Seorang “dokter seniman”, Ezz El-Din Lulu, mampu ‘menggambar’ senyum lebar di wajah penduduk di Jalur Gaza, ketika dia mengejutkan mereka dengan menggambar sosok mereka secara diam-diam. Seniman muda tersebut melihat wajah-wajah lelah dan mulai melukis detail mereka, sebagai penghargaan atas hidup mereka. Para penduduk meresponnya dengan reaksi tulus yang memberinya dorongan dan harapan untuk terus melanjutkan karirnya.
Gagasan yang menyatakan bahwa menggambar adalah bahasa universal untuk menyampaikan pesan, menghadirkan ide untuk menggambar karakter orang-orang yang lewat di jalanan. Lulu tampak sangat senang melihat reaksi orang-orang yang dia abadikan melalui gambarnya. Awalnya, dia mulai dengan dua polisi lalu lintas, seorang petugas kebersihan, kemudian lansia, anak-anak berkebutuhan khusus, anak kecil yang mendengar Al-Qur’an, bahkan seorang penjual termos. Ia mengatakan: “Senyum dan kebahagiaan yang tergambar di wajah mereka adalah salah satu hal terindah yang pernah saya lihat dalam hidup saya. Itu memberi saya energi dan dorongan psikologis.”
Keajaiban terjadi setelah klip video Ezz El-Din menyebar di media sosial, saat ia sedang menggambar seorang penjual termos. Dalam adegan yang mengharukan, tim pemrakarsa video kemudian tergerak untuk membeli gerobak untuk Jaber Khater, seorang penjual termos yang menderita dalam keadaan sulit, untuk membantunya mencari nafkah. Sang penjual termos segera mengucap syukur dan berterima kasih atas bantuan yang diberikan kepada dirinya.
Kreativitas sang “dokter seniman” muncul pada usia tujuh tahun. Awalnya dia menggambar di atas kertas lukisan, mulai dari kartun-kartun yang menemani masa kecilnya. Ia kemudian mengembangkan bakatnya hingga menguasai seni lukis realis, kemudian melukis di atas kanvas dengan cat warna akrilik dan pastel minyak. Bakatnya kemudian mengarah ke kreativitas dalam menggambar dan melukis dengan perangkat digital.
Lulu kemudian memilih untuk melanjutkan pendidikan menjadi mahasiswa kedokteran di Universitas Islam. Namun, ia tetap suka mengekspresikan idenya melalui konten artistik yang dia berikan. “Kedokteran adalah profesi saya dan menggambar adalah hobi yang saya kuasai,” katanya. Menurutnya, “bakat tidak mempengaruhi sains jika keseimbangan tercapai di antara mereka. Sebaliknya, ‘mencampurkan’ obat dan seni adalah hal lain yang dapat mengobati rasa sakit fisik dan psikologis orang-orang, dan membawa kebahagiaan ke hati mereka.”
Sumber:
***
Tetaplah bersama Adara Relief International untuk anak dan perempuan Palestina.
Kunjungi situs resmi Adara Relief International untuk berita terbaru Palestina, artikel terkini, berita penyaluran, kegiatan Adara, dan pilihan program donasi.
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini seputar program bantuan untuk Palestina.
Donasi dengan mudah dan aman menggunakan QRIS. Scan QR Code di bawah ini dengan menggunakan aplikasi Gojek, OVO, Dana, Shopee, LinkAja atau QRIS.

Klik disini untuk cari tahu lebih lanjut tentang program donasi untuk anak-anak dan perempuan Palestina.








