Situasi kemanusiaan di Jalur Gaza kian memburuk. Delapan warga Palestina, termasuk dua anak, meninggal akibat kelaparan pada Sabtu (23/8), di tengah blokade ketat Israel terhadap bantuan kemanusiaan. Sistem Klasifikasi Fase Keamanan Pangan Terpadu (IPC) yang didukung PBB secara resmi telah menyatakan Gaza mengalami famine (kelaparan massal).
Analisis terbaru IPC menunjukkan lebih dari setengah juta penduduk Gaza kini terperangkap dalam kondisi kelaparan ekstrem, ditandai dengan kemiskinan parah dan kematian yang seharusnya dapat dicegah. Hingga kini, sedikitnya 281 orang, termasuk 114 anak, telah meninggal karena kelaparan akibat terbatasnya masuknya bantuan penting.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyebut krisis ini sebagai “bencana buatan manusia, dakwaan moral, dan kegagalan kemanusiaan itu sendiri.” Ia menegaskan bahwa kelaparan bukan sekadar soal makanan, melainkan runtuhnya sistem yang menopang kelangsungan hidup. Komisioner Jenderal UNRWA, Philippe Lazzarini, juga mendesak Israel untuk berhenti menyangkal krisis kelaparan yang ditimbulkannya dan menyerukan komunitas internasional untuk bertindak segera.
Di tengah krisis pangan ini, Israel terus melancarkan serangan udara. Pada Ahad (24/8), sedikitnya 35 warga Palestina terbunuh akibat serangan Israel, termasuk empat orang yang diserang di dekat lokasi distribusi bantuan di Netzarim dan Rafah. Pesawat tempur Israel juga menghantam sebuah sekolah dan masjid di kawasan Zeitoun, Kota Gaza, yang sudah hancur lebur akibat serangan sebelumnya.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan lebih dari 15.600 warga Gaza, termasuk 3.800 anak, membutuhkan evakuasi mendesak untuk perawatan medis. IPC memperkirakan kondisi kelaparan akan semakin meluas dari Kota Gaza ke Deir al-Balah dan Khan Yunis dalam beberapa pekan mendatang jika situasi tidak segera diatasi.
Sumber:
https://www.newarab.com/news/israel-continues-pound-gaza-famine-triggers-global-outcry
https://english.palinfo.com/news/2025/08/23/346221/








