Pejabat Otoritas Palestina yang bertanggung jawab atas data permukiman di utara Tepi Barat telah memperingatkan eskalasi serangan teroris pemukim terhadap warga Palestina setempat. “Ada indikasi eskalasi serangan pemukim. Mereka melakukan aksi teroris terhadap warga Palestina dan harta benda mereka,” kata Ghassan Daghlas. Dia membuat klaimnya pada saat Kantor Nasional PLO untuk Pertahanan Tanah dan Perlawanan terhadap Permukiman telah mencatat setidaknya 110 serangan pemukim terhadap warga Palestina sejak awal Oktober. Setengah dari serangan ini terjadi selama sepuluh hari terakhir.
Serangan oleh pemukim ilegal terhadap orang-orang Palestina di wilayah pendudukan merupakan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan sebagai bagian dari strategi “pembersihan etnis” di Palestina. Kehadiran para pemukim dan permukiman tempat mereka tinggal merupakan kejahatan perang menurut hukum internasional. Kepala Staf Umum Pasukan Pertahanan Israel, Aviv Kochavi, telah memerintahkan komandan senior untuk “menekan tensi kekerasan” pemukim di Tepi Barat setelah serangan itu memicu kecaman internasional yang meluas.
Apa yang Kochavi katakan sangat kontras dengan pengumuman oleh pemerintah Israel pada Juli lalu mengenai proyek “Magen” yang menempatkan milisi pemukim untuk bekerja sebagai cadangan bersama tentara dan polisi. Selain itu, pemukim juga telah meminta izin kepada tentara untuk memasok mereka dengan senapan mesin M-4 dan M-16 karena senapan mesin otomatis tidak memadai untuk “membela diri”. Mengingat bahwa serangan pemukim umumnya tertuju terhadap warga sipil Palestina yang tidak bersenjata, ini menunjukkan bahwa pemukim mungkin berencana untuk meningkatkan keparahan serangan.
Badan-badan keamanan Israel tampaknya cemas tentang perkembangan ini. Mereka percaya bahwa ini dapat menyebabkan lebih banyak ketidakstabilan di wilayah Palestina. Beberapa bulan yang lalu, para pemukim mulai membentuk milisi yang disebut “Pengawal Sipil” untuk melakukan “operasi pembersihan” di jalan yang melewati Huwara, di selatan Nablus. Menurut PLO, milisi ini beroperasi di bawah pengawasan tentara pendudukan dan bergantung pada izin senjata api yang dikeluarkan oleh Administrasi Sipil yang dijalankan oleh perwira tentara.
Kantor Nasional PLO mengatakan bahwa kegiatan milisi ini tidak terbatas pada melindungi pemukim di jalan, seperti yang diklaimnya, tetapi justru melakukan operasi terorisme. Menteri Keamanan Dalam Negeri Israel, Omer Bar Lev, baru-baru ini mengakui bahwa para pemukim terlibat dalam “terorisme terorganisiasi” terhadap orang-orang Palestina di Tepi Barat. Kantor Nasional menunjukkan bahwa penyebaran senjata di tangan pemukim bukanlah fenomena baru atau sementara, dan bahwa penggunaan senjata tentara oleh pemukim untuk mengintimidasi warga Palestina bukan lagi rahasia.
Sebuah laporan video telah mendokumentasikan ketika seorang pemukim menembaki warga Palestina dengan menggunakan senjata kelas militer di Desa At-Tuwani, selatan Hebron pada 26 Juni. Sementara itu, baru-baru ini, seorang tentara Israel tertangkap kamera sedang menginstruksikan seorang pemukim tentang cara menggunakan bom gas terhadap warga Palestina di Kota Burin, selatan Nablus; video lain menunjukkan seorang Israel berseragam militer menyerahkan sebuah bom gas kepada pemukim dan mengarahkannya serta mengajarkan bagaimana menggunakannya.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini







