• Profil Adara
  • Komunitas Adara
  • FAQ
  • Indonesian
  • English
  • Arabic
Sabtu, Februari 21, 2026
No Result
View All Result
Donasi Sekarang
Adara Relief International
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
No Result
View All Result
Adara Relief International
No Result
View All Result
Home Artikel

Deteksi Dini Kanker Payudara, Selamatkan Kehidupan Perempuan

“Kisah Inspirasi Perempuan Indonesia dan Palestina Penderita Kanker Payudara”

by Adara Relief International
Oktober 28, 2022
in Artikel
Reading Time: 14 mins read
0 0
0
Deteksi Dini Kanker Payudara, Selamatkan Kehidupan Perempuan
46
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsappShare on Telegram

Kanker Payudara di Indonesia

Nama Rima Melati mungkin sudah tidak asing di telinga kita, terutama bagi pecinta film-film Indonesia. perempuan yang bernama lengkap Marjolien Tambajong tersebut merupakan salah satu aktris senior yang sering menghiasi layar kaca perfilman Indonesia dan pernah mendapatkan penghargaan Piala Citra Festival Film Indonesia sebagai aktris terbaik untuk perannya di film Intan Berduri. perempuan Indonesia yang berprestasi ini baru saja berpulang pada 23 Juni 2022, setelah bertahun-tahun berjuang melawan penyakit kanker payudara.

Rima pertama kali divonis menderita kanker payudara pada 1989, dan mengaku kaget ketika menerima vonis penyakit mematikan tersebut. “Siapa yang mau besarkan anak-anak saya? Saya mohon kepada Tuhan, dokter di atas segala dokter, saya ingin anak-anak saya tetap sehat, jangan ada yang seperti saya,” tutur Rima.

Terlepas dari penyakitnya, Rima adalah salah satu perempuan hebat Indonesia yang menjalankan peran sebagai ibu, perempuan karir, dan anggota masyarakat dengan sangat baik. Belajar dari pengalamannya, Rima menyadari pentingnya untuk mencegah dan mendeteksi sedini mungkin penyakit kanker payudara. Oleh karena itu, pada tanggal 19 Agustus 2003, Rima Melati bersama sejumlah tokoh lainnya seperti Linda Agum Gumelar, Tati A.M. Hendropriyono, Andy Edrianto Sutarto, dan (Alm) Dr. Sutjipto, Sp.B(K)Onk., mendirikan Yayasan Kesehatan Payudara Jakarta (YKPJ) yang sekarang dikenal dengan nama Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI).

Rima Melati dalam salah satu acara YKPI (https://www.yayasankankerpayudaraindonesia.org)

Kisah Rima adalah satu di antara banyak perempuan lainnya yang berjuang melawan kanker payudara. Data Globocan 2020 menyebutkan bahwa kasus kanker payudara di seluruh dunia menempati urutan pertama kejadian kanker dengan 2,3 juta kasus dan 680 ribu kematian dari total 19,2 juta kasus kanker secara umum yang mengakibatkan kematian 9,9 juta jiwa.[1]

Di Indonesia, Kementerian Kesehatan telah mengonfirmasi bahwa kanker payudara menempati urutan pertama terkait jumlah kanker terbanyak di Indonesia, serta menjadi salah satu penyumbang kematian pertama akibat kanker. Berdasarkan data Globocan tahun 2020, jumlah kasus kanker payudara mencapai 68.858 kasus (16,6%) dari total 396.914 kasus baru kanker di Indonesia dan jumlah kematiannya mencapai lebih dari 22 ribu jiwa. [2]

Yang lebih memprihatinkan, sebanyak 70% kasus baru terdeteksi ketika sudah mencapai tahap stadium lanjut, yang juga menjadi salah satu penyebab tingginya angka kematian akibat kanker payudara. Padahal, sekitar 43% kematian akibat kanker bisa dikalahkan apabila pasien rutin melakukan deteksi dini dan menghindari faktor risiko penyebab kanker.[3]

Tingginya angka kematian akibat kanker payudara membuat pemerintah memberikan perhatian lebih terhadap penanganan kanker di Indonesia, salah satunya melalui program Kemenkes yang tertuang dalam Rencana Aksi Nasional Kanker 2022. Dalam ketentuan ini, Strategi Nasional Penanggulangan Kanker Payudara Indonesia mencakup 3 pilar yakni promosi kesehatan, deteksi dini, dan tatalaksana kasus. Ketiga pilar tersebut menargetkan 80% perempuan usia 30–50 tahun dideteksi dini kanker payudara, 40% kasus didiagnosis pada stage 1, 2, dan 90 hari untuk mendapatkan pengobatan.

Kementerian Kesehatan juga mendapat bantuan dari Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) untuk memberikan edukasi dan penanganan terhadap kasus kanker payudara. Memiliki visi “Indonesia bebas kanker payudara stadium lanjut”, YKPI memiliki target untuk menurunkan angka kejadian kanker payudara stadium lanjut, meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat terhadap kanker payudara, dan menemukan kanker payudara pada stadium dini.

Salah satu program unggulan yang dilaksanakan oleh YKPI untuk mencapai target tersebut adalah dengan melakukan sosialisasi skrining dan deteksi dini kanker payudara. Sejak 2016–2021, program tersebut telah berhasil menjangkau lebih dari 150.000 peserta, baik secara luring maupun daring. Selain itu, YKPI juga membantu menyediakan mobil mammografi serta aktif melakukan praktik SADARI (Periksa Payudara Sendiri) bagi masyarakat awam dan kader kesehatan.

Dengan dijalankannya program-program tersebut, diharapkan akan semakin banyak penduduk Indonesia yang teredukasi mengenai pentingnya mencegah dan mendeteksi sedini mungkin penyakit kanker payudara. Dengan melakukan pemeriksaan dini, para penderita kanker payudara dapat ditangani lebih awal, sehingga mengurangi risiko kanker menjadi semakin ganas, bahkan diharapkan penderita kanker dapat sembuh seratus persen dari penyakitnya.

Kanker Payudara di Palestina

Kanker Payudara di Palestina

Tidak jauh berbeda dengan di Indonesia, kanker payudara juga menjadi sumber ketakutan para perempuan Palestina. Medical Aid for Palestinians (MAP) menyatakan bahwa kanker payudara adalah jenis kanker yang paling umum diderita oleh perempuan Palestina dan merupakan jenis kanker yang menjadi penyebab kematian tertinggi di kalangan perempuan Palestina. Di tengah gempuran penjajahan yang tak kunjung usai, tingkat harapan hidup perempuan di seluruh wilayah Palestina yang didiagnosis menderita kanker payudara sangat rendah yaitu hanya 40% jika dibandingkan dengan perempuan Israel yang 86% bisa bertahan hidup dengan penyakit yang sama.[4]

Di Gaza, sebanyak 34% dari seluruh kasus kanker merupakan kasus kanker payudara yang diderita oleh perempuan. Tidak banyak data detail yang mengungkapkan kasus terbaru kanker payudara di Gaza, tetapi salah satu penelitian dari National Library of Medicine mengungkapkan bahwa kanker payudara merupakan penyebab kematian akibat kanker terbesar ketiga pada 2018, yaitu sebesar 12%, setelah kanker paru-paru (20%), dan kanker usus besar (13%). Pada 2018, angka kematian akibat kanker payudara mencapai 33 dari 100.000 kasus. Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa kesuburan perempuan Gaza diperkirakan akan terus menurun sehingga angka penderita kanker payudara akan melonjak sebesar 135% di tahun 2040.[5]

Angka perkiraan jumlah penderita kanker dan kematian akibat kanker di Gaza tahun 2018 – 2040

Angka perkiraan jumlah penderita kanker dan kematian akibat kanker di Gaza tahun 2018 – 2040 (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/)

Faktor sosial dan budaya merupakan salah satu sebab yang memengaruhi para perempuan Gaza dengan gejala kanker, sehingga ragu untuk datang ke layanan kesehatan. Ketakutan dan rasa malu saat membahas kanker payudara adalah hambatan utama di Gaza, yang memengaruhi keputusan perempuan untuk segera memperoleh diagnosis.

Dalam sebuah survei oleh Badawi (2016) di sebuah rumah sakit pemerintah di Gaza, 54% perempuan dengan kanker payudara dilaporkan menunda kunjungan mereka ke dokter selama lebih dari 3 bulan setelah timbulnya gejala. Mayoritas perempuan yang diwawancara mengatakan bahwa mereka telah melihat perubahan dalam struktur payudara mereka, tetapi hanya 46% dari mereka yang mengunjungi dokter dalam waktu satu bulan setelah menyadarinya.[6]

Selain itu, penjajahan juga semakin mempersulit akses perempuan Palestina untuk bisa melakukan pemeriksaan medis. Di Gaza, hanya tersedia tujuh mesin mammografi untuk memeriksa kemungkinan kanker payudara, dua mesin untuk skrining dan lima lainnya untuk layanan diagnostik. Sayangnya, mesin-mesin tersebut kondisinya telah rusak dan dikenakan biaya yang sangat mahal untuk satu kali pemeriksaan, sementara sebagian besar warga Gaza hidup dalam kemiskinan.

Di Tepi Barat, lebih dari 60 persen perempuan yang sudah berusia di atas 50 tahun tidak pernah melakukan pemeriksaan mamografi sama sekali. Hal ini disebabkan meskipun layanan mammografi tersedia di semua kota besar, baik di Kementerian Kesehatan, klinik maupun rumah sakit yang dikelola swasta dan LSM, para perempuan Palestina harus berjalan sangat jauh untuk bisa mencapainya karena mereka tinggal di komunitas yang terpencil, dan tentunya harus melewati pos-pos pemeriksaan Israel yang ketat untuk dapat sampai di tempat pemeriksaan.

Akan tetapi, di balik pedihnya penjajahan yang mengepung, para perempuan Palestina selalu memiliki harapan untuk terus bertahan. Tahani (31), adalah salah satu perempuan kuat yang memutuskan untuk melawan penyakitnya dan bertekad tidak akan kalah dari penyakit mematikan tersebut. “Saya harus bertahan dan berjuang, terlepas dari rasa sakit yang saya derita, karena saya memutuskan untuk tidak membiarkan kanker mengalahkan saya.” ia mengatakan.

Tahani mengatakan ia menemukan penyakit ini secara kebetulan ketika ia merasakan munculnya rasa panas dalam tubuhnya, diikuti dengan munculnya benjolan aneh di payudara. Ia saat itu ketakutan, tetapi tekad, kemauan, dan iman adalah alasannya bertahan dari kanker payudara, di samping dukungan orang tuanya. Tahani mengatakan bahwa perjalanan pengobatannya ke luar negeri adalah hal yang sulit dan melelahkan, karena ia berasal dari Jalur Gaza yang diblokade. Ia sangat sulit untuk mengurus rujukan untuk pengobatan yang berulang kali ditolak.

Akan tetapi, perjuangannya yang panjang dan melelahkan akhirnya berbuah manis. “Tiga hari pertama setelah sesi kemoterapi adalah yang terburuk, karena saya lemah dan kelelahan, tetapi dengan tekad kuat, saya mengalahkan penyakit itu dan tingkat kesembuhan saya menjadi 100% setelah kanker mencapai stadium 4 di tubuh saya,” katanya. Ia juga mengirim pesan kepada perempuan secara umum tentang perlunya tindak lanjut dan pemeriksaan penyakit secara berkala, karena mengetahuinya sejak awal membantu untuk bisa pulih lebih cepat.

Pada bulan Oktober yang identik dengan bulan kanker payudara ini, pejuang kanker payudara di Indonesia dan Palestina telah mengirimkan pesan yang sama untuk para perempuan di seluruh dunia: untuk jangan takut memeriksakan diri dan jangan pernah menyerah dengan keadaan. Sebab di balik setiap kondisi, akan selalu ada hal yang bisa diperjuangkan, dan akan selalu ada pelajaran yang diperoleh dari pengalaman.

Pada bulan kanker payudara ini, mari kita bersama-sama menyebarkan pentingnya SADANIS (Periksa payudara klinis) & SADARI (Periksa payudara sendiri) kepada orang-orang terdekat kita, untuk saling membantu dan mendukung dalam mencegah dan menangani kanker payudara.

 

Salsabila Safitri, S.Hum.

Penulis merupakan Relawan Departemen Penelitian dan Pengembangan Adara Relief International yang mengkaji tentang realita ekonomi, sosial, politik, dan hukum yang terjadi di Palestina, khususnya tentang anak dan perempuan. Ia merupakan lulusan sarjana jurusan Sastra Arab, FIB UI.

 

[1] https://www.republika.co.id/berita/r6qlgi348/ykpi-70-persen-pasien-kanker-payudara-datang-pada-stadium-lanjut

[2] https://www.kemkes.go.id/article/view/22020400002/kanker-payudara-paling-banyak-di-indonesia-kemenkes-targetkan-pemerataan-layanan-kesehatan.html

[3] Ibid

[4] https://www.map.org.uk

[5] https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6834385/

[6] Ibid

 

Sumber:

https://www.yayasankankerpayudaraindonesia.org/news-detail.php?id=20

Baca Juga

Nuzulul Qur’an Dua Fase Turunnya Al-Qur`an Bagi yang Mencari Keteguhan Jiwa

Bawa Harapan Akan Masa Depan, Sejumlah Institusi Pendidikan Gaza Kembali Dibuka setelah Dua Tahun

https://www.kemkes.go.id/article/view/22020400002/kanker-payudara-paling-banyak-di-indonesia-kemenkes-targetkan-pemerataan-layanan-kesehatan.html

https://www.republika.co.id/berita/r6qlgi348/ykpi-70-persen-pasien-kanker-payudara-datang-pada-stadium-lanjut

https://www.map.org.uk

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6834385/

http://www.womenfpal.com/news/2022/10/15/اكتوبر–الوردي–تجارب–مع–المرض–وقصص–ملهمة–محفوفة–بالامل

***

Kunjungi situs resmi Adara Relief International

Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini.

Baca berita harian kemanusiaan, klik di dini

Baca juga artikel terbaru, klik di sini

Tags: ApartheidInternasionalPerempuan
ShareTweetSendShare
Previous Post

Dolly Salim, Gadis Belia yang Pertama Kali Menyanyikan Lagu “Indonesia Raya”  

Next Post

Mengapa Kerumunan Memicu Kematian?

Adara Relief International

Related Posts

Anak-anak di Gaza menghafal Al-Qur’an di pengungsian.
Artikel

Nuzulul Qur’an Dua Fase Turunnya Al-Qur`an Bagi yang Mencari Keteguhan Jiwa

by Adara Relief International
Februari 18, 2026
0
23

  Dulu, orang-orang kafir pernah mempertanyakan, “Mengapa tidak Allah turunkan Al-Qur`an dalam jumlatan wahidatan atau secara sekaligus?” dengan nada penghinaan...

Read moreDetails
Anak-anak Gaza kembali bersekolah di sebuah tenda pengungsian (Al Jazeera)

Bawa Harapan Akan Masa Depan, Sejumlah Institusi Pendidikan Gaza Kembali Dibuka setelah Dua Tahun

Februari 10, 2026
39
Ilustrasi pengusiran penduduk Palestina (Decolonize Palestine)

Pembersihan Etnis, Pengusiran Paksa Penduduk Palestina dari Tanah Air

Februari 4, 2026
36
Dermawan yang Hakiki; Memberi Tanpa Diminta

Dermawan yang Hakiki; Memberi Tanpa Diminta

Februari 2, 2026
129
Para pemukim memasang bendera Israel di pagar batu Masjid Ibrahimi di Hebron (MEMO)

Masjid Ibrahimi: Proyek Yahudisasi dan Penghapusan Paksa Identitas Islam di Seluruh Bagiannya

Januari 26, 2026
50
Fidyah: Tebusan yang Menyatukan Hati

Fidyah: Tebusan yang Menyatukan Hati

Januari 20, 2026
1.2k
Next Post
Mengapa Kerumunan Memicu Kematian?

Mengapa Kerumunan Memicu Kematian?

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TRENDING PEKAN INI

  • Fidyah: Tebusan yang Menyatukan Hati

    Fidyah: Tebusan yang Menyatukan Hati

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perjuangan Anak-Anak Palestina di Tengah Penjajahan: Mulia dengan Al-Qur’an, Terhormat dengan Ilmu Pengetahuan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sebulan Setelah “Gencatan Senjata yang Rapuh”, Penduduk Gaza Masih Terjebak dalam Krisis Kemanusiaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Senjata Terlarang Israel “Lenyapkan” Ribuan Warga Gaza

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bantuan Sembako Jangkau Ratusan Warga Sumbar Terdampak Banjir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Currently Playing

✨ 18 Tahun Kebaikan Sahabat Adara Mengukir Senyum Mereka 🇵🇸🇮🇩

✨ 18 Tahun Kebaikan Sahabat Adara Mengukir Senyum Mereka 🇵🇸🇮🇩

00:01:21

Adara Dukung Perempuan Palestina Kembali Pulih dan Berdaya

00:02:17

Berkat Sahabat Adara, Adara Raih Penghargaan Kemanusiaan Sektor Kesehatan!

00:02:16

Edcoustic - Mengetuk Cinta Ilahi

00:04:42

Sahabat Palestinaku | Lagu Palestina Anak-Anak

00:02:11

Masjidku | Lagu Palestina Anak-Anak

00:03:32

Palestinaku Sayang | Lagu Palestina Anak-Anak

00:03:59

Perjalanan Delegasi Indonesia—Global March to Gaza 2025

00:03:07

Company Profile Adara Relief International

00:03:31

Qurbanmu telah sampai di Pengungsian Palestina!

00:02:21

Bagi-Bagi Qurban Untuk Pedalaman Indonesia

00:04:17

Pasang Wallpaper untuk Tanamkan Semangat Kepedulian Al-Aqsa | Landing Page Satu Rumah Satu Aqsa

00:01:16

FROM THE SHADOW OF NAKBA: BREAKING THE SILENCE, END THE ONGOING GENOCIDE

00:02:18

Mari Hidupkan Semangat Perjuangan untuk Al-Aqsa di Rumah Kita | Satu Rumah Satu Aqsa

00:02:23

Palestine Festival

00:03:56

Adara Desak Pemerintah Indonesia Kirim Pasukan Perdamaian ke Gaza

00:07:09

Gerai Adara Merchandise Palestina Cantik #lokalpride

00:01:06
  • Profil Adara
  • Komunitas Adara
  • FAQ
  • Indonesian
  • English
  • Arabic

© 2024 Yayasan Adara Relief Internasional Alamat: Jl. Moh. Kahfi 1, RT.6/RW.1, Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Jakarta 12630

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tentang Kami
    • Profil Adara
    • Komunitas Adara
  • Program
    • Penyaluran
      • Adara for Palestine
      • Adara for Indonesia
    • Satu Rumah Satu Aqsa
  • Aktivitas
    • Event
    • Kegiatan
    • Siaran Pers
  • Berita Kemanusiaan
    • Anak
    • Perempuan
    • Al-Aqsa
    • Pendidikan
    • Kesehatan
    • Hukum dan HAM
    • Seni Budaya
    • Sosial EKonomi
    • Hubungan Internasional dan Politik
  • Artikel
    • Sorotan
    • Syariah
    • Biografi
    • Jelajah
    • Tema Populer
  • Publikasi
    • Adara Palestine Situation Report
    • Adara Policy Brief
    • Adara Humanitarian Report
    • AdaStory
    • Adara for Kids
    • Distribution Report
    • Palestina dalam Gambar
Donasi Sekarang

© 2024 Yayasan Adara Relief Internasional Alamat: Jl. Moh. Kahfi 1, RT.6/RW.1, Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Daerah Khusus Jakarta 12630