Kelompok hak asasi Palestina mengumumkan pada Rabu (29/01) bahwa dua tawanan asal Jalur Gaza gugur di penjara Israel. Pernyataan ini disampaikan bersama oleh Komisi Urusan Tawanan dan Mantan Tawanan, Masyarakat Tawanan Palestina, serta Addameer Prisoner Support and Human Rights Association.
Dua tawanan yang gugur tersebut adalah Mohamed al-Asali dan Ibrahim Ashour. Mohamed al-Asali diculik oleh pasukan pendudukan Israel (IOF) dari Rumah Sakit Al-Shifa di Gaza City pada Maret 2024. Pada awalnya, keluarganya menerima informasi bahwa ia berada di Penjara Ashkelon, tetapi kemudian mendapat pernyataan berbeda—pertama bahwa ia telah meninggal, lalu bahwa ia masih berada di Ashkelon. Pernyataan terakhir dari IOF akhirnya mengonfirmasi bahwa al-Asali meninggal pada 17 Mei 2024.
Al-Asali, seorang ayah dari empat anak, tidak memiliki riwayat penyakit kronis. Selama genosida, semua saudara laki-lakinya gugur, menyisakan hanya sang ayah sebagai anggota keluarga yang masih hidup. Ibunya, yang menjalani perawatan medis di Al-Quds (Yerusalem) yang diduduki, meninggal dan dimakamkan di Ramallah.
Sementara itu, Ibrahim Ashour diculik pada 14 Februari 2024 dari Rumah Sakit Nasser di Khan Yunis, Gaza selatan. Ia juga tidak memiliki masalah kesehatan sebelum ditawan. Ketiga organisasi tersebut menuding Israel sengaja membunuh tawanan Palestina dan memanipulasi informasi mengenai nasib mereka.
Dengan gugurnya al-Asali dan Ashour, jumlah tawanan Palestina yang dibunuh Israel sejak genosida di Gaza dimulai pada Oktober 2023 meningkat menjadi 58 orang, 37 di antaranya berasal dari Jalur Gaza.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di sini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








