IDAI telah menghimpun total 192 kasus gagal ginjal akut dari total 20 provinsi di Indonesia sejak Januari hingga saat ini, dengan komposisi pasien sebagian besar adalah balita. Buntut dari kasus tersebut, pemerintah mengimbau seluruh apotek untuk menyetop sementara penjualan obat bentuk cair atau sirup. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menginstruksikan seluruh apotek yang beroperasi di Indonesia untuk tidak menjual obat bebas dalam bentuk sirup kepada masyarakat. Pelarangan ini dikeluarkan hingga batas waktu yang belum ditentukan.
Ketetapan itu tertuang dalam Surat Edaran (SE) Nomor SR.01.05/III/3461/2022 tentang Kewajiban Penyelidikan Epidemiologi dan Pelaporan Kasus Gangguan Ginjal Akut Atipikal (Atypical Progressive Acute Kidney Injury) Pada Anak yang diteken oleh Plt Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan, Murti Utami, pada Selasa (18/10). Murti juga meminta agar seluruh tenaga Kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan untuk sementara tidak meresepkan obat-obatan dalam bentuk sediaan cair atau sirup sampai dilakukan pengumuman resmi dari pemerintah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Upaya itu dilakukan sebagai kewaspadaan atas temuan gangguan ginjal akut progresif atipikal yang mayoritas menyerang usia anak di Indonesia. Terlebih lagi pada waktu yang sama, diketahui bahwa penggunaan obat batuk sirup yang mengandung paracetamol menyebabkan kematian puluhan anak akibat gagal ginjal di Gambia. Kendati demikian, Ketua Umum Pengurus Pusat IDAI dr. Piprim Basarah juga mengingatkan bahwa rekomendasi itu tidak serta merta menyimpulkan paracetamol sirup sebagai penyebab temuan ratusan penyakit gangguan ginjal akut progresif atipikal di Indonesia. Ia menyebut pemerintah masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium.
Pada kasus gagal ginjal akut di Indonesia, DKI Jakarta menempati jumlah laporan terbanyak, yaitu mencapai 50 kasus, kemudian Jawa Barat dan Jawa Timur masing-masing 24 kasus, Sumatera Barat 21 kasus, Aceh 18 kasus, dan Bali 17 kasus. Lonjakan kasus bulanan tertinggi tercatat terjadi pada September 2022 dengan 81 kasus yang dilaporkan. Sejauh ini, belum ditemukan penyebab pasti dari kasus gangguan ginjal misterius pada anak di Indonesia. “Sebetulnya, penyebab gangguan ginjal misterius belum konklusif, belum mengerucut ke satu penyebab tunggal,” ujar Piprim.
Terdapat beberapa teori dugaan yang dikaitkan dengan penyakit misterius itu. Misalnya saja dugaan akan MIS-C atau multisystem inflammatory syndrome in children yang dipicu oleh Covid-19. “Tapi, ada juga [pasien] yang diobati seperti MIS-C, tapi tak membaik,” ujar Piprim. Lalu ada juga dugaan keterkaitan gangguan ginjal misterius dengan obat paracetamol sebagaimana yang terjadi di Gambia. Namun, tak semua pasien dilaporkan telah mengonsumsi obat yang dimaksud. Untuk itu, orang tua dianjurkan agar tidak panik, namun tetap waspada.
Sumber:
***
Tetaplah bersama Adara Relief International untuk anak dan perempuan Palestina.
Kunjungi situs resmi Adara Relief International untuk berita terbaru Palestina, artikel terkini, berita penyaluran, kegiatan Adara, dan pilihan program donasi.
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini seputar program bantuan untuk Palestina.
Donasi dengan mudah dan aman menggunakan QRIS. Scan QR Code di bawah ini dengan menggunakan aplikasi Gojek, OVO, Dana, Shopee, LinkAja atau QRIS.

Klik disini untuk cari tahu lebih lanjut tentang program donasi untuk anak-anak dan perempuan Palestina.







