Palestina dengan sejarah panjangnya tentang penjajahan menyimpan banyak sekali cerita yang tidak terungkap dunia. Selama ini media lokal maupun internasional hanya fokus memberitakan gejolak perang yang terjadi di Palestina.
Namun hal ini bukan berarti cerita Palestina hanya sampai disitu saja. Sebagai suatu negara, tentu saja Palestina memiliki keanekaragaman budaya sebagaimana negara yang lainnya, mulai dari pakaian, kesenian, dan juga kuliner. Dengan berjalannya waktu, keanekaragaman budaya Palestina mulai dilirik mata dunia internasional, terutama terkait budaya kuliner.
Dalam perkembangan dunia kuliner, saat ini kuliner Timur Tengah semakin dikenal dunia dan banyak diminati berbagai kalangan. Salah satu makanan khas Timur Tengah yang mendunia adalah falafel, falafel ini berasal dari Palestina dan merupakan makanan khas yang dimiliki warga Palestina. Secara bahasa, falafel berasal dari bahasa Coptic, yakni pha la phel yang berarti “banyak kacang”.
Hal ini sejalan dengan fakta bahwa falafel merupakan makanan dengan bahan dasar kacang arab yang digiling. Dalam pembuatannya, langkah pertama yang dilakukan adalah merendam kacang arab selama kurang lebih 6-8 jam agar empuk dan mudah untuk digiling.
Setelah direndam dengan kurun waktu tersebut, kacang arab digiling bersama dengan bawang putih, daun peterseli, daun bawang dan daun dill, kemudian setelah halus dimasukkan ketumbar, garam dan jinten untuk kemudian dicampurkan jadi satu.
Setelah tercampur, adonan falafel harus dimasukkan ke dalam kulkas selama 1-2 jam lamanya. Setelah mencapai batas waktu yang ditentukan, adonan falafel siap untuk digoreng. Adonan falafel digoreng dengan cara membentuk adonan menjadi bola-bola kecil terlebih dahulu lalu kemudian digoreng dalam minyak panas. Setelah ditiriskan, sekilas falalel ini terlihat seperti jajanan pasar biasa, tapi memang itu benar adanya. Di negara asalnya, Palestina, falalel ini adalah makanan kaki lima yang mudah dijumpai di mana-mana. Makanan ini juga biasa digunakan sebagai menu sarapan masyarakat Palestina.
“Falafel ini kalau di Indonesia seperti makanan yang dikonsumsi pagi hari ketika orang mau bekerja, seperti nasi uduk, hanya saja falafel ini gorengan.” Ujar Muhammad Husein dalam vlog di kanal YouTube-nya. Muhammad Husein juga berkata bahwa falafel ini adalah salah satu makanan favorit masyarakat Palestina.
Selain menjadi menu sarapan, falafel juga menjadi menu andalan masyarakat Palestina untuk berbuka puasa, kandungan nutrisi dalam falafel sangat kompleks dan cocok untuk mengembalikan stamina setelah seharian berpuasa. Selain itu falafel juga cocok menjadi menu berbuka puasa karena falafel tidak termasuk kategori makanan berat, sehingga setelah berbuka dengan falafel kita bisa melanjutkan menyantap menu utama.
Cara menyantap falafel juga terbilang tidak biasa selayaknya menyantap gorengan yang kita tahu. Untuk dapat menyantap falafel, setidaknya ada 2 cara populer yang biasa dilakukan, yang pertama adalah dimakan langsung dengan mencelupkannya pada saus hummus (sejenis selai kacang). Perpaduan antara falafel dengan hummus meninggalkan cita rasa yang unik dikarenakan keduanya sama-sama berbahan dasar kacang arab, hanya saja dalam pembuatannya hummus dicampurkan dengan minyak zaitun dan bahan tambahan lainnya yang kemudian diolah menjadi saus kacang.
Cara yang kedua adalah dimakan bersama dengan roti pipih tebal atau disebut juga lafa. Lafa yang berbentuk lingkaran diberi rongga ditengahnya, kemudian dimasukkan 2-3 buah falafel yang dihancurkan di dalam lafa, dan diberi tambahan sejumlah topping seperti salad sayuran dan saus tahini (saus berbahan dasar wijen), setelah itu falafel baru bisa disajikan dan disantap.
Falafel sebagai salah satu kuliner enak dari Timur Tengah, tepatnya Palestina kini semakin mendunia. Hal ini terbukti dengan dijadikannya falafel sebagai animasi doodle dalam Google Doodle. Google Doodle bertema falafel ini bisa dilihat oleh pengguna internet di Amerika Serikat, Amerika Selatan, United Kingdom, Selandia Baru dan Timur Tengah. Dalam Google Doodle itu tampak animasi falafel lengkap dengan mata, tangan, mulut dan kaki. Animasi falafel ini digambarkan sedang keluar dari sebuah roti yang tidak lain roti tersebut adalah lafa, makanan pendamping falafel. Falafel dalam Google Doodle ini dipakai sebagai pengganti huruf “o” dalam kata “Google”.
Sejalan dengan itu, salah satu perusahaan cepat saji asal Amerika yaitu McDonald’s juga sempat menyajikan sajian McFalafel di beberapa negara. Sajian ini banyak digemari berbagai kalangan di seluruh dunia, pantas saja jika McDonald’s melirik falafel sebagai salah satu menu yang mereka jual.
Tidak hanya sampai disitu, kepopuleran falafel juga merambah dunia film Hollywood. Jika Anda penggemar serial Batman, Anda bisa memperhatikan dalam film Batman Begins 2005 ada plot dimana seorang warga Gotham City membeli falafel di pinggir jalan kala hujan, dan setelah itu dia memakannya dengan lahap sambil berjalan meninggalkan sang penjual.
Kepopuleran falafel yang mendunia ini juga pernah menjadi bahan klaim pihak Zionis Israel. Dimana Zionis Israel pernah mengklaim bahwa falafel ini berasal dari Israel dan bukan dari Palestina.
“Pihak Zionis Israel pernah mengklaim bahwa falafel ini adalah makanan Israel. Subhanallah ya memang kalo sudah penjarah, perampas, pencuri itu gak kenal malu ya, semua pun mereka aku-akui”. Ujar Muhammad Gaza dalam vlognya yang bertajuk Falafel, makanan Palestina yang mendunia.
Dengan semua kepopuleran itu tidak menjadikan falafel sebagai makanan kelas atas dengan harga yang mahal. Harga falafel di pasaran dimulai dari Rp30.000an saja per 3 buah falafel dengan ukuran yang lebih besar dari biasanya. Dan lebih murah lagi jika falafelnya berukuran lebih kecil. Mengikuti perkembangan jaman, falafel juga banyak mengalami transformasi dan inovasi, diantaranya adalah falafel frozen food yang marak dijual di platform e-commerce, kemudian ada juga falafel gluten free yang banyak diburu oleh vegetarian. Tidak hanya sampai disitu, bahkan sekarang saus hummus pun ada dijual di pasar online. Dengan adanya inovasi baru ini, kini falafel mudah didapatkan siapa saja, dimana saja, dan kapan saja hanya dengan memesannya lewat platform e-commerce.
Kenikmatan falafel sudah terbukti dengan fakta bahwa banyak orang yang menyukainya di seluruh dunia. Didukung dengan perkembangan teknologi, kini pemasaran falafel juga bisa dilakukan secara online sehingga bisa mencapai seluruh pelosok negeri manapun.
Kepopuleran falafel ini juga menjadi bukti bahwasannya Palestina itu bukan hanya negeri dengan gejolak perang yang terjadi beratus-ratus tahun saja. Namun Palestina adalah sebuah negeri yang memiliki keanekaragaman budaya selayaknya negeri lainnya, dan pantas memiliki kedaulatannya sendiri.
Setelah membaca tulisan ini, apakah Anda tertarik untuk mencoba falafel?
Penulis: Yuliana Gustian
***
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini seputar program bantuan untuk Palestina.
Donasi dengan mudah dan aman menggunakan QRIS. Scan QR Code di bawah ini dengan menggunakan aplikasi Gojek, OVO, Dana, Shopee, LinkAja atau QRIS.

Klik disini untuk cari tahu lebih lanjut tentang program donasi untuk anak-anak dan perempuan Palestina.








