Menurut petugas medis, tujuh orang tewas dalam pengeboman Rafah pada Sabtu (6/8). Secara keseluruhan terdapat 43 korban tewas yang diketahui dalam serangan tiga hari Israel, termasuk 15 anak-anak dan empat perempuan, sementara lebih dari 300 warga Palestina lainnya terluka. Proses penyelamatan menjadi sulit karena gang-gang sempit di kamp pengungsian dan jarak antara rumah yang rapat.
Ashraf al-Qaisi (46), mengatakan dia tidak berpikir dua kali sebelum mengizinkan buldoser untuk menghancurkan seluruh rumahnya demi membantu tim penyelamat mengevakuasi tetangganya yang terkubur di bawah puing-puing. “Ini adalah malam tersulit dalam hidup saya,” kata al-Qaisi kepada Al-Jazeera. “Saya sedang duduk di rumah saya bersama istri dan enam anak saya sampai kami tiba-tiba mendengar suara tembakan. Sebagian dari langit-langit runtuh. Salah satu putra saya terluka.”
Al-Qaisi berlari keluar hanya untuk memastikan kondisi rumah tetangganya yang ternyata telah hancur total oleh bom Israel. “Itu adalah saat-saat yang sulit. Darah, bagian tubuh, jeritan di bawah puing-puing, mayat ditarik keluar,” kata al-Qaisi. “Sangat sulit bagi buldoser untuk mencapai rumah yang hancur, jadi saya membiarkan buldoser menghancurkan seluruh rumah saya untuk menyelamatkan tetangga saya di sebelah,” katanya kepada Al-Jazeera ketika dia berdiri di atas puing-puing rumahnya.
Meskipun al-Qaisi menganggur dan tidak memiliki penghasilan untuk menghidupi keluarganya, dia mengatakan dia tidak ragu untuk mengizinkan kru penyelamat untuk menghancurkan rumahnya. “Situasinya sulit saya jelaskan dengan kata-kata,” katanya. “Saya ingin membantu dengan cara apa pun.” “Saya memberitahu dunia bahwa cukup sudah. Peperangan, pengeboman, dan pembunuhan yang terjadi pada kita sudah cukup. Kami lelah. Kami benar-benar lelah,” kata al-Qaisi sambil menggendong putranya yang terluka, Ahmed.
Wissam Joudeh (39), melakukan tindakan persis seperti al-Qaisi. Dia juga mengizinkan buldoser untuk menghancurkan sebagian rumahnya agar tim penyelamat dapat mengevakuasi yang terluka. “Saya sedang duduk bersama keluarga ketika kami mendengar dan merasakan tembakan yang mengguncang tempat itu,” katanya. “Saya keluar dan rudal itu mengenai tepat di belakang rumah kami. Beberapa saat sampai kendaraan pertahanan sipil bergegas masuk, situasinya sangat sulit. Orang-orang yang terluka berteriak di bawah puing-puing … Ada tubuh yang terbakar, dan saat itu sudah larut malam.”
Satu-satunya hal yang bisa ambulans lakukan adalah menghancurkan rumah al-Qaisi dan sebagian rumah Joudeh untuk membantu mengakses lokasi pengeboman. “Meskipun saya baru membeli rumah ini tiga bulan lalu, setelah perjuangan panjang untuk menemukan stabilitas, saya tidak ragu membiarkannya dibongkar untuk mencoba menjangkau mereka yang terluka dan mayat di bawah reruntuhan,” kata Joudeh. “Mereka adalah tetangga saya dan saya sangat sedih dengan apa yang terjadi pada mereka.”
Joudeh meminta komunitas internasional dan kemanusiaan untuk menekan Israel agar menghentikan agresi berulang-ulang di Gaza. “Gaza sendirian. Kami tidak memulai pertengkaran dengan siapa pun. Kami adalah warga sipil yang hanya ingin hidup damai.”
Sumber:
***
Tetaplah bersama Adara Relief International untuk anak dan perempuan Palestina.
Kunjungi situs resmi Adara Relief International untuk berita terbaru Palestina, artikel terkini, berita penyaluran, kegiatan Adara, dan pilihan program donasi.
Ikuti media sosial resmi Adara Relief di Facebook, Twitter, YouTube, dan Instagram untuk informasi terkini seputar program bantuan untuk Palestina.
Donasi dengan mudah dan aman menggunakan QRIS. Scan QR Code di bawah ini dengan menggunakan aplikasi Gojek, OVO, Dana, Shopee, LinkAja atau QRIS.

Klik disini untuk cari tahu lebih lanjut tentang program donasi untuk anak-anak dan perempuan Palestina.







