Direktur Jenderal Program Kesehatan Mental Gaza, Dr. Yasser Abu Jameh, mengatakan sebuah studi baru-baru ini menunjukkan bahwa delapan dari sepuluh anak di Jalur Gaza yang diblokade menderita tekanan psikologis.
Pada Hari Internasional untuk Mendukung Korban Penyiksaan, Dr. Abu Jameh menjelaskan bahwa studi dan penelitian telah menunjukkan efek psikologis agresi dan blokade terhadap orang-orang di Gaza. Pada 2022, Save the Children mengatakan bahwa mayoritas – atau 80 persen – anak-anak di Gaza menderita gangguan mental, tambahnya. Dia menambahkan bahwa dua pertiga orang tua di Jalur Gaza juga merasa tidak mampu memberikan dukungan yang memadai kepada anak-anaknya atau merasa tidak mampu menjalankan perannya sebagai orang tua.
Menurut Dr. Abu Jameh, masyarakat Palestina di Jalur Gaza yang diblokade menderita beberapa masalah, terutama akibat penjajahan dan blokade Israel. Penjajahan dan blokade mengakibatkan dua pertiga penduduk Gaza terpaksa menjadi pengungsi dan hampir setengahnya menganggur.
Dr. Abu Jameh juga mencatat beberapa statistik terbaru mengungkapkan bahwa lebih dari 200.000 warga di Jalur Gaza, dan setidaknya sepersepuluh penduduk saat ini masih mengalami kesulitan psikologis yang mencapai tingkat gangguan mental sedang hingga berat.
“Tentu saja, statistik ini sejalan dengan banyak statistik internasional yang mengonfirmasi bahwa sekitar 10% populasi di daerah yang terkena bencana kemanusiaan atau dampak perang menderita penyakit mental sedang hingga berat,” katanya.
Sumber:
***
Kunjungi situs resmi Adara Relief International
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.
Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini
Baca juga artikel terbaru, klik di sini








