Sejak gempa magnitudo 5,6 melanda Cianjur pada Senin siang (21/11), gempa susulan masih terus terjadi hingga Jumat (25/11) dini hari. Dilansir dari laman resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa susulan itu kembali mengguncang pada pukul 03.51 WIB dengan kekuatan 3,4 M setelah sebelumnya terjadi pada pukul 01.44 WIB dengan kekuatan 4,1 M. Terakhir, gempa tersebut berpusat di darat 7 Km barat daya Cianjur, Jawa Barat dengan kedalaman 6 km.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB), per Kamis (24/11), jumlah korban tewas akibat gempa tersebut mencapai 272 orang. Sebanyak 31 warga Kampung Cugenang, Desa Cijedil, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, diduga masih tertimbun material longsor akibat gempa berkekuatan magnitudo 5,6 pada Senin (21/11). Selain terhambat oleh hujan, proses pencarian juga menghadapi material longsor yang masih mengalami pergerakan setelah terjadi gempa susulan berkekuatan magnitudo 3,8 pada Rabu (23/11).

Pencarian juga terkendala oleh minimnya peralatan. Diketahui, tim penyelamat bekerja dengan hanya menggunakan cangkul, sekop, dan linggis. Resimen II Pasukan Pelopor Brimob Polri mengerahkan 30 personel untuk mencari korban yang diduga tertimbun material longsor dan reruntuhan rumah. Tim gabungan juga mengerahkan anjing pelacak dari K-9 Polri, SAR Dog Indonesia, dan TNI untuk mencari di sejumlah titik yang diduga terdapat jenazah. Sementara itu, Pemkab Cianjur telah menetapkan masa tanggap darurat gempa bumi selama 30 hari sejak 21 November lalu.
Selain itu, puluhan ribu warga juga terpaksa mengungsi karena tempat tinggal rusak. Warga terdampak gempa di Kampung Rawacina, Desa Nagrak, Cianjur, mengungsi di area kuburan akibat rumah hancur. Mereka terpaksa tidur di atas kuburan selama empat hari terakhir. “99 persen rumah hancur di sini,” kata Ketua RT setempat, Dede Nuryati, di Kampung Rawacina, Kamis (24/11)

Di samping itu, terdapat kecemasan pada perempuan hamil yang mengungsi. Salah satunya seorang perempuan yang sedang hamil tua, Wiwi. Ia cemas dengan rencana kelahiran buah hatinya karena belum menerima bantuan perlengkapan bayi. Wiwi harus mengungsi di posko pengungsian warga di Kampung Gintung, Desa Mangunkerta, Kecamatan Cugenang. Kandungannya sudah berusia sembilan bulan dan diprediksi akan melahirkan bayinya pada 8 Desember 2022. Beruntungnya, bidan di lokasi pengungsian setiap hari mengecek kondisi kandungannya.
Di sisi lain, kekhawatiran pun muncul terutama mengenai kondisi di pengungsian dan kebutuhan bayi yang belum diterima. Wiwi berharap agar sebelum melahirkan ia bisa mendapatkan kebutuhan untuk sang buah hati. Setidaknya empat bayi tercatat dilahirkan di RSUD Sayang di tengah kondisi darurat pascagempa besar di Cianjur.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








