Setidaknya empat rumah sakit di Lebanon mengumumkan penghentian sementara layanannya di tengah berlanjutnya pengeboman Israel.
RS Sainte Therese di pinggiran selatan Beirut melaporkan dalam sebuah pernyataan yang disiarkan oleh Kantor Berita Nasional (NNA) resmi bahwa terjadi “kerusakan besar” dan “penargetan pesawat tempur Israel terhadap fasilitas sekitar rumah sakit tersebut pada Kamis menyebabkan terhentinya layanan rumah sakit,”
RS Mays al-Jabal di Lebanon Selatan yang berbatasan dengan Israel mengumumkan “penghentian layanan semua departemen,” dengan menyebutkan beberapa faktor termasuk “penargetan musuh terhadap rumah sakit” sejak Oktober lalu dan masalah pada jalur pasokan dan akses staf.
“Persediaan medis, solar, listrik, tidak ada satupun yang tersedia. Pasukan Sementara PBB di Lebanon (Unifil) membawakan kami air, tetapi sekarang mereka tidak bisa bergerak. Bagaimana rumah sakit dapat beroperasi tanpa air?” kata Dr. Halim Saad, direktur layanan medis RS Mays al-Jabal.
Rumah Sakit Pemerintah Marjayoun dan Rumah Sakit Salah Ghandour di Bint Jbeil, pusat perawatan kesehatan besar di sepanjang wilayah timur dan barat perbatasan Lebanon, mengumumkan penutupan mereka setelah tempat mereka diserang, mengakibatkan tujuh orang meninggal dan melukai 14 petugas kesehatan.
“Pintu masuk utama RS menjadi sasaran saat paramedis mendekat, sehingga menyebabkan tujuh orang meninggal dan lima orang terluka. Kami menganggap ini sebagai sebuah pesan (evakuasi), jadi kami memutuskan untuk menutupnya,” kata Dr. Mones Kalakish, Direktur RS Pemerintah Marjayoun. Ia menambahkan bahwa karena seringnya paramedis menjadi sasaran di Lebanon selatan, orang-orang yang terluka tidak dapat mencapai rumah sakit selama tiga hari terakhir.
Sumber: https://www.naharnet.com
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di sini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








