Pada akhir pekan, tentara Israel mengumumkan bahwa mereka telah mengepung wilayah Jabalia di Gaza utara dan kembali mengeluarkan perintah pengusiran pada Selasa (8/10).
“Penembakan semakin intensif, menargetkan warga sipil dan rumah mereka, menyebabkan ketakutan dan teror yang mendalam di kalangan penduduk,” kata Ahmad al-Kahlut, Direktur UNRWA untuk Gaza utara.
Ia juga menyebutkan bahwa tentara Israel menargetkan kota-kota di bagian utara Gaza, termasuk Beit Lahia, Beit Hanun, dan Jabalia.
“Jalan-jalan telah ditutup, dan pengepungan berlanjut selama empat hari berturut-turut, tanpa ada pasokan yang masuk ke wilayah utara,” ujar Kahlut.
Menurutnya, “sejumlah besar” orang telah meninggal di Gaza utara dalam beberapa hari terakhir, tetapi penghitungan korban menjadi sulit karena “kendala dalam mengakses dan mengevakuasi semua wilayah yang terdampak.”
Kepala UNRWA, Philippe Lazzarini, menyatakan bahwa lebih dari 400.000 warga Palestina terjebak dalam situasi kritis di Gaza utara akibat serangan darat dan udara Israel. Dia juga menyoroti bahwa perintah evakuasi dari pihak Israel membuat warga terus-menerus mengungsi. Akibat serangan ini, layanan dan tempat penampungan UNRWA harus ditutup. Meski demikian, banyak warga tetap memilih bertahan di rumah mereka karena tidak ada tempat aman untuk melarikan diri di Gaza.
Euro-Med Human Rights Monitor, dalam sebuah pernyataan, mendesak agar “masyarakat internasional, yang dipimpin oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa, bertindak cepat dan tegas untuk menyelamatkan puluhan ribu warga yang menjadi sasaran salah satu kampanye genosida paling kejam yang pernah terjadi di Jalur Gaza.”
Dalam perkembangan yang semakin mengkhawatirkan, pasukan Israel memerintahkan evakuasi total Rumah Sakit Kamal Adwan di Beit Lahia, bagian utara Gaza. Direktur rumah sakit, Dr. Hussam Abu Safiya, melaporkan bahwa ia menerima telepon dari pasukan pendudukan yang memperingatkannya untuk mengevakuasi pasien dan staf medis dalam waktu satu hari, jika tidak mereka akan berada dalam bahaya.
Medical Aid for Palestinians (MAP) juga menyatakan “sangat khawatir” dengan perintah pemindahan paksa dari militer Israel di Gaza utara, yang telah membuat 300 pasien kritis terperangkap.
“Bayi baru lahir dari unit perawatan intensif neonatal yang didukung MAP di Rumah Sakit Kamal Adwan telah dievakuasi ke Rumah Sakit Patient Friends di Kota Gaza, namun ambulans ditahan di pos pemeriksaan militer,” tambah pernyataan itu.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di sini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








