Sejak Senin (13/10) pagi buta, ratusan ibu, ayah, dan anak-anak menunggu di depan Rumah Sakit Nasser di Khan Younis, Gaza selatan, sambil membawa foto orang-orang tercinta dan bendera Palestina. Wajah mereka memancarkan kelelahan bercampur harapan.
Bus-bus yang membawa para tawanan melintasi perbatasan Karem Abu Salem (Kerem Shalom) disambut dengan sorak-sorai dan nyanyian. Banyak di antara mereka telah menghabiskan bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun, di penjara Israel sebelum segera dibawa ke Rumah Sakit Nasser untuk menjalani pemeriksaan medis.
Umm Mahmoud Abu Oweida, dari Kamp Pengungsi Jabalia, telah menunggu selama 17 bulan untuk memeluk putranya, Mahmoud, yang ditangkap dalam penggerebekan Israel pada Mei 2024.
“Rasanya seperti mimpi. Aku tak pernah membayangkan akan memeluknya lagi,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
Namun di tengah kebahagiaan, banyak keluarga juga dihadapkan pada kenyataan pahit. Para tawanan yang bebas harus kembali ke tanah air yang telah luluh lantak—rumah-rumah hancur, lingkungan berubah menjadi puing, dan banyak orang terkasih telah tiada.
“Aku kehilangan segalanya dalam agresi ini, tapi hari ini aku mendapatkan kembali anakku,” kata Huda Abu Ali, yang putranya dibebaskan setelah delapan tahun penahanan. “Kebebasan ini terasa hampa tanpa kehadiran keluarga yang telah pergi.”
Bagi Abu Khaled al-Nuwairi, momen kebebasan juga dibayangi kesedihan mendalam. Putranya, Khaled (23), ditangkap pada April 2024 saat membantu korban luka di Rumah Sakit Al-Shifa.
“Mereka menangkapnya di depan mataku. Aku kehilangan istri dan empat anak ketika rumah kami dibom. Hari ini aku berharap mereka masih ada untuk menyaksikan ini. Kebebasan terasa kecil ketika segalanya telah hilang,” ujarnya lirih.
Penyiksaan, Penyakit, dan Kelaparan di Penjara Israel
Meski ratusan tawanan dibebaskan, lebih dari 9.100 warga Palestina masih berada di kamp-kamp Israel dan mengalami penyiksaan sistematis. Mereka menghadapi pemukulan, sengatan listrik, kekerasan seksual, kelaparan, serta penolakan akses terhadap obat-obatan. Banyak di antaranya menderita penyakit kronis dan infeksi kulit seperti kudis.
Unit khusus seperti Metzada, Nahshon, dan Keter kerap melakukan penggerebekan malam ke dalam sel menggunakan gas air mata dan granat kejut. Setidaknya 78 tawanan terbunuh dalam penjara sejak awal genosida di Gaza. Israel juga menahan jenazah 726 warga Palestina, termasuk 67 anak-anak.
Keluarga para tawanan, khususnya di Tepi Barat dan Al-Quds (Yerusalem), menghadapi intimidasi dan ancaman penangkapan karena merayakan kebebasan kerabat mereka. Sedikitnya 70 tawanan yang telah dibebaskan sebelumnya kembali ditangkap.
Sejarah Panjang Pertukaran Tawanan Palestina
Pertukaran tawanan telah menjadi bagian penting dari perjuangan rakyat Palestina selama lebih dari lima dekade. Hal ini bukan hanya kemenangan taktis, melainkan juga simbol keteguhan dalam menghadapi pendudukan.
1968 – Pertukaran Pertama: PLO menukar 37 tawanan Palestina dengan penumpang pesawat El Al yang dibajak.
1971 – Pertukaran Mahmoud Bakr Hijazi: Fatah menukar tentara Israel Shmuel Faiz dengan pejuang Palestina pertama yang ditangkap, Mahmoud Hijazi.
1979 – Operasi Al-Nawras: PFLP-GC menukar seorang tentara Israel dengan 76 tawanan Palestina dan Lebanon, termasuk 12 perempuan.
1983 – Kesepakatan Penjara Ansar: Fatah membebaskan 4.700 tawanan Palestina dan Lebanon dari Kamp Ansar sebagai imbalan atas enam tentara Israel.
1985 – “Operasi Galilea”: PFLP-GC menukar tiga tentara Israel dengan 1.150 tawanan Palestina, salah satu pertukaran terbesar dalam sejarah.
2009–2011 – Kesepakatan Gilad Shalit: Israel membebaskan 1.027 tawanan Palestina untuk menukar prajuritnya, Gilad Shalit, yang ditahan selama lima tahun.
2023–2025 – Pertukaran Perang Gaza: Selama genosida di Gaza, Hamas melakukan tiga kesepakatan besar, membebaskan hampir 4.000 tawanan Palestina melalui mediasi Mesir, Qatar, dan AS.
Kementerian Urusan Tawanan di Gaza menyebut pembebasan ini sebagai “langkah penting untuk mengakhiri penderitaan ribuan warga Palestina di penjara Israel.” Mereka juga mendesak komunitas internasional agar terus menekan Israel untuk membebaskan seluruh tawanan. Analis politik Ramallah, Esmat Mansour, menilai kesepakatan ini “memperlihatkan sisi kemanusiaan di permukaan, namun sarat kepentingan politik.”
“Dunia tidak boleh berdiam diri ketika wajah lain dari genosida terus terjadi di balik tembok penjara Israel,” tegas Otoritas Urusan Tahanan Palestina dalam pernyataannya.
Sumber:
Qudsnen, The New Arab








