Dalam sebuah pernyataan, Kementerian Kesehatan Gaza mengumumkan pada Rabu (04/02) bahwa Kompleks Medis Shifa menerima 54 jenazah warga Palestina yang dibunuh oleh pasukan Israel, bersama dengan 66 kotak berisi sisa-sisa tubuh manusia dan bagian-bagian tubuh. Penyerahan tersebut berlangsung melalui Komite Palang Merah Internasional, setelah mendapat persetujuan dari Israel.
Kementerian mengatakan tim medis segera mulai menangani jenazah sesuai dengan prosedur yang telah mendapatkan persetujuan. Staf telah berkoordinasi dengan pihak berwenang terkait penyelesaian, pemeriksaan, dokumentasi, dan akhirnya penyerahan kepada keluarga.
Para pejabat kesehatan menekankan bahwa proses tersebut tetap sangat sulit karena kekurangan alat forensik yang parah. Gaza kekurangan peralatan pengujian DNA, unit pendingin yang memadai, dan teknologi forensik modern karena blokade Israel yang berkelanjutan. Akibatnya, dokter sering mengandalkan catatan dasar dan informasi pribadi daripada metode identifikasi ilmiah.
Pada bulan November, Zaher al-Wahidi, kepala Unit Informasi Kementerian Kesehatan, menggambarkan skala krisis tersebut dalam komentarnya kepada Jaringan Berita Quds. Ia mengatakan Israel memindahkan empat kelompok jenazah dengan total 420 jenazah ke Gaza; dua kelompok ke Kompleks Medis Nasser dan dua lainnya ke Rumah Sakit Abu Youssef al-Najjar. Tim medis kemudian menemukan sekitar 50 jenazah tambahan di kuburan massal di dalam Rumah Sakit Shifa.
Al-Wahidi mengatakan pihak berwenang masih belum mengetahui apakah jenazah tersebut milik orang-orang yang baru saja meninggal atau milik tawanan yang jenazahnya dikembalikan setelah dimakamkan di tempat lain. Ia menambahkan bahwa pihak berwenang Israel memiliki catatan rinci untuk sejumlah jenazah, termasuk nama dan tanggal penangkapan. Akan tetapi, Israel menolak untuk membagikan informasi ini kepada pejabat kesehatan Palestina.
Para dokter yang memeriksa jenazah mengatakan banyak yang menunjukkan tanda-tanda penganiayaan. Ini menimbulkan kekhawatiran serius bahwa Israel menculik beberapa orang hidup-hidup sebelum membunuh mereka.
Israel Masih Menahan Ribuan Jenazah Warga Palestina
Dr. Ismail al-Thawabta, juru bicara Kantor Media Pemerintah, mengatakan krisis ini melampaui masalah logistik dan mencerminkan kegagalan moral yang mendalam. Pada November, ia mengatakan kepada QNN bahwa lebih dari 120 jasad tak dikenal telah dimakamkan sejak gencatan senjata. Ia menambahkan bahwa angka-angka ini hanya mencakup jenazah yang telah Israel kembalikan. Sementara itu, ribuan lainnya dimakamkan selama genosida tanpa identifikasi.
Al-Thawabta mengatakan Israel terus menahan ribuan jenazah warga Palestina di tempat yang terkenal dengan sebutan “pemakaman angka”. Di sana, kuburan hanya mendapatkan penanda kode tanpa nama. Ia mengatakan praktik ini merampas martabat para korban bahkan setelah kematian dan melanggar prinsip-prinsip kemanusiaan dasar. Ia juga menyatakan bahwa Israel memblokir masuknya alat uji DNA dan peralatan forensik modern ke Gaza, meskipun ada kesadaran internasional tentang krisis tersebut.
Sejak awal perjanjian gencatan senjata, Israel telah memulangkan jenazah 360 korban Palestina dalam 13 gelombang terpisah. Otoritas Palestina baru berhasil mengidentifikasi sekitar 100 di antaranya hingga saat ini.
Sumber: The Palestine Chronicle, Quds News Network








