Suhu di Gaza telah melonjak hingga mencapai lebih dari 38 derajat Celcius (104 Fahrenheit) dalam beberapa pekan terakhir. Akibat suhu ekstrem tersebut, banyak penduduk Gaza menghadapi masalah baru: sesak napas.
Ismail Nashwan (65) adalah seorang penderita fibrosis paru. Fibrosis paru merupakan penyakit paru-paru kronis yang menyebabkan jaringan parut dan kekakuan di paru-paru. Bagi Nashwan, gelombang panas dan pemadaman listrik yang semakin parah telah menjadi mimpi buruk baginya. Dia mengandalkan ventilator untuk membantunya bernafas, tetapi alat tersebut tentunya membutuhkan listrik agar berfungsi. Sementara itu, dengan pemadaman listrik yang berlangsung sekitar 12 jam per hari, Nashwan harus bolak-balik antara rumahnya dan rumah sakit, agar dia dapat mengakses generator.
“Saya pergi ke rumah sakit, dan ketika saya kembali ke rumah, listrik padam lagi. Jadi, saya harus kembali lagi ke rumah sakit,” kata Nashwan. Ia berbicara melalui masker oksigennya yang dikelilingi kantong obat-obatan dan alat bantu pernapasan di kamarnya. “Beginilah hidup saya,” ujarnya.
Nashwan bukanlah satu-satunya korban. Menurut pejabat kesehatan Gaza, lebih dari 300 orang di Gaza lahir dengan cystic fibrosis atau kelainan genetik yang memengaruhi paru-paru dan sistem pencernaan. Mereka juga memperkirakan ada ratusan kasus fibrosis paru yang didapat, yang kemungkinan disebabkan oleh paparan debu, polusi, infeksi atau bahan kimia.
Pasien-pasien tersebut membutuhkan ventilator oksigen secara teratur dan obat-obatan untuk mengatasi kondisi mereka. Akan tetapi, krisis listrik dan kekurangan pasokan medis membuat mereka sulit mendapatkan perawatan yang memadai. Dokter Mohammad Al-Haj dari Rumah Sakit Shuhada Al-Aqsa Gaza, mengatakan panas ekstrem dan gangguan listrik telah meningkatkan jumlah pasien dengan masalah pernapasan yang mengunjungi rumah sakit pada bulan Juli dan Agustus – yang merupakan puncak musim panas.
“Pemadaman listrik menghilangkan hak pasien untuk mengakses ventilator oksigen reguler dan itu mendorong pasien untuk terus mengunjungi rumah sakit,” kata Haj. Salah satu pasien yang dimaksud adalah Abdel-Majeed Al-Sbakhi, yang menderita diabetes dan cystic fibrosis. Ia mengatakan sangat tidak tahan dengan suhu panas di rumah, yang memperburuk radang paru-parunya dan detak jantungnya. “Saya menghabiskan sebagian besar waktu saya di rumah sakit,” katanya.
Krisis listrik di Gaza bukanlah hal baru, melainkan telah menghantui Gaza selama bertahun-tahun. Krisis listrik merupakan akibat dari blokade Israel yang membatasi aliran bahan bakar dan sumber daya lainnya ke Gaza sejak 2007. Israel berdalih bahwa blokade ‘diperlukan’ untuk menghentikan pengiriman senjata kepada kelompok Hamas.
Mesir, yang juga berbatasan dengan Gaza, turut memberlakukan blokade untuk pergerakan barang dan orang dalam melintasi penyeberangan Rafah. Blokade tersebut telah menghancurkan ekonomi dan infrastruktur Gaza, menyebabkan 2,3 juta penduduknya menderita akibat krisis air, sanitasi, perawatan kesehatan, dan pendidikan.
Situasi semakin memburuk sejak Mei 2021, ketika Israel melancarkan serangan militer 11 hari terhadap Gaza. Serangan tersebut menewaskan lebih dari 250 warga Palestina, merusak serta menghancurkan ribuan rumah dan bangunan, termasuk saluran listrik dan gardu induk.
PBB telah memperingatkan bahwa Gaza sedang menghadapi bencana kemanusiaan dan menyerukan upaya rekonstruksi yang mendesak. “Saya berharap suatu hari nanti kami akan memiliki listrik yang stabil dan layanan kesehatan yang lebih baik,” kata Nashwan, “seperti orang-orang lain di dunia,” pungkasnya.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini
#Palestine_is_my_compass
#Palestina_arah_perjuanganku
#Together_in_solidarity
#فلسطين_بوصلتي
#معا_ننصرها








