadi, saya mengira sebuah bom atom telah dijatuhkan di kota; itu adalah perasaan yang tak tergambarkan.”
Pada waktu kejadian, orang-orang berhamburan keluar, berlari ke segala arah menghindari gedung tinggi. Restoran Kebabçi Yalçin yang berada di lingkungan Gazimuhtar di Gaziantep, meski tidak terkena dampak sebesar di tempat lain, pemilik restoran menyaksikan kejadian traumatis tersebut. “Di jalan ini hanya ada gedung-gedung tinggi, orang-orang berlari ketakutan ke segala arah,” kata Taşdelen.
Beberapa waktu setelah kejadian, Taşdelen membiarkan restorannya terbuka untuk siapa saja yang membutuhkan tempat dan makanan yang hangat. “Jika kami tidak mati dalam gempa, kami mungkin mati kelaparan atau kedinginan,” kata Ahmet (64 tahun), sambil mengambil sepanci mie panas dari restoran tersebut. Ahmet memarkir mobilnya tidak jauh dari Kebabçi Yalçin, tempat dia tidur berhari-hari dengan istrinya, karena terlalu takut untuk kembali ke rumahnya setelah trauma.
Sebagai korban sepenanggungan, para penyintas gempa tidak hanya memikirkan dirinya sendiri, tetapi juga saling membantu. Terlepas dari situasi rumah yang tidak aman bagi mereka untuk kembali, mereka memutuskan untuk secara aktif membantu orang lain dalam situasi yang sama. Sepasang suami-istri, Huseyin Özyurtkan (50 tahun) dan istrinya, Burcu (42 tahun), menyiapkan makanan panas selama empat hari terakhir di sekitar area kastil yang rusak sebagian. “Kami mengalami masa-masa sulit dan kami semua harus bersama-sama menghadapinya dan menunjukkan solidaritas,” kata Özyurtkan. Istrinya memutuskan untuk menghabiskan hari ulang tahunnya, pada Minggu (12/2), untuk membantu mereka yang membutuhkan. “Tidak ada yang lebih penting daripada memikirkan orang lain saat ini,” katanya sambil mengencangkan jilbabnya dan kembali bekerja.
Koki Turki yang terkenal, CZN Burak Ozdemir tidak lagi tersenyum lebar seperti pada video-video aksi masaknya yang viral. Dia menangis tersedu-sedu atas bencana yang terjadi dan meminta dunia untuk membantu mereka yang terdampak gempa bumi. Dalam videonya yang lain, dia mengirimkan truk penuh bahan makanan dan kebutuhan lainnya ke daerah-daerah yang membutuhkan. Dia juga memasakkan makanan untuk para penyintas gempa di tempat pengungsian.
https://www.facebook.com/watch/?v=599124211549685
https://www.instagram.com/p/CoXC058oS_K/
Meskipun jauh dari lokasi bencana, masyarakat global juga ikut merasakan duka yang mendalam. Bencana gempa ini menggerakkan aksi solidaritas dari segala penjuru dunia. Seorang perempuan lansia berusia 75 tahun asal Sulaymaniyah, Irak, Khorshid Hussein Mohammed, menyumbangkan uang pensiun disabilitasnya kepada mereka yang terkena dampak gempa bumi. Ia tidak ragu untuk membantu korban bencana meski ia harus menyisihkan uang untuk pengobatannya sementara hidupnya berkekurangan. Khorshid lahir pada 1948 di Desa Bargurdi di Distrik Mawat dan harus meninggalkan desanya pada tahun 1989 karena penyerangan. Ketika dia melihat bencana di Turki pada saluran televisi, dia ingat masa sulitnya saat harus meninggalkan desanya dan menjadi tunawisma.
Khorshid mengatakan, ketika mendengar kampanye bantuan untuk korban gempa telah dimulai di Sulaymaniyah, dia langsung memutuskan untuk pergi ke pusat kota. “Saya membawa 50.000 dinar Irak (hampir setara 645 lira Turki) dari dana pensiun disabilitas saya dan beberapa pakaian,” katanya. “Meski sakit, saya pergi ke Sulaymaniyah dengan taksi. Saat itu hujan, dan saya tidak bisa tidur malam itu. Jantung saya berdegup kencang, dan saya menangis dalam perjalanan ke area kampanye,” tambahnya.

Lahir dan besar di Swiss, Zumra Melek Caliskan dan Nisanur Sahin rela berjualan kue untuk membantu korban bencana gempa. Siswa kelas empat yang keduanya berusia 10 tahun ini mengungkapkan kesedihan mereka atas gempa 6 Februari di Turki DAN suriah. Hasil dari berjualan kue akan mereka kirimkan ke Turki melalui badan bencana negara, AFAD. “Saya menempatkan diri saya pada posisi para korban dan memahami mereka,” kata Caliskan. “Saya memikirkan cara untuk membantu mereka dan inilah ide yang saya miliki. Awalnya, saya mengumpulkan buku dan mainan saya untuk dijual, kemudian saya dibantu oleh ibu, memutuskan untuk membuat kue.”
Dia mengatakan para pembelinya menghargai upaya tersebut, dan bahkan menyumbang tanpa membeli apa pun. Gadis kecil itu berkata bahwa mereka mengumpulkan 725 franc Swiss ($784) pada hari pertama, lebih tinggi dari perkiraannya. Sepupunya, Sahin, mengatakan mereka akan terus menjual kue dan mainan untuk membantu Turki sampai liburan musim dingin berakhir.

Adara Relief International juga turut berpartisipasi membantu korban bencana gempa Turki dan sekitarnya. Sebagai organisasi kemanusiaan yang fokus terhadap perlindungan anak dan pengembangan perempuan, Adara telah mendistribusikan bantuan dari Sahabat Adara ke berbagai wilayah terdampak, di antaranya adalah wilayah Jindires. Bantuan yang diberikan berupa sembako, makanan siap saji, pakaian hangat, selimut hangat, dan obat obatan. Bantuan kemanusiaan akan kembali disalurkan secara bertahap, dan dalam waktu dekat Adara juga akan menerjunkan langsung tim kemanusiaan yang akan melakukan penyaluran secara langsung kepada para korban gempa.
WHO mengatakan bahwa gempa Turki kemarin adalah bencana alam terburuk di Eropa selama satu abad ini. Bencana yang telah berdampak pada jutaan masyarakat di sekitarnya ini sangat membutuhkan uluran tangan untuk meringankan penderitaan mereka. Dengan segala kemampuan yang dimiliki, mari eratkan tali solidaritas dengan membantu saudara-saudara kita di Turki dan Suriah. Kalau bukan kita, siapa lagi?


Vannisa Najchati Silma, S. Hum
Penulis merupakan Relawan Adara Relief International yang mengkaji tentang realita ekonomi, sosial, politik, dan hukum yang terjadi di Palestina, khususnya tentang anak dan perempuan. Ia merupakan lulusan sarjana jurusan Sastra Arab, FIB UI.
Sumber:
- https://www.trtworld.com/turkey/you-re-a-miracle-remarkable-rescues-140-hours-after-t%C3%BCrkiye-quakes-65352 ↑
- https://www.trtworld.com/life/there-is-always-hope-more-survivors-found-158-hours-after-t%C3%BCrkiye-quakes-65363 ↑
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








