Di lorong sempit kamp pengungsi Khan Yunis, Yasmin Abu Soltan menggendong tubuh putrinya yang kurus dan nyaris tak bernyawa. Wateen, bayi berusia satu tahun, tak lagi menangis—hanya terengah-engah. Kulitnya berbintik, tulang rusuk menonjol, dan jari-jarinya tak lagi bisa menggenggam.
“Dia dulu menggenggam erat jemari. Kini tangannya hanya terkulai lemas. Saya hanya berharap bisa membuatnya hidup satu malam lagi,” kata Yasmin kepada The New Arab. Wateen lahir saat perang Israel di Gaza sedang berlangsung, di sebuah sekolah PBB yang dijadikan tempat perlindungan. “Tanpa cahaya, tanpa dokter, dan tanpa susu. Tapi dia bertahan dan lahir di bawah pengeboman—saya pikir dia bisa bertahan dalam situasi apa pun,” tambahnya.
Namun di Gaza, bertahan hidup bukan soal kekuatan. Susu bubuk tak tersedia, ASI pun berhenti mengalir. “Dokter bilang organ tubuhnya mulai berhenti bekerja,” kata Yasmin.
Di wilayah yang sama, Umm Zainab menggenggam selimut kecil milik putrinya, Zainab, yang meninggal tiga hari lalu karena kelaparan di usia enam bulan. “Dia menangis minta susu, tapi saya tak punya apa-apa. Dia meninggal dalam pelukan saya, matanya terbuka, seolah masih memohon,” tuturnya.
Rumah sakit kosong, rak-rak bantuan kosong, dan kelaparan membunuh warga satu per satu secara diam-diam. Dalam 24 jam terakhir, lima orang meninggal karena kelaparan, dengan total korban mencapai 180 jiwa, termasuk sedikitnya 93 anak, menurut Kementerian Kesehatan Gaza.
Anak-anak Gaza bukan hanya kehilangan nutrisi, tapi juga identitas. Mereka tak lagi bermain atau belajar berjalan, melainkan terbaring diam dalam tenda dingin, menunggu ajal. Huda Abu al-Naja, 12 tahun, yang kini hanya memiliki berat 19 kilogram dari sebelumnya 30. Menderita penyakit celiac, ia tak bisa makan roti yang menjadi satu-satunya makanan yang ada. “Dia hanya bisa terbaring, bahkan air akan membuatnya muntah,” kata ibunya.
Tenaga medis di RS al-Shifa menggambarkan anak-anak yang datang sebagai “hampir tak bernapas, sudah tak bisa diselamatkan.”
Kepala UNRWA, Philippe Lazzarini, menyampaikan pesan dari stafnya di Gaza: “Orang-orang di sini tidak hidup, tidak pula mati. Mereka mayat berjalan.” UNICEF menyebut situasi ini sebagai “mimpi buruk yang terjadi di depan mata,” dengan jumlah anak kekurangan gizi meningkat empat kali lipat sejak Januari.
Laporan Integrated Food Security Phase Classification mencatat lebih dari 470.000 orang di Gaza hidup dalam kondisi kelaparan ekstrem (fase 5), termasuk 71.000 anak dan 17.000 ibu yang membutuhkan bantuan nutrisi darurat. Jumlah anak yang membutuhkan perawatan gizi tahun ini telah melampaui proyeksi tahun 2025—menunjukkan betapa cepat krisis ini memburuk.
Meskipun dunia terus menyerukan gencatan senjata dan akses bantuan kemanusiaan, Gaza tetap terkepung. Bantuan masuk terlalu sedikit dan terlalu lambat. Pengepungan ini secara efektif menjadikan kelaparan sebagai senjata.
Di Deir al-Balah, Umm Yahya Awad setiap pagi mengunjungi makam putranya, Yahya, yang meninggal bulan lalu karena kelaparan di usia tiga tahun. “Saya mencoba memberinya apa pun—daun liar, air nasi, roti basi. Tapi tubuhnya terus melemah. Ketika saya membawanya ke rumah sakit lapangan, mereka bilang dia sudah meninggal,” ujarnya pelan. Kini ia datang ke makam bukan karena rutinitas, melainkan agar “Yahya tidak merasa sendirian.”
Di balik setiap angka, ada nama, wajah, dan harapan yang hancur. Anak-anak seperti Wateen, Zainab, Huda, dan Yahya bukan sekadar korban. Mereka adalah jiwa-jiwa kecil yang perlahan memudar di tengah dunia yang terlalu lambat bertindak.
Sumber:
https://www.newarab.com/news/gazas-children-are-disappearing-israeli-imposed-starvation








